Pada tanggal 21 Agustus 2024, seorang perempuan, mantan mahasiswi, menjangkau saya via DM Instagram untuk mengucapkan simpati atas hal yang menimpa saya. Singkat cerita, kami berbincang di Whatsapp dan janjian untuk berjumpa tanggal 6 September 2024 di Jalan Braga. Tidak ada hal yang istimewa. Dia sudah punya pacar dan juga memiliki mungkin belasan teman kencan hasil bermain dating apps . NK baru saja bercerai dengan membawa satu anak lelaki. Dia adalah mahasiswi yang saya ajar pada sekitar tahun 2016 di sebuah kampus swasta. Dulu saya tidak punya perhatian khusus pada NK karena ya saya anggap seperti mahasiswa yang lainnya saja. Namun belakangan memang dia tampak lebih bersinar karena perawatan diri yang sepertinya intensif. Selain itu, bubarnya pernikahan selama sebelas tahun membuatnya lebih bebas dan bahagia. Sejak pertemuan di Jalan Braga itu, saya tertarik pada NK. Tentu saja NK tidak tertarik pada saya, yang di bulan-bulan itu masih tampak berantakan dan tak stabil (fisik, ...
Sejak terjun di dunia bisnis, saya menyadari sesuatu tentang dikotomi akademisi - praktisi. Memang kelihatannya praktisi ini adalah orang yang bergelut dengan kenyataan, langsung pada persoalan riil, menghadapi risiko nyata. Sementara akademisi, terutama di mata praktisi, tampak sebagai orang yang cuma bicara teori, "bacot doang", sementara masalah-masalah di lapangan seringkali berbeda dengan yang diteorikan (begitu ujar si praktisi).
Memang ada benarnya. Ketika terjun berdagang, banyak hal baru yang saya pelajari, yang tak pernah saya bayangkan selama belasan tahun menjadi akademisi. Misalnya, soal perencanaan. Akademisi biasanya jago soal membuat rancangan, merumuskan dari A sampai Z, hingga memperhitungkan risiko terburuk, sehingga seolah setiap langkah akan mampu diantisipasi.
Namun dunia praktik tak selalu bisa dijalankan sesuai rancangan. Rancangan bisa terus berubah mengikuti keadaan. Bahkan keadaan ini juga seringkali sukar dimengerti. Sebagai contoh, saya sudah merasa dagangan saya ini prima, dengan bahan-bahan terbaik, lokasi yang bagus, dekorasi yang lumayan. Tetapi bisa saja di suatu periode yang buruk, penjualan tidak ada sama sekali. Teori pemasaran mana yang bisa bikin saya mengerti hal tersebut?
Sementara fase yang buruk tersebut bukanlah sesuatu yang hipotetikal, berada dalam perandai-andaian, melainkan nyata, sungguh-sungguh mengancam: saya makan sehari-hari bagaimana? Pegawai saya digaji bagaimana? Modal untuk menyambung jualan bagaimana? Disinilah mengapa praktisi sering mengklaim dirinya lebih tangguh ketimbang akademisi. Akademisi mungkin memikirkan semua itu, termasuk periode buruk dalam berbisnis, tetapi hanya dalam andaian-andaian di ruang kelas saja. "Profesor bisnis gakan bisa praktik langsung dagang dawet," begitu kata bos pemilik lapak es dawet yang berdagang di sebelah lapak roti saya.
Tapi begitu superiornya kah seorang praktisi di hadapan akademisi? Benarkah akademisi tak lebih dari sekadar orang yang "cuci tangan di hadapan realitas"? Meski saya sekarang sepenuhnya belajar praktik berbisnis, saya merasa nalar akademik tak pernah benar-benar meninggalkan.
Apa itu nalar akademik? Yakni nalar dalam hal mencermati pola-pola, yang dengan tekun dan hati-hati melakukan zoom in zoom out atas satu per satu fenomena: mengamati secara mikro mulai dari posisi stiker yang ditempel pada kemasan, di mana sebaiknya roti-roti ditempatkan, sampai musik apa yang sebaiknya dimainkan. Sikap semacam ini diturunkan dari sejak Aristoteles, yang memilih untuk menelaah objek secara seksama, ketimbang melakukan derivasi segala-gala kenyataan dari dunia ide macam yang dijalankan oleh Platon.
Nalar akademik tak berhenti di sana, melainkan juga meneropong dari kejauhan: membaca pola perilaku konsumen di jam tertentu, hari tertentu, minggu-minggu tertentu; melihat tren pasar, psikologis para pedagang tenant secara umum, sampai mekanisme kekuasaan yang berjalan dari pucuk Griya sebagai penentu kebijakan, sampai turunannya dalam bentuk satpam dan kasir.
Perkara apakah nalar akademik berhasil membuat dagangan roti saya menjadi laku, itu urusan lain. Poinnya, begitulah kira-kira kerja akademisi: melakukan zoom in zoom out. Permasalahannya, terutama dalam melakukan zoom out, kadang kondisi sekitar mesti lebih tenang. Zoom out artinya membiarkan pikiran melakukan pengembaraan, menerawang dari ketinggian. Dalam konteks akademisi di sekolahan, ruang kelas itulah yang dipandang cukup ideal untuk tubuh supaya bebas dari tekanan eksternal, bisa fokus pada pengamatan dari kejauhan. Disinilah akademisi dituding elitis, "cuci tangan dari kenyataan".
Perlu diingat, dalam benak si praktisi, mereka tak melulu cuma bergulat dengan kompleksitas dari realitas, mengatasi satu per satu persoalan yang datang. Pada suatu fase, mereka ingin merumuskan semua perjuangan itu, menjadi semacam "buku manual" yang cukup merangkum pengalamannya. Disitulah si praktisi bertransformasi menjadi akademisi. Ketika pikirannya mulai ingin dibaca, ditiru, diikuti sebagai sebuah formula.
Comments
Post a Comment