Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2018

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifika

Notasi Musik, Persoalan Kontemporer dan Kemerdekaan Bunyi

Ditulis dalam perjalanan di kereta, sebagai suplemen bedah buku Notasi Musik Abad 20 dan 21 karya Septian Dwi Cahyo, Sabtu, 25 Agustus 2018 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Buku Notasi Musik Abad 20 dan 21 ini sudah lama saya lihat pengumumannya di linimasa media sosial teman-teman saya. Selintas, saya pikir buku ini menarik dan keren karena saya tiba-tiba teringat ucapan Dieter Mack pada sebuah seminar berjudul Komposer Masa Kini di Universitas Pendidikan Indonesia pada 11 Oktober 2016. Begini kira-kira ucapannya, "Meski cara memainkan musik sudah sangat beragam, tapi komposer tetap harus punya cara agar pemain dapat memainkan komposisinya dengan seratus persen sama (dengan apa yang dimaksud)." Lalu Dieter berjalan ke papan tulis dan menggambar notasi yang, saya yakin, nyaris sebagian besar audiens tidak mengenalnya. Bagi saya yang bukan komposer, saya baru mengerti secara yakin: inilah notasi musik "masa kini", yang oleh Septian Dwi Cahyo di

Surat dari Surakarta (Bagian Sembilan - Habis): Mencari Oleh-Oleh yang Tepat untuk Dibawa ke Bandung

12 Agustus 2018 Hari keempat di Surakarta, adalah artinya hari terakhir saya berada di sini. Festival masih akan berlangsung hingga tanggal 16 Agustus, tapi apa daya saya hanya ditugaskan hingga tanggal 12. Panitia sudah menyiapkan tiket pesawat kepulangan untuk jam 14.15 dan itu artinya saya punya cukup waktu dari pagi hingga siang hari untuk mencari oleh-oleh.  Membawa pulang oleh-oleh memang seolah sudah menjadi budaya kita. Setiap kita akan pergi ke suatu tempat, kita sering diteriaki, "Jangan lupa oleh-olehnya, ya!" Padahal, kita semua juga tahu, tidak semua kepergian ke luar kota atau luar negeri, punya cukup waktu dan uang untuk membeli oleh-oleh. Namun demi keharmonisan dengan semesta, kadang kita harus memaksakan diri untuk mencari oleh-oleh, agar setidaknya tidak dicap sombong, mentang-mentang, dan sebagainya.  Meski waktu sempit, saya menyempatkan diri untuk mampir di tempat menjual Serabi Notosuman yang terkenal itu. Saya membeli tiga dus untuk teman-

Surat dari Surakarta (Bagian Delapan): Gema Swaratyagita dan Musik Masa Kini

Hari itu, entah kenapa, saya sedang tidak semangat untuk bepergian. Tentu saja, sikap semacam itu tidak diperbolehkan di tengah kewajiban untuk meliput ini itu. Hanya saja, saya harus berpikir lebih strategis: saya akan beristirahat seharian, sebelum pergi mengunjungi Balai Soedjatmoko di waktu malam yang jaraknya hanya satu kilometer saja dari hotel tempat saya tinggal. Artinya, hari itu, saya tidak menghadiri panggung utama di Benteng Vastenburg, yang secara jarak, memang lebih jauh.  Datang ke Balai Soedjatmoko dengan biaya transportasi empat ribu Rupiah saja (saking dekatnya), seperti sudah ditulis di surat sebelumnya, saya menyaksikan dan mewawancarai terlebih dahulu Peter Szilagyi, pentolan dari grup Surya Kencana A. Setelah itu, kemudian, saya menyaksikan dengan khusyu penampilan dari komposer asal Jakarta, Gema Swaratyagita dan Laring Project, bersama dalang muda, Woro Mustika Siwi.  Saya katakan khusyu karena pertama, saya sudah menyelesaikan makan malam angkringan sa

Surat dari Surakarta (Bagian Tujuh): Jumpa Ligeti di Slamet Riyadi

11 Agustus 2018 "Waktu, itulah bedanya," ujar Peter Szilagyi ketika ditanya kesulitannya ketika awal memainkan gamelan. Dalam gamelan, cara pandang para pemain terhadap waktu sangat berbeda dan cenderung fleksibel ketimbang di musik Barat. "Pada musik Barat, kami mempunyai ukuran-ukuran yang kurang lebih pasti sehingga kami punya bayangan berapa lama lagu ini akan dimainkan," kata pimpinan kelompok gamelan Surya Kencana A tersebut.  Surya Kencana A adalah kelompok asal Budapest, Hungaria, yang didirikan sejak tahun 2006. Kehadiran kelompok ini adalah bentuk kerinduan Szilagyi terhadap gamelan, ketika ia menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada tahun 1996 hingga 2002 sebagai penerima beasiswa Darmasiswa. Atas dasar itu, bersama kawan-kawan yang juga pernah belajar gamelan (terutama sesama jebolan Darmasiswa), ia membentuk kelompok tersebut. Surya Kencana A. Foto oleh Bekti Sunyoto Szilagyi sendiri "nekat" pergi

Surat dari Surakarta (Bagian Enam): Sambasunda, Bukan Sekadar Kelompok Musik

10 Agustus 2018  Sebagai orang Bandung yang lebih dari tiga puluh tahun hanya tinggal di sana, maka baru dua hari di Surakarta saja, rasanya sudah rindu pada tempat kelahiran. Namun saya tidak sedang ingin melankolik, apalagi di Surakarta ini, saya, seperti berulang kali diekspresikan, sangat kerasan dengan suasana International Gamelan Festival (IGF) 2018 yang hangat tapi sekaligus juga gempita ini. Namun memang, ketika memilih siapa yang ingin disaksikan di Benteng Vastenburg pada perhelatan hari pertama, saya menunjuk Sambasunda, kelompok musik asal Bandung yang dibesut oleh kawan sekaligus guru saya, Kang Ismet Ruchimat. Ini cara untuk sedikit mengobati kerinduan pada Bandung, dengan minimal berbicara bahasa Sunda.  Tentu saja, itu bukan satu-satunya alasan. Sudah sejak lama, jauh sebelum mengenal Kang Ismet, saya memang diam-diam menikmati musik Sambasunda. Ketika mengenal Kang Ismet pada pertengahan tahun 2017, malah ada perasaan bias yang sukar dihindarkan: Bahwa

Surat dari Surakarta (Bagian Lima): Soto Grabah, Wedang Uwuh, dan Gamelan Group Lambangsari

10 Agustus 2018 Kenapa musik, yang notabene ditangkap oleh indra pendengaran, masih tetap menarik jika dipertontonkan? Mungkin ini jawabannya: Karena manusia, tidak selalu puas dengan satu penginderaan saja. Ada kalanya, yang kita namai sebagai pengalaman langsung, adalah berarti menceburkan diri pada fenomena secara keseluruhan. Mengalami sesuatu secara langsung, bisa jadi artinya: membuat sebanyak mungkin penginderaan jadi terlibat.  Ini yang saya lakukan ketika datang untuk meliput berbagai pertunjukkan di Benteng Vastenburg pada hari kedua penyelenggaraan International Gamelan Festival (IGF) 2018 di Surakarta. Setelah menghadiri pameran seni rupa kontemporer di Taman Budaya Jawa Tengah, saya tetap menyempatkan diri ke Benteng Vastenburg meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Motif saya awalnya sebenarnya sederhana, yaitu ingin menyaksikan penampilan dari Sambasunda, yang notabene dipimpin oleh kawan sekaligus guru saya, Kang Ismet Ruchimat. Namun k

Surat dari Surakarta (Bagian Empat): Melihat Bunyi, Mendengar Wujud

10 Agustus 2018 International Gamelan Festival (IGF) 2018 di Surakarta ini, seperti kata Pak Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan, memang tidak semata-mata tentang keriaan. Ada hal-hal lain yang sifatnya edukatif dan sebisa mungkin punya kontribusi terhadap ekosistem kesenian. Misalnya, pagi hari tadi, di Institut Seni Indonesia (ISI), saya menghadiri seminar internasional tentang gamelan. Isinya kurang lebih seputar sejarah gamelan dan bagaimana musik gamelan tetap lestari. Namun tetap, seminar tidak semata-mata mendengarkan si pembicara saja. Ada suguhan musik gamelan sebagai pembuka, juga sebagai musik di kala coffee break . Panitia ingin agar apa yang kita serap senantiasa berimbang: afeksi, kognisi, afeksi, kognisi, dan seterusnya.  Malam harinya, di Taman Budaya Jawa Tengah, ada pameran seni rupa kontemporer yang mengangkat tema gamelan. Alih-alih ke Benteng Vastenburg yang menghadirkan line-up musik, saya memilih untuk pergi menikmati pameran. Alasannya? Ya, saya ingin mengalam

Surat dari Surakarta (Bagian Tiga): Komposisi Kontemporer, Gerai Jajanan, dan Leburnya yang Sakral dan yang Profan

9 Agustus 2018  Dengan soft opening yang begitu menjanjikan, saya yakin banyak orang tidak sabar untuk menantikan bagaimana gerangan pembukaan akbar ( grand opening ) yang dilakukan malam harinya di Benteng Vastenburg. Gembar-gembornya, ada permainan gamelan yang dikomposisi oleh para maestro.  Setelah makan malam di sebuah food court bernama Galabo, saya, bersama peliput lainnya, berjalan kaki memasuki Benteng Vastenburg yang dibangun pada tahun 1745 tersebut. Panitia International Gamelan Festival (IGF) 2018 sungguh punya perhatian khusus terhadap edukasi. Di pintu masuk, kami sudah disambut oleh infografis yang berisi tentang tokoh-tokoh gamelan seperti Ki Nartasabda, Ki Sunardi, Lili Suparli, Mang Koko, hingga Rahayu Supanggah beserta lukisan wajah dan profil singkatnya. Di balik infografis yang berukuran cukup besar itu, terbujur panggung megah yang digunakan untuk pembukaan akbar dan sejumlah penampilan di hari-hari berikutnya. Kursi-kursi yang berjumlah mungkin sek

Surat dari Surakarta (Bagian Dua): Ketika Berjalan di Trotoar Tidak Lagi untuk Melihat Merk Dagang

9 Agustus 2018 Setidaknya di Bandung, tempat saya tinggal, berjalan di trotoar adalah hal yang sangat asing. Pertama, trotoar seringkali kurang nyaman bagi pejalan kaki, oleh sebab kurang luas dan banyak diserobot oleh pedagang kaki lima (meski hal-hal demikian sudah banyak diperbaiki di masa pemerintahan Ridwan Kamil). Kedua, berjalan di trotoar adalah identik juga dengan menyempitkan pandangan kita, hanya pada toko-toko dan merk dagang yang ada di sisi jalan. Dalam arti kata lain, memilih jalur trotoar berarti juga siap dibujuk secara halus untuk membeli dan membeli.  Namun trotoar di Surakarta kala soft opening International Gamelan Festival (IGF) 2018 kemarin, membuat saya merasa sedih dengan keadaan di Bandung. Pada acara yang dimulai sekitar jam setengah empat tersebut, tidak ada toko (yang buka) dan merk dagang (yang terpampang terang-terangan) di sepanjang trotoar di Jalan Slamet Riyadi, karena “disingkirkan” oleh 73 set gamelan.  Foto oleh Riedo Andi Kurniawan

Surat dari Surakarta (Bagian Satu): Pak Hilmar, "IGF 2018 Tidak Ingin Menjadi Sekadar Pesta Semata!"

9 Agustus 2018 Tiba di Bandara Adi Sumarmo, Surakarta, pada pukul sepuluh pagi, penerbangan 55 menit dari Jakarta nyaris tak terasa oleh sebab saya terlelap sembari mendengarkan musik Beethoven yang disediakan oleh fasilitas audio dari maskapai. Selesai mengambil bagasi, panitia yang bertugas mengumpulkan awak media telah setia menunggu di luar. Dengan ramah, perempuan bernama Mbak Amalia tersebut menggiring kami ke mobil dengan kapasitas besar, agar awak media yang ia jemput - yang terdapat enam orang lainnya - merasa nyaman dan tidak berdesakan. Kami langsung dibawa ke hotel Royal Heritage, sebuah hotel yang saya perkirakan mempunyai fasilitas bintang lima, dimana kami akan makan siang bersama Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia.  Pak Hilmar, dengan wajah yang terlihat lelah, tak lama kemudian datang dan tetap mencoba menebar senyumnya. Setelah berbasa-basi sedikit, ia mulai memaparkan secara garis besar hal ikhwal International Gamelan Festival (I

Warteg dan Masyarakat

  Hampir setiap pagi, saya punya ritual yang sukar ditinggalkan, yaitu sarapan di warteg Pak Imron. Awalnya, hubungan kami ya transaksional saja. Saya pembeli dan beliau penjual. Namun lama kelamaan, sekitar di hari keempat, Pak Imron mulai bertanya-tanya kegiatan saya, dan saya pun bertanya seputar apa-apa yang dialaminya selama mengelola warteg. Lalu ia cerita, tentang orang-orang yang datang ke warungnya, dari mulai orang gila, gelandangan, mahasiswa belum dapat kiriman uang, orang dengan kemeja rapi tapi enggan bayar, dan ragam lainnya. Di sisi lain, Pak Imron juga berinisiatif, jika kebetulan melihat orang yang belum makan (karena tampak sedang mengais atau menggelandang, misalnya) untuk turun membungkuskan nasi beserta lauk pauk.  Ini saya tidak sedang mengumbar cerita kemanusiaan dalam rangka mempromosikan Pak Imron dan wartegnya. Hal yang lebih pokok adalah ini: tentang warteg sendiri, sebagai suatu tempat yang menjadi solusi paling mendasar bagi persoalan umat manusia yait