Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2010

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Mbah Maridjan

"Guru, apakah yang pertama kau lakukan jika memerintah sebuah negara?" "Satu-satunya hal yang dilakukan adalah pembetulan nama-nama. Hendaknya seorang penguasa bersikap sebagai penguasa, seorang menteri bersikap sebagai seorang menteri, seorang bapak bersikap sebagai seorang bapak dan seorang anak bersikap sebagai seorang anak." (Konfusius dari Analek 13:3) Dihadapkan pada situasi posmodern sekarang ini, kalimat agung Konfusius di atas jelas saja dipertanyakan. Posmodern paling gemar rekonstruksi, dekonstruksi, serta menghancurkan sebuah bangunan konseptual, tanpa membangun apa-apa di atas puingnya. Sasaran gugatan tentu saja: Apa itu "sikap penguasa"? Apa itu "sikap seorang menteri"? Dan seterusnya. Tidakkah segala-galanya tak bisa didefinisikan sesaklek itu? demikian koar posmo. Tapi Konfusius tak berpikir serumit itu. Bisa jadi ia dianggap kuno, bodoh, karena standar pemikiran Barat: Bahwa sesuatu yang masuk akal, adalah yang terjelaskan denga

Kafé dan Waktu Senggang

Terus terang, saya adalah orang yang cukup skeptik dengan kafé. Seperti simbol kapitalis yang dingin, tempat berkumpulnya para borjuis memperjuangkan eksistensinya, serta pendirian latar suasana yang palsu di tengah keruwetan kota. Tapi entah kenapa, hari ini saya begitu ingin ke kafé. Saya bosan dengan suasana perpustakaan, dan ingin mencoba menulis tesis di kafé. Saya punya motivasi terselubung juga, ingin tahu kenapa kafé begitu digemari. Begitu menjadi idaman orang untuk berdiam diri di tengah cengkraman rutinitas. Dan jika memang tesis sudah menjadi rutinitas saya, maka bolehlah saya mencoba obat yang selama ini tampak mujarab secara massal. Obat, meski pahit, jika mujarab, kenapa tidak? Saya datang pagi-pagi buta, ke sebuah kafé di Jalan Burangrang. Mereka sedia sarapan pagi, buka pukul tujuh. Saya tamu paling awal, memesan bubur ayam dan teh. Saya memulai ritual para kafé-is, yakni membuka laptop, dan mengoneksikan ke internet. Sayang sekali, internet baru hadir pukul dua belas.

Puisi Substitusi

Ada yang tak tergantikan oleh emoticon, yakni lesung pipit dan guratan wajah yang menua. Ada yang tak tergantikan oleh mobil, yakni jalan kaki sambil meneriakkan sebaris kalimat dari Gibran, "Kura-kura bercerita lebih banyak tentang jalan daripada kancil!" Ada yang tak tergantikan oleh SMS Lebaran, yakni perjuangan untuk berjumpa dan sekedar merasakan kulit tangan kala bersalaman. Ada yang tak tergantikan oleh Playstation, yakni kesabaran untuk menantikan pergantian musim demi main layangan. Ada yang tak tergantikan oleh E-book, yakni bau debu dari rak dan buku tua. Ada yang tak tergantikan oleh marmer dan pendingin di antara bukit Safa dan Marwa, yakni perjuangan Siti Hajar demi anak-anaknya. Ada yang tak tergantikan oleh telepon seluler, yakni perasaan deg-degan ketika dikunjungi tamu, tanpa lebih dulu menerima SMS, "Gue udah di depan." Ada yang tak tergantikan oleh e-mail, yakni guratan tangan yang merepresentasikan perasaan, serta kesabaran menunggu pak pos memb

Selamat Datang di Klub 27

Selamat datang di Klub 27. Perkumpulan dimana bintang rock dan blues meninggal dunia di usia 27. Brian Jones, Janis Joplin, Jimi Hendrix, Jim Morrison dan Kurt Cobain adalah lima diantaranya. Selamat datang di Klub 27. Perkumpulan dimana manusia manapun memasuki usianya yang terang. Terang karena sukses melewati dengan baik krisis seperempat abad-nya, atau terang karena sebentar lagi jelang kepala tiga, dan para wanita tengah berkesadaran utuh. Berkesadaran bahwa dirinya punya keseksian lahir dan batin. Haha. Selamat datang di Klub 27. Janganlah engkau ikut-ikutan mati bersama Morrison atau Cobain. Tapi hiduplah selamanya. Karena sesungguhnya pria jika bersama wanita adalah biasa adanya. Tapi jika wanita pergi, pria menjadi gila dibuatnya. Jadilah terang. Jadilah seksi. Bukan seksi bentukan citra industri. Bukan seksi bentukan aerobik atau tai-chi. Tapi seksi yang cuma dikenali oleh hati. Seksi yang membuat nalar, ruh, nafsu, dan angkara tunduk kala ia disuguhkan berlenggak-lenggok di