Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2013

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Tukang Gorengan

Selepas membeli kelapa muda, saya mendadak ingin sejenak menepi di tukang gorengan itu. Tukang gorengan yang pernah berbincang dengan saya setahun lalu tentang apa-apa yang tidak saya mengerti. Sekarang saya memutuskan untuk duduk di tempat itu lagi dengan terlebih dahulu mengatakan bahwa saya akan membeli gorengannya sebanyak lima buah untuk dimakan di tempat.  Saya mengatakan sesuatu untuk memancing dirinya bicara, yaitu kabar tentang anaknya. Dia bilang anaknya sekarang sudah ada dua yang hampir bekerja, satu hampir lulus STM, satu lagi sedang magang menjadi akuntan di satu kantor. Oh, memang anak bapak berapa? Dia jawab lima dan semuanya bersekolah. Lalu saya bertanya dengan sebuah keimplisitan a la orang modern yang selalu ingin tahu tentang "Dari mana kamu dapat uang untuk semua itu?" dengan dibungkus pertanyaan, "Oh, istri kerja, Pak?" Tukang gorengan itu menjawab, "Tidak, kalau istri bekerja, bagaimana bisa mengurus anak yang jumlahnya lima?"

Profesionalisme

Dalam Mahabharata, terdapat satu kisah yang cukup terkenal bernama Bhagavad Gita. Ini adalah cerita tentang bagaimana kegalauan Arjuna ketika akan berhadapan dengan saudara-saudaranya sendiri yaitu Kurawa. Arjuna kemudian mengadukan keluh kesahnya ini pada Dewa Krishna tentang dilema moral apakah ia sebaiknya berhenti atau meneruskan pertarungan walaupun dengan risiko membunuhi saudara-saudaranya. Jawaban Dewa Krishna adalah, "Kamu adalah prajurit, tugasmu berperang. Biarkan mencabut nyawa menjadi urusanku." Etika yang ditawarkan Bhagavad Gita cukup jelas. Moralitas tertinggi dari bekerja adalah pekerjaan itu sendiri dan bukan konsekuensi dari pekerjaannya. Ini mungkin juga semacam seruan bagi kita yang kadangkala meremehkan pekerjaan orang lain yang gajinya kecil atau punya nilai status sosial rendah di mata masyarakat. Mengacu pada apa yang diucap oleh Dewa Krishna, mereka adalah mulia jika bekerja sepenuh hati. Kemudian dunia modern mengenal konsep profesionalisme

Musik dari Dalam, Musik dari Luar

  Musik klasik adalah musik yang amat direkomendasikan sebagai dasar bagi segala jenis musik. Kita diberinya pelajaran tentang penjarian, ritem, melodi, harmoni, dinamika, penghayatan, kalimat musik, dan lain-lain secara lengkap dan komprehensif. Saya belajar musik klasik sejak sekitar lima belas tahun yang lalu dan bisa dibilang secara formal dan tersertifikasi, pengetahuan-pengetahuan yang disebutkan di atas sudah saya kuasai. Namun apakah dengan demikian saya sudah mengerti apa itu musik? Ternyata tidak sama sekali. Misalnya, saya belajar untuk mempelajari tanda-tanda dinamika dalam rangka mencapai satu penghayatan yang maksimal. Saya mengetahui segala rambu-rambu musikal mulai dari pelan, keras, semi-pelan, semi-keras, hingga gradasi dari pelan ke keras ataupun sebaliknya. Namun ketika saya main dengan musisi bermusikalitas tinggi semisal Kang Ammy Kurniawan, pengetahuan tentang tanda dinamika yang canggih itu mendadak hilang. Saya bingung luar biasa dan seperti anak baru belaj

Habitat

Agaknya setiap orang, dalam dirinya sendiri, ada keinginan untuk memperbaiki dunia agar menjadi lebih baik. Namun niat tersebut sering jatuh pada godaan utilitarian, yaitu keinginan agar orang banyak langsung mendapat manfaat secara instan dari apa yang kita pikirkan maupun lakukan. Hal ini bukannya buruk, tapi kita bisa lihat contoh bagaimana "produksi massal kebaikan" biasanya hanya akan menguap begitu saja seiring dengan histeria yang juga selesai. Seminar motivasi, parpol yang mengadakan dangdutan atau bagi-bagi sembako, Koin Prita, gerakan ribuan orang entah apa untuk meraih rekor MURI, semuanya adalah contoh betapa utilitarianisme sering ditafsirkan secara keliru. Saya sekarang akan memberi contoh dari teman-teman saya sendiri: Ada Mas Yunus yang mengajar dari SMA ke SMA sebagai guru seni rupa; Ada Ping yang juga sama-sama guru seni rupa tapi ia mengajar untuk anak-anak SD; Ada Diecky yang jadi dosen di Kalimantan; Ada Bilawa yang tinggal di Jerman, di sebuah kota k