Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2011

Kekalahan

Sedang ramai play-off NBA. Tim-tim saling menyingkirkan. Kekalahan tentu sesuatu yang tidak diinginkan oleh tim manapun, tetapi kita bisa bayangkan: kekalahan adalah sekaligus bentuk kelegaan. Para pemain dari tim yang kalah bisa pulang ke rumah lebih cepat dan menonton sisa musim sambil bersantai bersama keluarga. Mereka tak perlu lagi datang setiap hari ke tempat latihan dengan suasana tegang menghadapi pertandingan demi pertandingan. Para pemain bisa rileks dan bahkan bisa makan sesuka hati karena tak ada lagi pertandingan untuk dua sampai empat bulan mendatang.  Kekalahan adalah istilah yang mengacu pada permainan tertentu yang disepakati. Sebuah tim kalah main basket jika skornya berada di bawah tim lawan. Seseorang kalah dalam konteks sekolahan jika tidak lulus ujian atau menempati ranking terbawah. Partai manapun disebut kalah dalam kontestasi politik jika tidak meraih suara yang cukup untuk mengirimkan wakilnya ke parlemen. Kekalahan berlaku untuk suatu permainan, tetapi belum

Gerak Massa Tanpa Lembaga: Tinjauan tentang Media Massa Baru berdasarkan Fenomena Revolusi di Timur Tengah dan Afrika Utara (2010-2011)

Abstrak Dua puluh tahun pasca runtuhnya Uni Soviet, dunia kembali diguncang demonstrasi besar-besaran. Kali ini terjadi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Setelah rakyat Tunisia memulai gerakannya di akhir Desember 2010, berturut-turut rakyat Mesir, Aljazair, Yaman, Yordania, hingga Libia turun ke jalan untuk menyuarakan satu hal yang sama: pergantian kepemimpinan. Revolusi ini menarik karena jaringan sosial semisal Facebook menjadi salah satu faktor pemicu demonstrasi. Fenomena revolusi tersebut dianalisis dengan metode hermeneutika Schleiermacher dan hermeneutika Gadamer. Hermeneutika Schleiermacher digunakan dalam menganalisis fenomena revolusi di Timur Tengah dan Afrika itu sendiri. Sedangkan hermeneutika Gadamer digunakan untuk mereproduksi teks menjadi sebuah konklusi. Selain itu, konklusi akan dikaitkan dengan teori McManus tentang kecenderungan media baru. Hasil dari analisis terhadap fenomena tersebut, ditemukan bahwa sangat penting untuk melakukan tinjauan ulang terhadap media

Pernikahan

Pernikahan saya akan berlangsung delapan bulan lagi. Renungan tentang mengapa, bagaimana, akan seperti apa, tentu saja kerap terlintas. Sempat saya membayangkan pernikahan adalah seperti via dolorosa, jalan derita yang dilalui Kristus sebelum disalib. Ia menapaki sesuatu yang berat, susah, berdarah, tapi sesungguhnya demi sesuatu yang lebih tinggi, agung, dan mulia. Dalam keadaan mental yang lebih skeptik, saya membayangkan pernikahan adalah upaya pengerdilan percik-percik api asmara oleh lembaga. Karena cinta barangkali terasa menggairahkan ketika kita mencicipi potongan-potongannya, bukan menelan keseluruhannya. Pernikahan juga, sempat saya membayangkan, adalah momen batas tegas dimana kita menjadi dewasa. Dewasa adalah impian sebagian orang, tapi sekaligus momok sebagian lainnya. Terkadang menyenangkan melihat segala sesuatu hitam putih tanpa usah dipikirkan dalam-dalam. Terkadang asyik menanggapi banjir sebagai danau yang membuat kita bisa berenang, alih-alih menganggap itu bencana

Filsafat di Antara Masjidil Haram dan Gelora Bung Karno

  Di tahun 2010 kemarin, saya berkesempatan mengunjungi dua tempat yang bagi saya sama-sama besar. Bulan Maret, saya diajak untuk turut serta orangtua umrah ke Tanah Suci. Berjumpa Ka'bah yang berada di dalam Masjidil Haram, ratusan ribu bahkan jutaan manusia yang terpusat ke sana selama nyaris dua puluh empat jam setiap hari mustahil tak membuat hati tergetar. Terasa sekali luapan spiritual yang besar dan meledak-ledak. Muslim manapun yang menjejakkan kakinya di Tanah Suci nyaris sulit untuk menolak nilai-nilai religius maupun spiritual. Karena suasananya sangatlah mendukung. Fascinatum et Tremendum . Tempat kedua adalah di bulan Desember, yakni Gelora Bung Karno. Secara luas bangunan dan jumlah massa yang datang, sepertinya tidak sebesar Masjidil Haram. Saya kesana untuk membeli tiket final Piala AFF. Mengantri sejak tengah malam, saya tetap gagal mendapatkannya di pagi hari dan antrian massal itu sendiri berujung kerusuhan dan pengrusakan. Yang menarik adalah sesungguhnya keduan

Untuk Tuan Marx dan Tuan Engels

Tuan Marx dan Tuan Engels, Kalian tentu ingat sebaris kalimat pamungkas dalam manifesto: " Kaum buruh sedunia, bersatulah! " Saya yakin tuan-tuan menuliskannya dengan hati yang jernih dan pandangan dunia yang luas lagi mulia. Di sekeliling, kalian melihat para buruh yang tak merdeka dan mengeluh sakit tapi tiada obatnya. Yang ada cuma painkiller berbentuk kerja dan kerja. Para borjuis menjauhkan pekerja dari kemanusiaan. Ada hubungan keluarga dan pertemanan diantara sesama proletar, tapi hanya sebatas kedekatan biologis, genetika, dan status sosial semata. Tiada satupun dari mereka yang punya cukup waktu luang untuk bercengkrama, bercandatawa, dan curhat menggali kedalam tentang jatidirinya. Kaum buruh sedunia, bersatulah. Saya baru tahu wajahmu setelah melihatnya di restoran bernama Foodism. Mereka memajang jenggotmu tanpa tahu malu. Seorang panglima sejati di medan pertempuran kelas sosial, mesti mengakhiri hidupnya di etalase. Dilihat orang dengan tertawa sambil bersendaw

The Invention of Lying dan Ketiadaan Agama

Bayangkan sebuah dunia tanpa kebohongan. Semua orang berkata jujur, semua orang berkata langsung tentang apa yang dipikirkannya. Efeknya, tiada karya sastra, tiada rayuan, dan yang paling menarik: tidak ada agama. Kisah ini adalah tentang Mark Bellison, seorang pecundang yang lahir di tengah umat manusia yang tidak mengenal konsep bohong. Ia penulis skenario film yang gagal, hampir dipecat, dan dianggap tidak menarik oleh teman kencannya, Anna. Seperti misalnya, dalam pertemuan pertama Mark dengan Anna, langsung disambut dengan, "Kamu tidak menarik, jangan harap aku mau tidur denganmu setelah kencan." Termasuk ketika pelayan restoran menawari menu pada Mark dan Anna, ia memulainya dengan, "Aku malu dengan pekerjaan ini." Begitulah dunia tanpa kebohongan. Orang mengatai seseorang jelek, buruk, payah, dengan amat terang-terangan di hadapannya. Perubahan dimulai ketika Mark mendapat "wahyu" di bank. Kala itu ia hanya punya 300 dollar di rekening dan ingin men

Percakapan Singkat di Meja Makan

Ketika saya mengatakan, "Pak, Bu, kami berencana menikah," tatapan Papap berubah. Ia tak lagi memandang kami yang berada di hadapannya. Ia melihat ke balik bola matanya, kepada timbunan kenangan lama yang terbujur dalam sunyi. Papap berbicara bukan sebagai ayah berusia enam puluh, tapi bak pemuda seumuran kami yang gairah kehidupannya masih menyala-nyala. "Kami bersyukur atas niat kalian. Tapi tunggulah sampai saya selesai berpameran. Setelah itu baru kita mulai mempersiapkan, agar kalian bisa sejahtera sentosa untuk ke depannya." "Tahun depan akan lebih baik. Menikah berarti menerjang badai dalam lautan, siapkan layar yang kuat." Papap, dalam wujud pemudanya, mengingat dengan jelas ketika ia mengutarakan niat menikahi Mamah. Nini bertanya dengan lembut setelah pemuda bernama Wawan itu mendatangi kediamannya dengan api yang menyala-nyala di mata, "Wan, kamu sudah punya apa?" Wawan menjawab dengan percaya diri, "Saya punya niat baik." Ni