Pages

Demotivasi dan Anjing


Dalam beberapa hari ini, Demotivasi 2 sedang dikirim-kirimkan pada mereka yang memesan sejak sebelum buku dicetak atau biasa disebut pre-order. Buku-buku ini rata-rata dikirimkan melalui jasa ekspedisi dan pada jarak dekat sekalipun, biasanya perlu minimal satu hari hingga sampai ke tangan penerima (jika dikirim hari ini, maka setidaknya besok baru sampai). Salah seorang pembeli, teman saya, Pangestu Hning Bhawana atau biasa dipanggil Estu, bertanya-tanya mengapa pesanannya tidak kunjung tiba padahal ia telah menunggu tiga hari. Pada keluhan-keluhan semacam itu saya hanya bisa mengatakan, "Tunggu saja." 

Di hari keempat, Estu mengirim pesan berupa gambar bahwa bukunya telah sampai, tetapi dalam keadaan rusak. Rusak kenapa? Rupanya kurir ekspedisi melemparkan buku tersebut dan jatuh di kandang anjing. Si anjing mengoyak-ngoyak si buku hingga sebagian besar isinya tidak bisa dibaca. Saya turut sedih dengan kejadian itu dan mengirimkan buku yang baru sebagai pengganti. Di waktu bersamaan, Estu mengirimkan foto si anjing yang entah kenapa nampak murung. 

Saya senyum-senyum melihat kaitan antara demotivasi dan anjing. Di esai pertama dalam buku Demotivasi 2, saya menyebutkan bahwa demotivasi bukanlah sesuatu yang baru. Maksudnya, dalam dunia pemikiran, sudah ada gagasan yang serupa, yang tertuang dalam -isme -isme seperti sinisme, pesimisme, absurdisme dan nihilisme - dari mereka, demotivasi mengambil inspirasi. Sinisme diambil dari istilah dalam bahasa Latin yaitu canninus yang artinya "seperti anjing" (dog-like). Secara prinsip, sinisme menolak segala hal tentang masyarakat dan berbagai produk yang dihasilkannya, serta memilih untuk hidup sesuai kehendak alam. Pertanyaannya, dengan prinsip semacam itu, mengapa mereka disebut "seperti anjing"? 

Saya menemukan jawaban yang lumayan memuaskan dari buku berjudul Classical Cynism: A Critical Study (1996) yang ditulis oleh Luis E. Navia. Di dalamnya dituliskan pendapat Aristoteles tentang mengapa kaum sinis ini disebut "seperti anjing" - Aristoteles berkomentar dengan nada yang kurang positif. Alasan-alasannya adalah sebagai berikut: (1) Mereka membedakan cara hidup dirinya dengan orang lain lalu bangga dengan perbedaan tersebut. Seperti anjing, mereka juga makan dan bercinta di depan umum, berjalan tanpa alas kaki dan tidur di tong atau di persimpangan jalan; (2) anjing adalah binatang yang tidak tahu malu dan kaum sinis membanggakan rasa ke-tidaktahumalu-an tersebut; (3) anjing adalah penjaga yang baik dan kaum sinis adalah penjaga bagi prinsip-prinsip filsafatnya sendiri; (4) anjing adalah hewan yang mampu membedakan mana yang kawan dan mana yang lawan. Seorang sinis akan ramah terhadap kawannya, yaitu mereka yang cocok dengan filsafatnya dan akan galak terhadap lawannya yang dianggap tidak cocok dengan filsafatnya. 

Buku demotivasi dikoyak-koyak anjing dan bagi saya ini peristiwa yang sungguh filosofis. Saya tidak bisa menerka apa maksud si anjing merusak buku tersebut, tetapi saya bisa berimajinasi: anjing itu adalah perwujudan dari sinisme yang ingin membaca bagaimana jadinya sinisme di masa kini. Namun karena jari-jarinya tidak cukup ideal untuk membuka halaman demi halaman dari buku, ia malah merusak dengan cakar-cakarnya. Meski demikian, saya yakin si anjing sudah menyerap intisarinya. Itu sebabnya, ia muram.

Syarif Maulana

No comments:

Post a Comment

Instagram