Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2016

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Antara Performing Art, Ilmu Komunikasi, dan Pertunjukkan yang Cutting Edge (Sebuah Catatan untuk Mahasiswa)

Harus diakui, ilmu komunikasi merupakan semacam ilmu yang tidak mempunyai kejelasan akar dan buah (filsafat ilmu menyebutnya dengan ketidakjelasan epistemologi). Atas dasar itulah, ilmu komunikasi dapat dijejali oleh bidang-bidang mulai dari filsafat, politik, ekonomi, budaya, teknologi, hingga seni.  Begitupun dengan program studi ilmu komunikasi di kampus saya, ada mata kuliah yang dinamai dengan performing art . Tentu saja, awalnya saya skeptis dengan mata kuliah ini. Seni, yang bagi saya merupakan sesuatu yang adiluhung, mengapa harus tunduk pada ilmu yang menurut hemat saya, amat pragmatis? Singkat cerita, sebagai dosen yang mengampu mata kuliah tersebut, saya jalani saja sambil meraba-raba dalam kegelapan. Silabus ada, tapi masih terlalu umum. Sepertinya performing art di program studi kami lebih diarahkan pada bagaimana menjadi seorang penghibur ( entertainer ) handal, karena terdapat juga pelajaran seperti pengelolaan kesan, hubungan dengan media, dan manajemen even. Meski

Victorian - The Journey: Symphonic Metal Bernuansa Religi

Tanggal 24 Maret kemarin, di sebuah kafe yang sedang mengadakan acara musik jazz, saya disodori sebuah album CD dengan deskripsi sebagai berikut: Sampulnya bergambar perempuan bermain biola, mengenakan gaun hitam, dengan latar belakang kastil. Melihat tipografi yang digunakan untuk menuliskan nama band ini, yaitu Victorian, sudah dapat diperkirakan bahwa jenis musik yang diusungnya adalah metal. Pun jika melihat judul-judul lagunya yang mengandung kata-kata seperti " sorrow ", " lie ", " enemy ", " weak ", kita bisa tahu bahwa kemungkinan besar memang metal-lah musik yang dibawakannya. Singkat cerita, saya diminta untuk me- review album berjudul The Journey ini. Makan waktu lebih dari satu bulan untuk me- review album ini. Bukan semata-mata karena saya sok sibuk, melainkan kenyataan bahwa referensi saya tentang musik metal ini biasa-biasa saja. Mungkin iya sedari kecil saya suka Metallica dan pernah menyaksikan langsung pertunjukkan li