*) Ditulis dalam rangka Off Stage #2 dari Jalan Teater dengan tema "Membincangkan Naskah Koleksi karya Harold Pinter". Jumat, 25 Januari 2019 di Aku Sisi Kopi, Jalan Terusan Jakarta no. 20 - 22, Bandung.
Naskah Koleksi yang ditulis oleh Harold Pinter tahun 1961 saya pelajari melalui dua sumber, yang pertama adalah terjemahan dari naskah itu sendiri dalam Bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bachtiar, dan penampilan kuartet Alan Bates, Malcolm McDowell (yang saya tidak akan melupakan perannya dalam A Clockwork Orange-nya Stanley Kubrick tahun 1971), Helen Mirren, dan Laurence Olivier yang ditayangkan di stasiun televisi CBS pada tahun 1976 (tentu saja saya saksikan via Youtube). Nyaris tidak ada perbedaan dari apa yang ditampilkan oleh Bates dan kawan-kawan dengan naskah yang diterjemahkan oleh TSB sehingga apa yang dibaca dan apa yang dilihat sangatlah sesuai dan itu amat mempermudah saya dalam memelajari naskah ini.
Kita tidak usah panjang lebar mendeskripsikan isi naskah ini oleh sebab asumsi bahwa hadirin yang datang telah mengetahui garis besar (atau bahkan detail) dari Koleksi. Ini tentang empat orang: James, Stella, Harry, dan Bill, yang mempertanyakan suatu fakta tentang apakah Bill dan Stella mengalami “cinta satu malam” (one night stand) di Leeds? James, suami Stella, merasa terganggu dengan “kenyataan” tersebut dan menginterogasi Bill tentang apa-apa yang ia lakukan bersama istrinya. Bill awalnya tidak mengakui, tapi akhirnya bicara juga - atas intimidasi James - bahwa iya ia telah begini begitu dengan istri James. Tapi yang terjadi berikutnya adalah kebingungan tentang siapa yang benar dan siapa yang mengarang cerita. Harry mengatakan bahwa Stella yang mengarang, James mengatakan bahwa Stella telah berkata benar, Bill mengaku bahwa sebenarnya tidak terjadi apa-apa dan dia hanya menambahkan cerita agar James merasa puas, dan seterusnya dan seterusnya.
Bingung? Pasti. Karena ini bukan naskah yang sedang bertujuan menghadirkan jawaban yang tunggal untuk para pembaca atau hadirin yang mengharapkan suatu kepastian. Akhir cerita bahwa tudingan James hanya dijawab oleh Stella dengan: “Memandangnya, tidak mengiakan tidak menolak. Mukanya ramah dan pengertian” dan lantas teater ditutup dengan simpulan semacam itu membuat kita bisa mengerti bahwa Pinter tengah menghadirkan suatu absurditas.
Secara historis, Pinter memang ada dalam masa ketika “theatre of the absurd” tengah menjadi tren di Eropa pasca Perang Dunia II melalui sejumlah naskah seperti beberapa yang disebutkan berikut ini: Waiting for Godot (1953) karya Samuel Beckett, The Bald Soprano (1950) karya Eugene Ionesco, The Balcony (1955) karya Jean Genet, dan lain sebagainya yang kira-kira berada di rentang tahun-tahun awal pasca berakhirnya perang besar. Pinter, oleh sebab masa jayanya (ia lahir tahun 1930) yang berada di zaman itu serta beberapa kali persentuhannya dengan Beckett, membuat kita boleh mengasumsikan bahwa absurdisme telah mendasari penulisan karya-karyanya.
Apakah memahami konsep absurdisme dapat membuat kita memahami Koleksi? Ya dan tidak. Ya dalam artian, ketika kita sama-sama sepakat bahwa “theatre of the absurd” adalah kata kunci bagi karya Pinter ini dan maka itu absurdisme menjadi hal yang sejalan, maka tentu saja posisi interteks antar keduanya dapat saling mendukung; tidak dalam artian: “memahami” bukanlah idiom yang pas bagi absurdisme. Ujung dari absurdisme biasanya adalah ketidakpahaman, ketersesatan, kenirmaknaan, dan mengolok-olok ke-tahu-an sebagai sok tahu dan sok pasti.
Konsep absurdisme tidak bisa lepas dari nama Albert Camus (1913 – 1960), pemikir Prancis yang terus menerus mengulang kata “absurd” dalam proyek filsafatnya. Pada tahun 1942, ia menulis esai berjudul The Myth of Sisyphus yang kurang lebih menceritakan nasib manusia adalah seperti Sisifus yang dikutuk untuk mendorong batu besar hingga ke puncak gunung, untuk kemudian batu tersebut dengan sendirinya menggelinding ke bawah untuk kemudian didorong lagi oleh Sisifus dan demikian ad infinitum. Demikianlah, kata Camus, hidup manusia yang sesungguhnya absurd: Ada upaya pencarian makna terus menerus dari manusia, sambil ia juga mengetahui bahwa makna tersebut, secara inheren, adalah tidak ada.
Ini adalah titik berangkat kita dalam memahami Koleksi, bahwa segala perbincangan di dalam sana antara Harry, Bill, Stella, dan James, adalah upaya pencarian makna terus menerus dalam kehidupan yang tak bermakna. Bahwa apapun itu, tentang apakah Bill dan Stella tidur bersama di Leeds, pada dasarnya, hanya suatu tarik menarik antara yang nyata dan tidak, yang fantasi dan realita, yang kesemuanya berkelindan dalam dialog yang tak berkonklusi, penuh interupsi, dan dipenuhi segala sesuatu yang “saking realistiknya hingga terasa surealistik”. Gaya dialog Pinter yang sering disebut “Pinteresque” ini juga ditandai sebagai sesuatu yang khas, menciptakan batas tipis antara komedi dan suspens, yang membuat orang tertawa dengan perasaan kurang enak.
Namun jauh sebelum Camus menggembar-gemborkan absurdisme di abad ke-20, seorang pemikir asal Yunani, Pyrrho (sekitar 360 SM – 270 SM) telah mengungkapkan dengan mendekati persis apa yang kira-kira dibahas dalam Koleksi. Pyrhho, yang sebenarnya ia tidak menulis karya apapun dan kita bisa mengetahui apa yang ia katakan dari muridnya, Timon, mengajarkan tentang konsep acatalepsy yang berarti “ketidakmungkinan untuk mengerti atau bahkan mempersepsi sesuatu”. Dalam arti kata lain, dalam bahasa Pyrrhonis, pengetahuan manusia tidak akan pernah sampai pada kepastian dan paling banter hanya sampai pada kemungkinan.
“Seluruh pragmata (hal ikhwal, sesuatu, topik) adalah adiaphora (tidak dapat didefinisikan, tidak dapat dikenali), astathmeta (tidak stabil, tidak seimbang, tidak dapat diukur), dan anepikrita (tidak dapat diputuskan). Maka itu, tidak ada satupun dari penginderaan atau kepercayaan kita mampu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.” – Pyrrho
Pyrrho sedang mengajarkan kita tentang skeptisisme yang kental. Ini adalah perlawanan serius terhadap epistomologi yang seringkali “sok yakin bisa menemukan kepastian”. Padahal Pyrrho berulangkali mengatakan bahwa kita mungkin hanya berfantasi saja bahwa dunia ini terdiri atas segala sesuatu yang teratur dan saling bertalian – seperti James yang menyusun imajinasi tentang perselingkuhan istrinya di dalam kepalanya, padahal secara epistemologi tidak ada yang tahu apa yang terjadi di Leeds -.
Meski terentang ribuan tahun, kita bisa menemukan benang merah yang menarik antara semangat Pyrrho dalam menolak kepastian epistemologi, dengan spirit teater absurd yang menertawakan Abad Romantik Eropa yang dipenuhi dengan kesombongan pencerahan dengan segala keyakinan akan segala sesuatu yang dapat terjelaskan (seperti kata Auguste Comte, tinggal tunggu waktu bahwa umat manusia kelak bisa menjelaskan segalanya dalam bahasa saintifik).
Ujung dari segala optimisme tersebut ternyata hanya perang besar yang memusnahkan jutaan umat manusia, yang membuat seniman dan filsuf mulai merenungkan kembali tentang “pencerahan” sebagai sebuah kepastian semu, dan mari sama-sama mengakui saja bahwa hidup ini tidak bermakna dan kita, manusia, seperti kata Jean Paul Satre, adalah gairah tanpa makna (useless passion).
Wacana tentang kenirmaknaan yang diajarkan melalui teks filsafat tentu saja mengandung contradictio in terminis. Artinya, seandainya Albert Camus menjabarkan filsafat eksistensialisme di ruang kelas (untungnya ia bukan dosen) sehingga mahasiswa menjadi “mengerti”, maka agaknya ada pertentangan antara prinsip ketidakmungkinanmakna dalam absurdisme dan penerimaan makna dalam konteks “mengerti”.
Itulah kenapa absurdisme rajin ditampilkan dalam bentuk karya seni, agar apresiator “mengalami” absurdisme dan bukan “memahami”-nya. Mengapresiasi Waiting for Godot misalnya, agaknya keliru jika kita keluar ruang teater dengan perasaan sumringah dan kepala dipenuhi pencerahan. Reaksi yang “wajar” dalam pemahaman atas absurdisme adalah perasaan mual atas situasi absurd itu sendiri, persis ketika kita sadar bahwa tidak ada yang bermakna dalam hidup ini kecuali jika kita memberinya sendiri.
Mungkin ini hanya satu bentuk pembacaan saja terhadap Koleksi-nya Harold Pinter. Kenyataannya, kita bisa masuk wilayah lain seperti misal psikoanalisis. Kita bisa melihat gelagat James seperti seorang yang awalnya dominan tapi kemudian menjadi submisif karena seolah puas mendengar cerita istrinya diselingkuhi oleh Bill. Ada semacam kenikmatan seksual membayangkan istrinya bercinta dengan pria lain, terlihat dari bagaimana James menginterogasi dengan sangat rinci dan malah terkesan masokistik. Ini sebentuk pembacaan lain yang mungkin, yang sebenarnya menunjukan betapa luasnya naskah Koleksi dapat dibaca lewat berbagai sudut pandang.