Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2014

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifika

Nasib Manusia

Judul Buku : Nasib Manusia Genre : Biografi Objek Kajian : Kisah hidup Awal Uzhara Penulis : Syarif Maulana Penerbit : Publika Edu Media ISBN : 978 - 602 - 14138 - 6 - 9 Tahun Terbit : 2014 Jumlah Halaman : 120 Harga :  Rp. 40.000 Ulasan Awal Uzhara adalah orang besar sekaligus bukan siapa-siapa. Orang besar karena ia adalah satu dari sedikit penerima beasiswa untuk bersekolah di VGIK, Moskow yang merupakan institut sinematografi tertua di dunia. Selain aktivitasnya di dunia akting dan penyutradaraan, Awal Uzhara juga turut berjasa menyebarkan kebudayaan Indonesia di Rusia lewat kegiatan mengajarnya di Universitas Negeri Moskow. Awal Uzhara adalah juga sekaligus bukan siapa-siapa oleh sebab nasibnya yang terkatung-katung di negeri orang. Kewarganegaraannya dicabut oleh pemerintah Indonesia sehingga lebih dari lima puluh tahun tidak bisa pulang ke Indonesia. Buku ini memuat seluruh kisah hidupnya yang penuh paradoks. Ia adalah orang yang diingat sekaligus dilupakan.

Fatimah Chen Chen: Pesan Tersirat dalam Nama-Nama

Jadi ceritanya begini: Istri saya punya teman semasa kuliah. Temannya semasa kuliah tersebut mengirimkan novel yang katanya "buku yang ditulis oleh ayahnya". Sebelumnya, saya tidak menduga novel apa gerangan dan siapa penulisnya. Ketika buku tersebut sampai, saya membaca judulnya terlebih dahulu yang tentu saja terpampang lebih besar dari nama sang penulis. Judul novel adalah Fatimah Chen Chen . Penulisnya? Motinggo Busye . Fatimah Chen Chen berkisah tentang seorang perempuan Taiwan bernama Chen Chen yang menjadi muallaf setelah melalui berbagai kejadian. Tidak hanya dirinya sendiri, Chen Chen juga sanggup membuat seisi keluarganya tertarik pada Islam. Novel ini tampak sederhana, meskipun sebenarnya tidak. Sederhana karena pembaca manapun akan dengan mudah mengikuti alur ceritanya dan mungkin tidak butuh waktu lama untuk menghabiskannya -saya perlu tiga hari dan itu masih terlalu lama-. Gaya bahasa Motinggo sungguh lincah dan lugas. Ia memadatkan perubahan demi per

Sepakbola dan Kehidupan

  Sejak Brasil mengalami kekalahan mencengangkan 1-7 dari Jerman, entah kenapa, saya tidak henti-hentinya membuka berita dari internet untuk hanya sekedar mengetahui seberapa mendalam efek kekalahan tersebut bagi penduduknya. Sebuah koran terkenal di Brasil menyebutkan bahwa tragedi kekalahan tersebut lebih dahsyat dari tragedi kekalahan dari Uruguay pada tahun 1950 yang disebut dengan Maracanazo;  Presiden Brasil, Dilma Rousseff mengatakan, "Bahkan mimpi buruk saya pun tidak pernah sepahit ini."; Eks striker Brasil, Romario, bahkan menganggap bahwa para petinggi sepakbola Brasil sudah sepantasnya dijebloskan ke penjara; Sang pelatih, Luiz Felipe Scolari menanggapi kekalahan tersebut dengan mengatakan bahwa ini adalah kejadian paling pahit dalam karir kepelatihannya. Keseluruhan respon tersebut membuat saya bertanya: Lebih besar mana, sepakbola atau kehidupan? Mudah sekali bagi kita untuk menjawab bahwa tentu saja sepakbola hanyalah olahraga dan kehidupan merupakan sesuat

Angkot

Aki mobil hari ini habis dan tidak ada peluang bagi dirinya untuk di- starter . Akhirnya saya memutuskan untuk berangkat kerja dengan menggunakan angkutan kota (angkot). Meski sehari-hari saya menggunakan kendaraan pribadi, tapi penggunaan angkot sama sekali bukan hal baru -dari SMP hingga selepas sarjana, kemana-mana saya menggunakan angkot-. Tapi memang keanehan selalu ada. Ketika tadi naik angkot, saya merasa bahwa memang sudah lama sekali saya tidak menaikinya oleh sebab termanjakan keberadaan mobil pribadi.  Saya sadar bahwa penggunaan mobil pribadi adalah suatu jenis pengalienasian tersendiri. Kita duduk di satu ruang kendali tertutup -saking tertutupnya, suara dari luar nyaris tak terdengar- dengan udara dingin yang keluar dari mesin pendingin, serta musik yang bertujuan membawa setengah kesadaran kita ke wilayah sureal. Seluruh kaki tangan bergerak mengendalikan kendaraan dan saya adalah tuan dari apa yang saya tunggangi. Intinya, mobil pribadi adalah suatu perasaan ketuana

Masalah-Masalah Ilmu Komunikasi

Untuk menuliskan ini, sangat tidak sederhana. Pertama, saya mesti melontarkan kritik pada ilmu yang sudah membesarkan dan juga memberi nafkah bagi saya. Ilmu komunikasi, bagaimanapun, telah menjadikan saya bergelar magister dan berperan membuat saya diterima menjadi dosen di sebuah kampus dengan gaji lumayan. Kedua, ilmu komunikasi tengah populer dan menjadi semacam kebutuhan jaman. Indikasinya barangkali terlihat dari bagaimana banyak kampus mulai membuka jurusan maupun fakultas ilmu komunikasi yang mana peminatnya jarang sekali sepi.  Namun sudah sejak kuliah S2 sekitar enam tahun silam, saya sudah merasakan semacam kegelisahan tentang ilmu komunikasi. Saya merasa ada lubang yang jujur saja, belum mampu saya ejawantahkan secara jernih. Ketika saya menuliskan ini pun, bukan berarti saya sudah mengerti betul apa yang saya kritik  Barangkali saya menulis ini hanya dalam rangka membuka wacana kritis terhadap ilmu komunikasi, dengan harapan ada gayung bersambut agar si ilmu itu sendir