Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2011

Kekalahan

Sedang ramai play-off NBA. Tim-tim saling menyingkirkan. Kekalahan tentu sesuatu yang tidak diinginkan oleh tim manapun, tetapi kita bisa bayangkan: kekalahan adalah sekaligus bentuk kelegaan. Para pemain dari tim yang kalah bisa pulang ke rumah lebih cepat dan menonton sisa musim sambil bersantai bersama keluarga. Mereka tak perlu lagi datang setiap hari ke tempat latihan dengan suasana tegang menghadapi pertandingan demi pertandingan. Para pemain bisa rileks dan bahkan bisa makan sesuka hati karena tak ada lagi pertandingan untuk dua sampai empat bulan mendatang.  Kekalahan adalah istilah yang mengacu pada permainan tertentu yang disepakati. Sebuah tim kalah main basket jika skornya berada di bawah tim lawan. Seseorang kalah dalam konteks sekolahan jika tidak lulus ujian atau menempati ranking terbawah. Partai manapun disebut kalah dalam kontestasi politik jika tidak meraih suara yang cukup untuk mengirimkan wakilnya ke parlemen. Kekalahan berlaku untuk suatu permainan, tetapi belum

Absurditas Musik

"The art of combining sounds or tones for reproduction by the voice or by various kinds of musical instruments in rhythmical, melodic, and harmonic form so as to affect the emotions." (The Universal English Dictionary) Demikianlah musik didefinisikan oleh salah satu sumber. Definisi macam ini, dalam ilmu logika dinamakan definisi gambaran, yakni menyebutkan seluruh konsep yang berada di dalamnya. Jika kau merasa tak rela musik didefinisikan dengan cara ini, maka simak definisi ala Friedrich Nietzsche (1844-1900): "Without music life would be a mistake." Meski tak tepat benar, tapi bolehlah mengategorikan ini adalah bentuk definisi tujuan, yakni mendefinisikan sesuatu berdasarkan tujuan serta maksud dari sebuah konsep. Seolah-olah, "Tujuan dari musik adalah membuat hidupmu menjadi benar." Leonard Bernstein (1944-1990) mencoba mendefiniskan dengan cara lain, yakni membuat klasifikasi, bahwa musik itu adalah empat adanya: Narative-literary , yakni musik menje

Fondasi

" Aku berkemah disini, berdemonstrasi, agar anak cucu saya menikmati kedamaian. Jauh dari tiran ." Kalimat di atas adalah terjemahan bebas saya dari wawancara stasiun televisi Al-Jazeera dengan seorang demonstran ketika revolusi Tunisia. Revolusi yang berlangsung selama 28 hari di akhir tahun 2010 tersebut sukses mencapai tujuannya yaitu menurunkan presiden Ben Ali dari jabatannya. Saya tertegun dengan ucapan demonstran tersebut, membawa saya pada pertanyaan penting: Masih berhargakah hidup kita sekarang, jika kita tak tahu bahwa akan ada penerus di masa datang? Masih relevankah semboyan terkenal di era barok, memento mori , rebut hari ini, padahal bagi si demonstran yang terpenting adalah memenangkan sesuatu di masa depan? Syahdan, ada masa dimana konsep-konsep besar rajin dibicarakan, atau Lyotard menyebutnya: metanarasi. Yakni ia yang disebut sebagai Keadilan, Kedamaian, Kesetaraan, Kebahagiaan, Kesejahteraan hingga yang paling abadi: Kebenaran (semuanya dengan K besar).

Kekuatan Kepercayaan

Menjelang sidang magister tanggal 12 Maret kemarin, ada ritual yang biasa saya jalankan setiap akan menghadapi suatu hari yang krusial. Ritual ini, bukan berasal dari saya pribadi sebetulnya, tapi dari ibu saya, yaitu: minum air Yaasin. Jadi ibu, setiap habis solat subuh, akan menyimpan air di hadapan sajadahnya dan membacakan surat Yaasin. Selepas "upacara" tersebut, ibu meminta saya meminumnya dalam sekali teguk sambil mengucap basmalah. Dalam perjalanan menuju kampus saya merenungi ritual tersebut, adakah korelasi antara "upacara irasional" itu dengan sidang saya yang jelas-jelas rasional? Ibu melakukan itu sejak saya ujian SD. Artinya, jelas ibu mendahului penelitian Masaru Emoto tahun 1999 soal struktur air yang berubah menjadi teratur kala dibacakan doa-doa. Kenyataan bahwa saya sukses melewati hari-hari penting dalam hidup semenjak kecil hingga sekarang, tidakkah terlalu arogan jika saya menyebut itu adalah atas berkat intelegensi semata-mata? Saya lantas te