Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2014

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifika

Norwegian Wood: Absurd, Erotis, dan Eksistensial

Pertama kali saya mendengar nama Haruki Murakami adalah dari seorang kawan bernama Heru Hikayat. Tidak banyak yang diceritakan Mas Heru soal siapa Murakami ini. Ia cuma bilang bahwa Murakami adalah seorang penulis yang juga rajin mengikuti kompetisi maraton. Pernah Mas Heru mengirimi beberapa cerita pendek yang ditulis oleh Murakami tapi saya mengabaikannya. Namun entah kenapa, di suatu Sabtu ketika saya sedang berjalan-jalan di toko buku, ada buku Norwegian Wood  terpajang di jajaran buku unggulan. Ada energi aneh yang menarik saya untuk membelinya.  Buku ini memang mempunyai energi yang aneh sekali. Jika kamu ingin tahu apa yang diceritakan dalam Norwegian Wood , maka saya akan mengatakan bahwa buku ini tidak lebih dari sekadar percintaan remaja usia 20-an. Dua orang saling mencintai, lalu terdapat orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya sehingga suasana menjadi repot. Namun yang menjadi titik berat Murakami adalah bagaimana ia menceritakan kisah cinta itu. Meski ceritany

Gadis Kretek: Antara Kretek, Sejarah, dan Stereotip (Saya) yang Terselamatkan

Harus diakui bahwa saya bukanlah penikmat karya sastra lokal, kecuali jika itu menyoal karya-karya dari angkatan lama. Skeptisitas saya sebenarnya boleh dibilang tidak beralasan. Mungkin lebih tepatnya disebabkan karena trauma setelah membaca Dwilogi Padang Bulan, Sembilan Matahari,  dan Negeri Lima Menara yang banyak berkelit dengan kemahatahuan si penulis padahal ujung-ujungnya menyisipkan pesan yang pasti laku di negeri kita: Tentang sikap pantang menyerah agar cita-cita kita, setinggi apapun, dapat tercapai.  Ketika saya disodori  Gadis Kretek  oleh rekan kerja untuk dibaca, saya tidak langsung mengiyakan. Saya bertanya ini-itu terlebih dahulu sekadar memastikan bahwa buku karya Ratih Kumala ini bukanlah buku motivasi. Katanya, baca saja, akan menegangkan terus sampai halaman terakhir. Ternyata memang iya, novel Gadis Kretek setebal 274 halaman tersebut memang pandai sekali menciptakan kepenasaranan bagi pembacanya. Dari awal hingga akhir sulit sekali untuk menebak jalan