Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Karena Tubuh Lebih Mengerti

Pada hari Sabtu, 9 Oktober, selesai main musik di sebuah restoran, saya minum es teh tawar di gelas berukuran besar. Tidak lama kemudian, rasa sakit menyerang antara dada dan perut, menjalar hingga punggung dan lama-lama menjadi sesak. Saya langsung dilarikan ke IGD RS Limijati, diperiksa ini itu (hingga dipasangi aneka kabel), diberi penahan rasa sakit dan saat sakitnya hilang, saya meminta untuk pulang. Pemeriksaan saat itu menunjukkan tekanan darah saya mencapai 210. Sesampainya di apartemen, sakit itu datang lagi dan malah lebih parah. Saya kembali masuk ke IGD RS Hermina Arcamanik. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa selain tekanan darah, gula darah saya pun bermasalah.

 

Sekarang sudah hampir seminggu sejak saya keluar dari rumah sakit. Pola makan serta gaya hidup mesti diubah secara total: merokok dari yang sebelumnya bisa dua bungkus per hari, sekarang hanya sebatang per hari; makanan yang dikonsumsi tadinya hampir bebas (ada pantangan sih, tapi saya sering diam-diam makan apa saja di belakang pengawasan istri), sekarang jadi tidak boleh terlalu manis dan terlalu asin; selain itu, makanan juga sebisa mungkin jangan yang dari hasil pengawetan, melainkan diolah langsung dimakan dalam waktu relatif singkat. Soal yang terakhir, saya hampir tidak ada masalah karena apartemen yang kami tinggali lokasinya bersebelahan dengan pasar jadi ya memang sehari-hari kami makan seperti itu: beli bahan segar pagi-pagi sekali untuk dimasak langsung. 

Perubahan gaya hidup dan pola makan memang rumit, tetapi dampaknya dalam beberapa hari ini cukup positif. Meski sempat lemas pada mulanya, tapi setelah beradaptasi, saya langsung sadar bahwa selama ini ternyata saya hidup di dalam "tubuh yang rusak". Jujur, saya tidak pernah tidur yang benar-benar pulas atau berada dalam kondisi tubuh yang dikatakan fit. Meski aktivitas saya banyak, tetapi semua dijalankan hanya berdasarkan semangat yang tinggi saja, bukan karena kondisi fisik yang memadai. 

Ternyata benar bahwa tubuh adalah penanda perubahan waktu yang paling kuat. Pikiran saya bisa ada pada ketetapan tertentu, tetapi tubuh tidak bisa: ia berubah dan pada usia tertentu, pelan-pelan mengalami penurunan. Hal ini merupakan hukum alam yang tidak bisa ditolak dan membayangkan sebaliknya justru malah semakin mengerikan: muda terus, bertenaga terus, aktif terus. Jika orang terus menerus dalam keadaan sehat secara fisik, tidakkah matinya ia hanya dimungkinkan oleh suatu bencana atau dibunuh oleh manusia lain? Bukankah itu kematian yang lebih tidak menyenangkan? 

Terakhir, soal kematian. Harus diakui pada kondisi rasa sakit yang tidak tertahankan, bayangan kematian itu begitu dekat. Namun saat ada pada situasi itu, ternyata tidak banyak yang jadi pikiran: saya tidak peduli pada orang lain atau apa-apa yang akan saya tinggalkan. Saya hanya peduli pada diri sendiri dan fokus menghadapi Ketiadaan. Apakah orang lain kemudian akan sedih atau membicarakan saya setelah mati, itu sama sekali bukan pertimbangan penting dalam kondisi yang genting. 

Sekarang saya mencoba menjalani hidup sebisa-bisa. Lucunya, saat pernah ada dalam kondisi katakanlah hampir-hampir mati, sekarang hidup malah lebih rileks. Ada beberapa hal yang karena saya sudah "mengerti", kemudian menjadi tidak perlu berkata-kata banyak tentangnya. Apa itu? Tentu saja, saya tidak bisa mengatakannnya..

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip