Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2012

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Refleksi dan Kapitalisme

Refleksi disini bukanlah refleksi dalam arti merenung. Ini adalah pengertian refleksi secara sederhana: pijat kaki! Refleksi adalah salah satu kegiatan favorit saya sebulan sekali. Ini adalah fase dimana saya mengalami relaksasi total dengan cara dipijat di tempat yang adem dan dilatari alunan musik India. Mewah? Ya dan tidak. Dari segi fasilitas dan tingkat kenyamanan, boleh dibilang saya tengah bermewah-mewah. Karena siapa yang tidak merasa jadi raja, ketika kakinya dielus-elus sementara kita sendiri tiduran? Tapi harganya sendiri bisa dibilang murah, cuma lima puluh ribu sekali pijit. Di tempat refleksi terkenal di Sukajadi saja, harganya cuma lebih mahal dua ribu dari pasaran pada umumnya.  Namun inilah yang disebut oleh kawan saya, Tobing, sebagai, "Sebetulnya seluruh istirahat kita, digunakan juga untuk bekerja di hari berikutnya." Maksudnya, jika kita menggunakan perspektif weekday dan weekend : Apa arti dari weekend selain daripada sebuah persiapan unt

Margahayu Raya

Setelah menikah, saya bermukim di Margahayu Raya. Rumah ini tidak asing sama sekali. Ini adalah rumah tempat saya menghabiskan masa kecil hingga sekitar kelas 4 SD sebelum pindah ke Rebana, daerah Buah Batu. Ini adalah rumah yang dulu saya seringkali malu jika harus menyebutkan dimana letaknya, karena terhitung sukar dijangkau dan agak-agak pinggiran.  Namun rupanya Margahayu Raya kini reputasinya tidak lagi pinggiran. Bukan berarti lokasinya menjadi bergeser, melainkan apa yang dinamakan 'kota' itu sendiri terus menerus memperluas dirinya. Yang dinamakan kota, dari tadinya sebatas Alun-Alun, Braga, Dago, atau daerah-daerah di utara rel kereta, sekarang memasuki wilayah selatan. Kota bukanlah sebuah wilayah, melainkan akses dan fasilitas. Margahayu Raya dulu dinamai pinggiran karena aksesnya yang sulit plus fasilitas yang terbatas. Akan saya ceritakan bagaimana kami sedemikian dimudahkannya oleh fasilitas. Mau masak, tukang sayur hanya berjarak tiga menit jalan kaki.

Absurditas

Belakangan saya mulai paham pemikiran para eksistensialis yang dulu sempat saya tertawakan. Mereka sering merenungkan tentang ketidakbermaknaan hidup, tentang mengapa saya ada, dari mana, dan mau kemana. Apakah betul-betul senestapa itu kehidupan? Kehidupan, agaknya, menjadi penuh tanda tanya karena kematian. Kematian adalah satu-satunya yang absolut karena semua manusia mengalaminya. Namun tidak ada seorangpun yang bisa membuktikan apa yang terjadi pasca kematian. Semua punya cerita versinya sendiri. Orang-orang Etruscan menciptakan versi kematian dengan monster hijau yang siap menanti siapapun yang pengecut melawan Romawi. Buddha percaya reinkarnasi, bahwa yang mati kelak akan hidup kembali jadi sesuatu, tergantung baik-buruk yang pernah kita perbuat. Ketika kematian bisa diberi nilai oleh siapapun, artinya kematian itu sendiri tidak punya nilai sama sekali! Maka logika yang sama bisa dikenakan pada kehidupan. Kehidupan, alangkah setiap hari kita menemukan banyak penilaian t

Autocorrects

Sejak tiga bulan belakangan saya mengikuti akun twitter seorang komedian ber- username autocorrects . Pengikut ia pun tidak sedikit, mencapai lebih dari dua juta orang. Dalam sehari, autocorrects bisa berkicau lebih dari dua puluh kali dan rata-rata ratusan orang melakukan re-tweet pertanda setuju atau suka. Saya sendiri termasuk orang yang menyukainya. Ini beberapa contoh tweet -nya: Starting a blog, making a few posts, then ending up forgetting about it. I speak a language that is universally known. It’s called Fuck You. I Love finding money in my clothes. It’s like gift to me.. from me. I always find myself thinking about what some random celebrity is doing at this moment. Lazy rule: can’t reach it, don’t need it. Kicauannya nampak tidak istimewa, atau setidaknya: tidak filosofis atau tidak saintifik sekalipun. Tapi itu bukan sama dengan kita tidak menemukan kebenaran di dalamnya. Pada umumnya, twitter sendiri memang berisikan soal “ucapan-