Pages

Operation Finale (2018): Tentang Iblis yang Tampil Biasa

Operation Finale (2018)


Memang benar saya tergila-gila dengan film yang berhubungan dengan Perang Dunia II. Beragamnya pilihan acara yang ditawarkan Netflix sementara ini tidak menarik minat saya. Ujung-ujungnya tetap saja yang ditonton adalah film yang ada kaitannya dengan Nazi-Nazi-an. Kali ini saya memilih film Operation Finale, film tahun 2018 yang bercerita tentang momen-momen penangkapan Adolf Eichmann di Argentina. 

Kesan pertama saya tentang Operation Finale ini adalah tone-nya yang tidak kelam seperti film lainnya yang serupa, sebut saja Schindler's List, Downfall, ataupun The Boys in Striped Pajamas. Film ini hampir seperti film "pada umumnya" dengan tampilan yang tidak dibuat-buat agar dramatis dan muram. Bagi saya yang terbiasa dengan penggambaran gelap pada film-film berbau Perang Dunia II, Operation Finale ini awalnya saya duga akan mengecewakan. 

Ternyata, dari waktu ke waktu, suasana yang "diharapkan" mulai terbangun, terutama saat sosok Adolf Eichmann, yang diperankan oleh Ben Kingsley muncul. Seperti yang digambarkan oleh filsuf Hannah Arendt dalam bukunya, Banality of Evil, hal yang mengerikan dari Eichmann justru karena ia tampil seperti "orang biasa" dengan kegiatan-kegiatan biasa, sama sekali tidak mencerminkan eks petinggi Nazi yang telah menjadi salah satu arsitek holocaust. Eichmann, yang berhasil lolos dari penjara tahanan perang Amerika pasca perang, tinggal di Argentina dan menjalani kehidupan normal dengan nama Ricardo Klement. 

Kengerian yang digambarkan oleh Arendt tampak saat momen percakapan Eichmann dengan para agen Mossad yang menangkapnya. Dari obrolan ke obrolan, Klement pelan-pelan menjelma menjadi Eichmann dalam artian: "orang biasa" itu menampakkan jatidirinya. Sedikit demi sedikit iblis dari masa lalunya berbicara dan pandangan kita akan Klement tua kian memudar. Di sinilah film Operation Finale yang disutradarai Chris Weltz tersebut mengaduk-aduk perasaan kita untuk mengajukan pertanyaan: bagaimana mungkin orang tua seperti Klement dulunya adalah seorang jagal yang tanpa ampun menghabisi jutaan nyawa? 

Film ini tidak banyak menampilkan adegan kekejian Nazi, tetapi suspens dibangun secara psikologis, termasuk misalnya saat salah satu agen Mossad, Peter Malkin, mencukur janggut Eichmann. Sambil mencukur janggutnya dengan pisau, Eichmann menceritakan masa lalunya, yang membuat Malkin, sebagai seorang Yahudi, geram. Suasana ini ngeri-ngeri sedap. Bayangkan, musuh kita ada di hadapan, tidak berdaya, dan pisau yang kita pegang sudah ada di lehernya. Hanya dengan sedikit tekanan, ia bisa dibunuh. Namun apa boleh buat, Malkin harus bertindak berdasarkan akal sehatnya, mengingat misi ini memang mengharuskan Mossad membawa Eichmann ke Israel dalam keadaan hidup untuk diadili. 

Di dalam persidangan, Eichmann mengaku tidak merasa bersalah atas pembunuhan orang-orang Yahudi karena ia hanya melakukannya berdasarkan perintah (bagian ini tidak banyak ditampilkan di dalam film). Pada titik ini, kita masuk pada persoalan moral yang pelik, tentang keharusan menaati peraturan versus hati nurani dalam memperlakukan manusia lainnya. Dalam lanskap kehidupan di Jerman pada masa itu, melakukan diskriminasi hingga pembunuhan terhadap Yahudi bukan hanya bagian dari menjalankan perintah negara, tetapi juga dipuji sebagai sesuatu yang "bermoral."

Syarif Maulana

No comments:

Post a Comment

Instagram