Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2012

Tong Sampah

Entah mulai kapan aturan ini, tapi dalam sepakbola, membuka kaos setelah mencetak gol dapat dihukum kartu kuning. Juga dalam sepakbola, pemain tidak boleh lanjut menendang bola jika wasit meniup peluit tanda permainan mesti distop. Ingat kejadian heboh pada bulan Maret 2011 antara Arsenal lawan Barcelona? Robin van Persie menerima kartu kuning kedua karena tetap menyepak bola meski wasit telah meniup peluit tanda offside . Demikian halnya dalam basket, sebuah tim dapat dihukum technical foul jika protes berlebihan atau bereaksi lebay dengan misalnya membanting bola. Apa poinnya?  Kita tentu tidak ingin olahraga hanya sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kita sekaligus ingin melihat emosi di dalamnya. Kita, sebagai penonton, turut menikmati sorak kegembiraan saat pemain mencetak gol, juga sekaligus menikmati kesedihan orang yang gagal mengeksekusi penalti. Itu sebabnya kamera pada tayangan olahraga seperti sepakbola, basket, tenis, badminton, atau voli, beberapa dian

Prasasti FM 2011

Hari ini, 27 Februari 2012, adalah hari yang amat penting. Di sela-sela penampilan di acara seminar biomedik di ITB tadi, saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat lapak DVD games untuk komputer di trotoar Jalan Ganesha. Saya dengan sangat berhati-hati memutuskan untuk membeli permainan yang saya yakini lebih jahat dari narkoba: Football Manager. Saya membeli edisi terbaru yaitu Football Manager 2012 (FM 2012) yang sebetulnya sudah rilis dari November kemarin. Namun akibat saya tahu betapa bahayanya game tersebut, saya beberapa kali menunda pembelian hingga akhirnya tadi luluh juga karena jarak antara saya dan lapak sudah sedemikian dekat. Sampai rumah, saya langsung install game tersebut dan tidak mendapat kesulitan apapun untuk langsung memulainya. Namun setelah beberapa saat, hati saya mendadak sedih. Saya ingat bahwa di edisi FM sebelumnya (FM 2011), saya masih berkiprah. Akhirnya saya kembali ke FM 2011 untuk sejenak menutup karir setelah sempat mengabadikan beberapa tampilan yan

Atticus Finch

Terima kasih sebelumnya pada sahabat saya, Kang Trisna yang memberi buku To Kill a Mockingbird sebagai kado ulangtahun. Bukan buku yang mudah untuk diselesaikan. Saya perlu hampir empat bulan untuk mengakhiri dengan perasaan yang tercerahkan. Hanya beberapa jam setelah membaca novelnya, saya menyambangi filmnya dengan judul yang sama. Film yang digarap tahun 1962 (dua tahun setelah novelnya terbit) itu menguatkan imaji saya tentang seorang tokoh yang disebut sebagai salah satu pahlawan terbaik dalam sejarah perfilman Amerika: Atticus Finch. Atticus Finch adalah tokoh sentral dalam buku To Kill a Mockingbird . Pengacara sekaligus orangtua tunggal bagi dua anaknya yang masih kecil-kecil. Filmnya menurut saya sangat sukses mengejawantahkan figur Atticus ke tampilan visual. Penampilan Gregory Peck begitu karismatik dan persis seperti apa yang saya bayangkan (Dari novel ke film biasanya mengandung kekecewaan, salah satu yang saya ingat adalah Audrey Tatou yang memerankan detektif Sophie No

Jaringan Sosial dan Sejarah

Dalam film 300, ketika Leonidas merasa prajurit Sparta yang dipimpinnya mulai terpojok, ia memanggil Dilios. Apa yang ditugaskan pada Dilios sederhana saja, tapi bagi sang raja itu penting: Pulanglah ke Sparta, ceritakan kisah kami pada semua . Dilios kemudian tidak ikut berperang karena menunaikan tugas yang ia sendiri kecewa karenanya. Bagi Dilios, yang mulia adalah bertempur. Bagi Leonidas, yang mulia tidak sebatas bertempur, tapi juga dikenang. Di masa kecil, saya amat menyukai buku-buku biografi para penemu. Albert Einstein, Isaac Newton, Charlie Chaplin hingga Margaret Mead, kisah hidupnya rajin saya baca. Inspirasi terbesarnya adalah kenyataan bahwa mereka-mereka adalah orang yang pernah gagal dan juga kontroversial. Pernah begitu dilecehkan oleh kalangannya namun kemudian bangkit menjadi yang terdepan. Sampai pada suatu hari, di masa-masa belakangan ini ketika saya mulai membaca filsafat, saya memahami bahwa sejarah tidak pernah objektif. Sejarah ditulis oleh seseorang (yang Mi

Warung

Tulisan suplemen untuk Klab Filsafat Tobucil 6 Februari 2012. Kita tahu bahwa jika makan di warung kopi, maka tidak cuma harus siap dengan menu hanya supermi, buburkacang, dan gorengan, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan ngobrol berlama-lama tentang isu-isu politik dan ekonomi ditemani kepulan asap rokok. Kita tahu bahwa jika makan di Warung Tegal, maka tidak cuma harus siap dengan lokasi yang kurang higienis, tapi juga mesti diantisipasi kemungkinan afirmasi diri yang jujur tentang ketiadaan uang. Karena seperti kata Diecky, "Cuma di Warung Tegal kita makan nasi sama tahu tetap dilayani bak raja." Warung menurut Wikipedia diartikan sebagai " type of small family owned business. A warung is an essential part of daily life in indonesia. " Warung menjual mulai dari pisang goreng, mie goreng, permen, kerupuk, rokok, kopi, hingga penyewaan jasa telepon. Hal-hal yang barangkali begitu dekat dengan kebutuhan sehari-hari dan harganya terjangkau masyarakat strata baw