Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2013

Tentang Perempuan Bernama NK

Pada tanggal 21 Agustus 2024, seorang perempuan, mantan mahasiswi, menjangkau saya via DM Instagram untuk mengucapkan simpati atas hal yang menimpa saya. Singkat cerita, kami berbincang di Whatsapp dan janjian untuk berjumpa tanggal 6 September 2024 di Jalan Braga. Tidak ada hal yang istimewa. Dia sudah punya pacar dan juga memiliki mungkin belasan teman kencan hasil bermain dating apps .  NK baru saja bercerai dengan membawa satu anak lelaki. Dia adalah mahasiswi yang saya ajar pada sekitar tahun 2016 di sebuah kampus swasta. Dulu saya tidak punya perhatian khusus pada NK karena ya saya anggap seperti mahasiswa yang lainnya saja. Namun belakangan memang dia tampak lebih bersinar karena perawatan diri yang sepertinya intensif. Selain itu, bubarnya pernikahan selama sebelas tahun membuatnya lebih bebas dan bahagia. Sejak pertemuan di Jalan Braga itu, saya tertarik pada NK. Tentu saja NK tidak tertarik pada saya, yang di bulan-bulan itu masih tampak berantakan dan tak stabil (fisik, ...

Purifikasi

  Manusia pada dasarnya punya sifat malas. Itu sebabnya dianugerahi kita cara berpikir generalisasi. Kant mengatakan sudah fitrahnya manusia berpikir secara generalisasi. "Jika batu dijatuhkan dua kali dan ia memang jatuh ke bumi, maka sudah pasti manusia akan berpikir bahwa demikian halnya yang ketiga kalinya," begitu kira-kira ujarnya. Cara berpikir semacam ini berlanjut pula ke bagaimana ia memahami lingkungan sosialnya. Tidak banyak manusia yang mau dengan sungguh-sungguh menelaah individu per individu untuk mengetahui kedalamannya. Rata-rata mereka mengambil satu dua sampel saja untuk dijadikan apa yang disebut: stereotip. Ketika misalnya saya pernah mendapati orang Arab yang ramah, saya akan katakan: orang Arab ramah-ramah. Sebaliknya ketika ada orang Arab yang jahil, saya akan bilang: orang Arab jahil-jahil. Begitu pemalasnya saya untuk mengatakan: Ada orang Arab yang jahil, ada orang Arab yang ramah. Rupanya kalimat semacam itu terlalu abu-abu untuk diceritakan pada o...

Blade Runner (1982): Distopia yang Masokistik

Meskipun reputasinya sudah beberapa kali saya dengar, namun baru semalam saya kesampaian nonton film Blade Runner . Ekspektasi ketika memutar film ini cukup tinggi. Saya sedang enggan berpikir yang berat-berat sehingga berharap bahwa film ini akan berisi aksi-aksi menawan sehubungan dengan yang main adalah Harrison Ford. Namun lama kelamaan disaksikan, 10 menit; 20 menit; 30 menit; hingga satu jam; saya mulai merasakan bahwa film ini tidak ada tendensi ke arah laga. Film ini punya bau-bau filosofis yang membuat saya paham mengapa Mas Ismail Reza beberapa kali mengangkat wacana untuk mendiskusikan film ini. Jika hanya sekadar film laga, untuk apa kita berdiskusi, kan? Blade Runner mengambil tempat di tahun 2019. Sebuah situasi distopia masa-depan yang ditandai salah satunya oleh terciptanya kloning manusia bernama replicant . Replicant versi terbaru, yakni Nexus 6, adalah replicant yang paling menyerupai manusia dari segi baik emosi maupun intelegensia. Untuk apa replicant ini di...

Dunia

Waktu kecil, saya sering meyakini bahwa apa yang saya pikir bagus, berarti itu juga bagus di mata dunia. Seperti misalnya, Indonesia yang sering dipuja-puji sebagai negara kepulauan besar dengan beragam kekayaan alamnya, bagi saya itu merupakan negara terbaik di dunia dan bahkan secara ukuran adalah yang paling besar. Lantas saya pernah mengagumi seorang pemain sepakbola di masa SMP namanya Decky. Saya pikir dia bisa disejajarkan kehebatannya dengan pemain kelas dunia Alessandro Del Piero.  Lantas ada masa ketika saya ingin mendunia seperti apa yang selama ini saya idolakan. Ingin menjadi pemain catur terhebat di dunia, pemain sepakbola terhebat di dunia, gitaris terhebat di dunia, dan seterusnya dan seterusnya. Saya berlatih keras, mengejar mimpi-mimpi itu sampai tiba pada satu pertanyaan: Apakah yang dimaksud "dunia" itu sebenarnya? Apakah "dunia" itu berarti kita dikenal di setiap orang di seluruh dunia? Misalnya saya jalan-jalan ke Finlandia atau ke Guyana ...

Kelas Filsafat (Pertemuan 3): Eksistensialisme Soren Kierkegaard

Diambil dari www.dparamithap.tumblr.com Setelah diliburkan selama dua minggu akibat berlangsungnya ujian tengah semester juga adanya kesibukan sang pengajar sebagai musisi bandung masa kini (iya, musisi bandung yang sedang sibuk manggung sana-sini katanya), kelas filsafat telah kami laksanakan kembali pada Kamis, 2 Mei 2013 yang lalu. Pertemuan ketiga ini dilakukan setengah jam lebih lambat dari biasanya, sekitar pukul 11.15, akibat Manda dan saya sendiri yang bangun dan datang ke kampus dengan terlambat (pengakuan dosa). Kelas yang biasanya kami selenggarakan di perpustakaan FIB kali ini terpaksa harus direlokasi karena entah kenapa pada Kamis yang lalu perpustakaan begitu penuh dengan para mahasiswa yang sepertinya sedang mengerjakan tugas. Agar mendapatkan suasana baru yang lebih tenang, kami memutuskan untuk berdiskusi outdoor, di bangku-bangku biru samping pakilun, persis di depan kansas. Peserta kelas filsafat kali ini kembali ke formasi awal—Kang Syarif, Manda, dan saya....