Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

(Mencoba) Memahami Ted Kaczynski

Beberapa hari terakhir ini, saya mengisi waktu luang dengan menonton film dokumenter tentang Ted Kaczynski yang berjudul Unabomber: In His Own Words. Film dokumenter tahun 2020 ini menceritakan tentang Ted Kaczynski, doktor matematika lulusan Universitas Michigan yang bertransformasi menjadi apa yang disebut FBI sebagai "teroris domestik". Ted melakukan serangkaian teror bom selama tujuh belas tahun, dari mulai tahun 1978 hingga tahun 1995, melukai 23 orang dan menewaskan tiga orang. Film dokumenter yang terdiri dari empat episode tersebut mengambil sudut pandang dari Ted sendiri berdasarkan hasil wawancara, serta sudut pandang lain seperti dari tetangga Ted, adik yang kemudian melaporkannya, David Kaczynski, sejumlah agen FBI, para korban, serta beberapa orang lainnya yang dianggap berkaitan. 

Film tersebut menarik dan cukup berimbang dalam memberikan perspektif. Di satu sisi, Ted digambarkan sebagai seseorang yang mengalami masalah mental, tetapi di sisi lainnya, kejeniusan Ted juga tidak diabaikan, sebagai seorang akademisi matematika cemerlang yang kemudian mempunyai perspektif radikal berkenaan dengan lingkungan. Meski diwarnai oleh sikap emosional yang berangkat dari masalah personal, tetapi Ted, tidak bisa dipungkiri, cukup jernih dalam mengurai persoalan teknologi dan industrialisasi, serta pengaruhnya pada pengrusakan lingkungan. Di sini saya akan mengutip bagian awal tulisan Ted sendiri dalam Manifesto Unabomber yang telah diterjemahkan:

"Revolusi Industri beserta segala konsekwensinya telah menjadi sebuah bencana bagi ras manusia. Ia telah meningkatkan dengan pesat harapan hidup mereka yang tinggal di negara-negara “maju”, tetapi juga telah mendestabilkan masyarakat, membuat hidup menjadi tak dapat terpenuhkan, menjadikan manusia sebagai subyek yang kehilangan harga diri, mendorong pada penderitaan psikologis yang meluas (termasuk penderitaan fisik di negara-negara Dunia Ketiga) dan telah memicu berbagai kerusakan pada lingkungan alam. Pengembangan teknologi yang berkesinambungan akan memperparah situasi. Ia dengan gamblang akan menjadikan manusia sebagai subyek terbesar penghilangan harga diri dan memicu kerusakan terbesar pada lingkungan alam, ia juga mungkin akan mengarah pada kekacauan sosial dan penderitaan psikologis yang jauh lebih besar lagi, dan juga bukan tak mungkin akan mengarah pada penderitaan fisik bahkan juga di negara-negara “maju”."
Di bagian-bagian berikutnya, Ted bahkan secara mengejutkan banyak masuk pada aspek psikologis dan pemikirannya mempunyai banyak kemiripan dengan Sigmund Freud dalam Civilization and its Discontents:
"Seseorang mungkin menjadi marah, tetapi masyarakat modern tidak memperbolehkan adanya perkelahian. Dalam banyak situasi, bahkan agresi verbal pun dilarang. Saat seseorang mungkin sedang terburu-buru untuk pergi ke suatu tempat, atau mungkin seseorang sedang dalam mood yang tepat untuk bepergian dengan santai, secara umum tak seorangpun memiliki pilihan selain bergerak mengikuti arus lalu lintas dan mematuhi rambu-rambunya. Seseorang mungkin ingin melakukan sebuah pekerjaan dengan cara yang berbeda, tetapi biasanya seseorang hanya dapat bekerja sesuai dengan aturan-aturan yang telah diberikan oleh majikannya. Dalam banyak hal lain juga, manusia modern terikat kencang oleh sejumlah jaringan aturan dan regulasi (eksplisit ataupun implisit) yang membuat frustrasi banyak impuls-impuls yang dimilikinya dan karenanya menghambat proses penguasaan. Kebanyakan aturan-aturan tersebut tak tergantikan, karena hal-hal tersebut penting bagi masyarakat industri agar dapat beroperasi dengan baik."

Dari dua kutipan di atas, saya tidak bisa tidak setuju dengan Ted. Termasuk pada bagian-bagian lainnya, misalnya bagaimana ia memandang kritis terhadap ideologi kiri, pandangannya terhadap hak-hak konstitusional yang disebutnya sebagai "konsepsi kebebasan borjuis" ataupun pendapatnya tentang masyarakat teknologikal yang tidak dapat dibagi-bagi ke dalam komuniti-komuniti otonom yang kecil (karena produksinya yang tergantung pada kerjasama sejumlah besar orang). Ted memandang peradaban dengan begitu sinis dan ini merupakan cara pandang yang sudah muncul di masa klasik lewat katakanlah, Antisthenes ataupun Diogenes. Mereka semua sama-sama melihat peradaban sebagai cara hidup yang "dipaksakan", yang tidak sejalan dengan kehendak alam. Jalan keluarnya adalah mengambil jarak: melakukan cara hidup yang primitivistik sekaligus anarkistik. 

Seiring dengan perkembangan cara berpikir saya, saya sejujurnya bisa sepenuhnya mengerti pandangan Ted. Hal tersebut semakin menguat setelah saya membaca teks-teks Jacques Ellul dan Pentti Linkola. Linkola misalnya, menganggap manusia telah mengalami kelebihan populasi yang membuat alam menjadi senantiasa mesti "mengalah". Ada eksploitasi yang tidak berhenti akibat kelebihan populasi dan juga pandangan berlebihan (terutama dari agama dan juga humanisme) tentang manusia sebagai pihak yang diberi "amanat" untuk mengelola alam. Linkola, sama halnya dengan Ted, memberi sinyal bagus terhadap kematian manusia dalam jumlah yang lumayan, demi memberi napas bagi alam agar tidak terus menerus digerogoti. 

Di tengah persetujuan saya pada ide-ide Ted, muncul pertanyaan dalam diri: Apakah saya terlalu pengecut untuk menuangkan gagasan-gagasan tersebut hanya dalam kuliah-kuliah dan teks di media sosial, tanpa pernah sekalipun melakukan aksi nyata seperti yang dilakukan Ted? Apakah saya terlalu pengecut untuk hanya mengritik industrialisasi dan kapitalisme, tetapi diam-diam menikmati menjadi bagiannya, yang berarti pada titik tertentu, saya bisa dikatakan hipokrit? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berkelebat tanpa bisa benar-benar saya jawab. 

Hanya saja, ada sejumlah pertanyaan lain yang bisa diajukan (khas filsafat, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan) yaitu berikut ini: 

  1. Apakah Ted sedang mempraktikkan apa yang disinggung Dostoyevsky sebagai "semakin kita cinta kemanusiaan, semakin kita benci orang per orang"? Tulisan Ted menunjukkan bahwa ia begitu cinta pada kemanusiaan sampai-sampai membela kebebasan manusia yang direnggut oleh industrialisasi. Ted ingin manusia bebas, tetapi bukan bebas yang dijamin oleh konstitusi atau bebas yang artifisial di bawah jejaring sistem industri, melainkan bebas sepenuhnya, berlandas pada otonominya sendiri. Ted cinta kemanusiaan dan bahkan terlalu mencintainya, hingga ia menjadi "fetish" pada gagasannya ketimbang pada praktik mencintai secara konkret. 
  2. Apakah kekecewaan Ted terhadap industrialisasi adalah semacam "hipokritisme Barat" yang mengalami pertobatan ekologis, setelah ratusan tahun menikmati keuntungan dari revolusi industri? Mengapa tiba-tiba "orang-orang Barat" menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan setelah mereka sendiri secara historis mengeksploitasinya? Sementara kita, "orang-orang non-Barat" yang belum lama mengalami industrialisasi, tiba-tiba harus menanggung kerugiannya bersama-sama. 

Atas segala rasa muak terhadap industrialisasi, saya sempat berpikir seperti Ted dalam versi yang lebih ringan: hidup menjauh dari peradaban dan tinggal di wilayah yang lebih dekat dengan alam untuk mempraktikkan hidup yang sesuai kehendak alam tanpa dicemari oleh cara hidup orang modern yang rakus akibat ketakutan akan mati. Di sana mungkin saya akan hidup lebih tenang tanpa perlu bergesekan secara hati nurani. Saya ingin hidup seperti Ted, juga Thoreau di Walden, ataupun Linkola, sekaligus mengikuti pola pikir Rousseau tentang "noble savage". Saya ingin hidup di alam liar seperti Alexander Supertramp di film Into the Wild

Namun ada hal yang menghalangi, yang membuat saya belum juga melakukan itu. Pertama, jika saya melakukannya, mungkin saya bisa jadi hanya terbuai akan gagasan tentang kemanusiaan di kepala sendiri, tanpa benar-benar mau bergaul dengan manusia. Kedua, saya tetap bisa dikatakan hipokrit karena pernah menjadi bagian dari industrialisasi, lalu kemudian meninggalkannya tanpa "bertanggung jawab". Artinya, saya membiarkannya tetap berjalan seperti biasa, menggerus kemanusiaan, dan saya tidak peduli lagi dengan memilih hidup yang berjarak. Apa yang membuat saya belum pergi mungkin adalah ini: saya ingin menjadi sekrup yang buruk untuk segala sistem industrialisasi dengan terus menerus mengritiknya. Jika saya melepaskan diri dari posisi sebagai sekrup, sistem tinggal menggantinya dengan sekrup lain yang membuat roda-roda tetap bisa berjalan. 

Ted keren, tetapi ia tidak sanggup mengoherensikan gagasan antara kemanusiaan secara esensi dan manusia secara eksistensi. Ted keren, tetapi ia "kabur" dari peradaban sebagai rahim yang membuat ia terlahir dengan pemikiran semacam ini - pemikiran anti peradaban itu sendiri -. Ted keren, tetapi ia mempunyai setitik pemikiran bahwa ia merupakan manusia unggul, lebih baik dari masyarakat yang dibencinya. Soal terakhir ini persis seperti kritik Crates terhadap orang-orang sinis pendahulunya yaitu Antisthenes dan Diogenes. Menurut Crates, Antisthenes dan Diogenes mengambil jarak dari peradaban, karena mereka merasa lebih tinggi dari orang-orang yang dikritiknya. Padahal, menurut Crates, belum tentu. Itu sebabnya Crates enggan mengambil jarak dari masyarakat. Ia memilih untuk tinggal bersamanya, sekaligus mencari-cari kekurangan diri yang mungkin bisa diperbaiki dengan bercermin pada orang lain. Sikap Crates tersebut, meski terdengar klise, mungkin menjadi penyebab lain mengapa saya masih bertahan bersama peradaban dan belum tertarik untuk menghancurkannya.

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip