Pages

Downfall (2004): Menengok Sisi Lain Sang Diktator

Downfall (2004)

 

Sudah lama saya ingin menonton film Downfall (2004) setelah entah berapa kali menonton parodinya di YouTube. Bahkan sempat dalam beberapa minggu, ritual saya sebelum tidur adalah menonton parodi Downfall hingga mengantuk. Parodi-parodi tersebut begitu lucu dan kreatif, hingga kadang terlalu kejam karena nilai-nilai dalam filmnya menjadi terdistorsi. Dalam adegan-adegan yang mestinya tegang, secara otomatis saya langsung ingat versi parodinya sehingga alih-alih ikut tegang, malah jadi tertawa geli. 

Downfall adalah film yang menceritakan tentang babak akhir Perang Dunia II saat baik pasukan Sekutu maupun pasukan Uni Soviet sudah makin mendekat ke Berlin. Adolf Hitler, pemimpin partai Nazi yang terkenal dengan kediktatorannya, menyusun strategi pamungkas bersama para jenderalnya untuk mengatasi serbuan tersebut. Sebagaimana film yang mengangkat tema perang, Downfall juga menyajikan adegan tembak menembak dan pengeboman. Namun bukan itu yang menjadi fokus utamanya, melainkan bagaimana suasana mencekam di F├╝hrerbunker, tempat berlindung terakhir bagi Hitler, para jenderal, maupun petinggi partai. 

Dalam kondisi terdesak, kita dapat melihat bagaimana sifat naluriah manusia untuk bertahan hidup bermunculan dan pada akhirnya bagi sebagian orang, ideologi dikesampingkan. Hal inilah yang kelihatannya ingin diperlihatkan oleh sutradara Oliver Hirschbiegel, bahwa Hitler dan orang-orang dekatnya adalah manusia biasa dengan segala ketakutannya akan mati. Bahkan orang sedingin Joseph Goebbels, Menteri Propaganda Nazi, tampak terguncang saat memutuskan harus membunuh anak-anaknya sendiri dengan sianida. 

Harus diakui bahwa film ini menjadi dramatis karena peran aktor Bruno Ganz yang bermain sebagai Hitler. Ekspresi yang ditampilkan oleh aktor asal Swiss itu begitu kuat sehingga menimbulkan perasaan campur aduk atas pandangan saya atas sosok sang diktator. Perasaan benci tentu mendominasi, tetapi ada sisi kasihan, dalam artian, orang ini "sakit", ia terpenjara impiannya sendiri tentang Third Reich sehingga meski sudah sangat terdesak, Hitler tidak mau percaya bahwa kekalahannya akan terjadi dalam hitungan jam. Satu per satu pengikutnya pergi, ada yang pamit baik-baik, ada juga yang berkhianat diam-diam, dan Hitler tetap berpegang teguh pada prinsipnya, ibarat Sokrates yang memilih untuk mati ketimbang menerima pendapat orang lain bahwa selama ini ia telah keliru. 

Kebetulan saya punya semacam fetish terhadap segala sesuatu yang berbau Perang Dunia II. Asal-usul fetishisme ini entah darimana, yang pasti, saya rajin sekali nonton film-film dengan tema tersebut, termasuk yang ditampilkan dengan gaya dokumenter. Bagi saya, Downfall adalah salah satu film terbaik yang mengambil latar Perang Dunia II. Alasannya, kita diajak menengok situasi perang sebagai hal yang bangkrut dari peradaban, lewat penggambaran dari orang per orang, bukan dari sebuah lanskap pertempuran.

Syarif Maulana

No comments:

Post a Comment

Instagram