Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2013

Kekalahan

Sedang ramai play-off NBA. Tim-tim saling menyingkirkan. Kekalahan tentu sesuatu yang tidak diinginkan oleh tim manapun, tetapi kita bisa bayangkan: kekalahan adalah sekaligus bentuk kelegaan. Para pemain dari tim yang kalah bisa pulang ke rumah lebih cepat dan menonton sisa musim sambil bersantai bersama keluarga. Mereka tak perlu lagi datang setiap hari ke tempat latihan dengan suasana tegang menghadapi pertandingan demi pertandingan. Para pemain bisa rileks dan bahkan bisa makan sesuka hati karena tak ada lagi pertandingan untuk dua sampai empat bulan mendatang.  Kekalahan adalah istilah yang mengacu pada permainan tertentu yang disepakati. Sebuah tim kalah main basket jika skornya berada di bawah tim lawan. Seseorang kalah dalam konteks sekolahan jika tidak lulus ujian atau menempati ranking terbawah. Partai manapun disebut kalah dalam kontestasi politik jika tidak meraih suara yang cukup untuk mengirimkan wakilnya ke parlemen. Kekalahan berlaku untuk suatu permainan, tetapi belum

Masalah Estetika

Dalam suatu kesempatan yang tidak akan pernah saya lupakan -ketika diminta mengajar estetika mendampingi dosen senior Zainal Abidin di jurusan psikologi-, saya mendapati sejumlah mahasiswa merumuskan sebuah kesimpulan: Estetika itu subjektif. Meski argumen mahasiswa-mahasiswa jurusan psikologi itu masuk akal, namun Kang Zainal merasa tidak puas. Ia kembali mencoba memancing: Apakah tidak ada sedikitpun objektivitas dalam keindahan? Apakah keindahan itu harus melulu relatif tergantung selera? Apakah ada keindahan yang lepas dari konteks ruang dan waktu? Terus menerus ia melontarkan pertanyaan ala Sokrates tersebut demi membidani kesadaran mandiri dari mahasiswanya. Terus terang, meski saya meyakini bahwa estetika tak mungkin subjektif semata, saya tidak bisa memberikan argumen yang tepat tentang keobjektifan estetika. Argumen para mahasiswa ini memang meyakinkan. Pertama-tama, mereka menunjukkan sejumlah karya seni mulai dari karya Picasso, Duchamp hingga Renoir, kemudian meminta

Hegel

"Nalar adalah cara alam untuk melakukan kritik diri."  -Sir Muhammad Iqbal Kalimat di atas sungguh membingungkan saya hingga bertahun-tahun lamanya. Namun pelan-pelan misteri ini terkuak setelah mengetahui pengaruh filsuf Jerman era romantik, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, yang cukup kental terhadap pemikiran-pemikiran Iqbal. Atas dasar kepenasaranan yang menahun tersebut, saya akhirnya memaksakan diri mempelajari pemikiran-pemikiran Hegel. Kenapa harus mengatakan terpaksa? Harus diakui, pemikiran Hegel dipaparkan dengan cara yang begitu rumit. Tulisannya termasuk yang paling susah dipahami. Saya pun pada akhirnya (merasa) memahami Hegel lebih banyak melalui kejadian-kejadian sekitar. Sebelum masuk ke tagline Iqbal di atas, mari renungkan terlebih dahulu: Dari mana asal kesadaran kita? Maksudnya, dari mana kita berpikir bahwa dunia hari ini sudah sedemikian kacau sehingga membutuhkan perubahan? Ketika seorang tiran membungkam mulut rakyat sehingga tidak ada lagi ce

Seni dan Agama

Entah sejak era apa, kita akhirnya menemukan suatu dikotomi ketat antara seni, agama, sains, dan filsafat -biasa disebut empat pilar peradaban-. Keempatnya berpisah, ditekuni masing-masing, dan tidak jarang saling bertentangan. Saya mencurigai pemilahan ini adalah kerjaan para akademisi, tapi tak perlu kita bahas jauh-jauh pertentangan keempatnya. Seni dan agama, makin hari makin menunjukkan tabiat bermusuhan. Seni bahkan sering didaulat sebagai agama baru. Dalam arti, ia sama-sama mengandung denyut spiritualitas. Seorang seniman mungkin pada taraf tertentu ia mengenali gejolak dalam dirinya seperti kerinduan transendental terhadap hal besar di luar sana. Hal ini tentu saja mirip dengan tema spiritualitas dalam agama-agama. Bahkan ada kecenderungan, seni melakukannya secara lebih jujur dan pribadi. Ini sekaligus semacam kritik terhadap agama yang spiritualitasnya cenderung beramai-ramai. Problem dari beramai-ramai adalah: Apakah itu sungguh spiritualitas, atau cuma histeria massal

Burnt by The Sun (1994): Intrik Politik di Tengah Kehangatan Keluarga

Jumat minggu lalu saya menonton film yang cukup berkesan di sebuah forum di Garasi10. Film tersebut berasal dari Rusia. Judulnya Burnt by The Sun atau dalam bahasa aslinya:  Utomlyonnye Solntsem. Film yang disutradarai oleh Nikita Mikhalkov tersebut meraih Oscar untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik tahun 1994.  Film ini awalnya sulit untuk diketahui arahnya kemana. Tidak terlihat semacam tokoh protagonis dan antagonis seperti umumnya film (yang langsung mengajak penonton untuk bersimpati ke tokoh tertentu). Nyaris sembilan puluh menit pertama dari total film dua jam setengah ini dihabiskan untuk menampilkan suasana keluarga besar yang penuh kehangatan dalam suasana liburan. Banyak pertanyaan dari saya tentang dimana letak konfliknya. Yang ada hanya bentuk kasih sayang sederhana antara Sergei Petrovich Kotov, Maroussia (istrinya), Nadia (anaknya), dan sejumlah saudara-saudaranya seperti Philippe, Vsevolod, Mokhova dan Kirik.  Kotov (diperankan oleh sang sutradara, Mi