Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2011

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifika

Etika Mexican Standoff

Jika kamu terjebak dalam situasi seperti ini, apa yang kamu lakukan? Saya tahu istilah mexican standoff dari film-film Quentin Tarantino. Ia sering sekali, atau bisa dibilang selalu, menyelipkan adegan seperti ini di karyanya. Mexican standoff adalah posisi sama kuat yang mana kedua pihak mengalami keadaan yang sama-sama berbahaya, sama-sama terjepit, dan mesti ada kompromi yang serius agar keduanya bisa selamat. Istilah ini biasa dipakai dalam film koboi ketika dua atau lebih gunman sedang saling todong senjata. Namun situasi mexican standoff bisa kita temui dalam berbagai problem etis. Ada dua hal yang bisa dilakukan dalam situasi seperti ini: 1. Mundur. Kedua-duanya tidak menembak meskipun ini butuh persetujuan dari keduanya. Biasanya ini dilakukan setelah diplomasi lewat dialog. 2. Pre-emptive strike atau menembak duluan. Ini adalah inisiatif dari masing-masingnya untuk menembak sebelum ditembak. Sesuatu yang pasti menimbulkan korban. Sehubungan dengan dialog saya dengan kawan

Intuitive Philosopher

“There is more wisdom in your body than in your deepest philosophy.” (Nietzsche) Pernahkah kita, yang berpendidikan tinggi, menuduh secara tak berdasar bahwa tukang becak tidak punya pengetahuan sedikitpun tentang filsafat Kant? Pernahkah kita, anak muda penuh gelora yang segala wawasan adalah bagai anggur kebenaran, menuduh ibu kita tak punya pemahaman tentang filsafat Sartre, apalagi Hegel? Pernahkah kita, melihat tukang martabak manis dan menganggap konyol bahwa dia punya secuil pengetahuan tentang filsafat Plato? Bahkan kalau ia ditanya tentang Plato, mungkin akan bertanya balik: keju merk baru ya? Saya pernah, dan barangkali masih, menganggap ibu saya terutama, tidak punya pengetahuan apapun tentang filsafat. Beliau berpikiran common , hanya ingin anaknya soleh, berhasil, selamat, sukses, dan berbakti. Tidak ada mungkin suatu pikiran bahwa anaknya harus jadi seorang yang misalnya: Mengguncang urat nadi metafisika Jerman . Setiap saya tidak setuju dengan ibu, saya kerap mendebat da

Siddhartha (1922) Membangunkanku Lagi

  Siddhartha , sebuah novel dari Herman Hesse, saya baca untuk kedua kalinya setelah sekitar empat tahun berlalu. Saya berterimakasih pada seorang sahabat, Indra Permadi yang mengenalkan saya pada novel ini pada sekitar tahun 2008. Saya sendiri pernah membuat review -nya di blog yang lama yang tidak pernah di- update lagi. Novel ini, dibaca kemarin dengan dibaca empat tahun lalu, masih punya daya magis bagi saya. Masih memiliki daya getar yang hebat sehingga mampu membangunkan saya dari tidur dogmatis (persoalannya, apakah ketika saya bangun dari tidur, itu justru saya berada di mimpi berikutnya seperti film Inception ?). Siddhartha adalah kisah tentang Siddhartha, pemuda yang melakukan perjalanan spiritual. Novel ini bercerita tentang pergulatan batinnya yang terbagi dalam beberapa tahap yang mengagumkan (jangan terlalu kecewa jika saya paparkan jalan ceritanya disini, karena gaya tutur Hesse masih tetap mengasyikan untuk dibaca): Siddhartha sebagai seorang remaja yang cerdas, anak

Problem Bahasa

Tentunya beberapa dari kita sudah tahu cerita tentang menara Babel. Cerita yang diambil dari Perjanjian Lama itu, mengisahkan tentang manusia yang bermigrasi dari Timur. Mereka, yang tengah berlokasi di Shinar, berencana membuat kota dengan menara di dalamnya. Menara itu bukan sembarang menara, mereka ingin menara maha tinggi yang bisa mencapai Tuhan. Namun Tuhan mencium arogansi ini, tanpa tedeng aling-aling Ia menghancurkan rencana para manusia. Caranya? Mudah saja. Tuhan membuat manusia menjadi berbeda-beda bahasa. Sejak itulah mereka tidak sanggup menyelesaikan menara tersebut. Bahasa tentu saja punya andil dalam peradaban manusia. Ia boleh kita sebut sebagai ekspresi dari pikiran. Apa yang kita pikirkan bisa dieksplisitkan, kemudian menjadi simbol yang dimengerti orang lain. "Kesepakatan" juga menjadi aspek penting dalam bahasa, karena apa yang dimaksud "mengerti bahasa", adalah berarti juga memahami apa yang disepakati. Namun seperti halnya teknologi, seperti