Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2021

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Gin

GIN Gingin Gumilang pernah menjadi mahasiswa di kelas waktu saya masih mengajar di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Saya lupa tahun berapa itu, mungkin sekitar tahun 2010 atau 2011. Gin, begitu dipanggilnya, duduk di pojokan, orangnya pendiam, tetapi saya tahu di kepalanya menyimpan banyak pemikiran. Suatu hari, saya mengumumkan di kelas bahwa akan ada konser gitar klasik di IFI Bandung dan tentu saja, saya hanya berbasa-basi saja, tidak berharap kalau mereka, yang umumnya kost di Jatinangor, akan datang ke Bandung hanya untuk menonton gitar klasik. Ternyata ada satu orang yang datang ke IFI, ya Gin itulah. Sejak itu saya terkesan. Rupanya wawasannya juga luas. Saya ingat ia tiba-tiba membicarakan Freud di kelas, di tengah mahasiswa-mahasiswa yang yah, duduk di sana hanya berharap bisa lulus saja, tanpa peduli ilmu apa yang didapat. Saya kemudian terpikir, rasanya tepat kalau Gin diajak bergaul lebih luas, keluar dari "sangkar" yang membuat

Hidup untuk Menulis

Menulis memang sudah menjadi hobi sejak lama. Namun rasanya tidak pernah terpikirkan bahwa saya akan benar-benar hidup dari sini. Saya pernah hidup dari musik, mengajar sebagai dosen, dan saya pikir dua hal itulah yang akan menjadi sumber penghidupan hingga ke depannya. Sejak tidak lagi bekerja sebagai dosen tetap mulai tahun 2017, pekerjaan saya tidak pernah ada yang stabil. Memang saya bekerja di beberapa universitas, tapi hanya sebagai pengajar honorer saja. Di masa-masa itu, saya melamar ke berbagai perusahaan yang membutuhkan jasa penulisan dan rasanya saya sudah mencicipi beragam jenis pekerjaan menulis. Misalnya , saya pernah bekerja sebagai penulis berita olahraga dengan honor Rp4.000 per berita dengan jumlah 300 kata. Bahkan saya juga pernah menulis untuk rumah judi online, dengan honor lebih rendah lagi yaitu Rp3.500 per artikel yang isinya adalah prediksi pertandingan. Honor yang lumayan adalah ketika tulisan saya dimuat oleh sebuah kanal media populer, di situ saya me