Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2013

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifika

Latihan

Belakangan ini saya sedang sering berinteraksi dengan pemain biola bernama Ammy Kurniawan dan guru gitar jazz yang bernama Venche Manuhutu. Kang Ammy maupun Pak Venche, keduanya sudah dapat dikatakan senior dan mungkin keaktifannya untuk tampil di atas panggung sedikit demi sedikit mulai dikurangi. Keduanya sekarang lebih banyak mengajar di tempatnya masing-masing dan berupaya melahirkan musisi-musisi baru. Namun ada kesibukan yang sama-sama dijalani keduanya, yang barangkali lebih rutin dari mengajar itu sendiri, yakni: Latihan. Kita punya suatu logika sederhana disini, tujuan dari latihan adalah untuk tampil, adalah untuk manggung. Terus, jika sudah jarang manggung, untuk apa latihan? Latihan yang dilakukan oleh Kang Ammy dan Pak Venche, setahu saya, juga tidak sebentar. Mereka rata-rata menghabiskan minimal dua hingga empat jam per hari untuk melenturkan jari-jari. Tapi otak dangkal saya bertanya: Tapi jika tidak untuk main, lantas untuk apa latihan? Pak Venche bahkan berkata s

Catatan-Catatan tentang Musik

  Pertama-tama harus ditekankan bahwa membicarakan musik adalah suatu paradoks. Paradoks dalam arti, saya percaya bahwa musik adalah suatu entitas yang berada di luar bahasa. Ketika kita berupaya membicarakan musik, maka sesungguhnya hal tersebut tidak bisa betul-betul menyentuh si musik. Bahasa hanya bisa menyentuh luaran-luarannya saja. Musik adalah sesuatu yang hanya bisa kita setubuhi langsung saja untuk memahaminya. Namun juga saya percaya bahwa manusia kerap rindu untuk menangkap segala fenomena agar dapat dikurungnya dalam bahasa - meski mereka paham bahwa bahasa hanya untuk mendekati realitas saja dan bukan merepresentasikannya secara utuh -. Jadi mari kita nikmati paradoks tersebut secara asyik saja.  1. Musik dan Definisi Bukan tanpa dasar jika mereka, para penggelut di bidang musik, entah itu komposer atau musisi, punya definisi sendiri-sendiri tentang musik. Meski mereka menyetubuhi langsung musik dalam pengalamannya, namun tetap saja ada kerinduan untuk -itu tadi-

Kelas Filsafat (Pertemuan 2): Eksistensialisme Friedrich Nietzsche

  Diambil dari www.dparamithatp.tumblr.com Kelas filsafat kami ini tidak lagi saya sebut “ilegal”. Karena dengan menyematkan “ilegal”, berarti saya mengakui eksistensi sistem yang “legal”. Padahal sebenarnya kami tidak butuh mengakui apapun untuk menyelenggarakan kelas filsafat ini. Hajar we, bebaskeun! (Terima kasih pada Kimung yang sudah menyadarkan saya akan hal ini, hehe). Pertemuan kedua kami dalam kelas filsafat berlangsung pada 11 April 2013. Lagi-lagi di hari Kamis, pukul 10.45 WIB, di perpustakaan FIB yang begitu tenang. Bedanya, kali ini kami tidak hanya bertiga—Kang Syarif, Manda, dan saya. Ada tambahan empat orang personil yaitu Ibu Susi (dosen Sastra Rusia yang juga mengepalai perpustakaan FIB) dan tiga orang murid Kang Syarif dari Sastra Inggris. Pokok bahasan kami masih dalam tema eksistensialisme namun kali ini kami membahas tokoh yang berbeda yaitu Friedrich Nietzsche. Nietzsche dilahirkan di akhir abad 19, dalam keluarga dengan latar belakang K

Kelas Filsafat Ilegal (Pertemuan 1): Eksistensialisme Jean Paul Sartre

  Diambil dari www.dparamithatp.tumblr.com Setelah melalui beragam kompromi sejak beberapa minggu ke belakang, akhirnya pada 4 April 2013 kami berhasil merealisasikan wacana “kelas filsafat ilegal” bersama salah seorang intelektual muda Bandung yang juga berprofesi sebagai dosen di Universitas Padjadjaran, Kang Syarif Maulana. Mengapa dikatakan “ilegal”? Karena kelas filsafat ini kami lakukan secara gerilya di luar jam perkuliahan, tanpa berbayar, dan hanya didasari oleh “panggilan jiwa” yang begitu kuat. Oh betapa mulia! Pertemuan pertama “kelas filsafat ilegal” yang berlangsung di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya ini dihadiri oleh tiga orang saja yakni Kang Syarif, Manda, dan saya. Meskipun hanya bertiga, kami tetap menjalankan diskusi dengan bersemangat dan penuh atensi. Atmosfir perpustakaan FIB yang begitu tenang sangat mendukung kondusifitas pertemuan kami. Tema yang diangkat pada kesempatan kali ini adalah eksistensialisme yang secara spesifik dicetuskan