Pages

Obrolan Tiga Jam di Bandara bersama Banin Diar Sukmono



Pada hari Kamis, 28 Juli kemarin, saya bertemu dengan Banin Diar Sukmono di bandara Soekarno Hatta. Siapakah Banin ini? Dia adalah lulusan filsafat UGM dan cukup aktif mendirikan berbagai kelompok kajian filsafat di Yogyakarta seperti Ze-No Center for Logic and Metaphysics dan LSF Cogito. Meski awalnya muncul dari tradisi filsafat kontinental (memangnya siapa yang tidak dari kontinental di Indonesia?), pada perkembangannya, Banin dan teman-temannya memutuskan untuk fokus pada kajian filsafat analitik. Jujur, nuansa kelompok Banin ini agak-agak "menakutkan", tapi harus diakui, mereka ini memberikan angin segar bagi pemetaan filsafat di Indonesia yang sangat kental dengan tradisi kontinental. Tidak bisa dibantah bahwa popularitas filsafat analitik di Indonesia menjadi meningkat berkat mereka, selain juga oleh kiprah pemikiran Martin Suryajaya. 

Lalu, mengapa saya menyebut mereka ini agak-agak "menakutkan"? Pada titik tertentu, bisa dipahami. Filsafat analitik berkutat dengan investigasi terhadap bahasa, akal budi, logika dan metafisika, sehingga menjadi sangat teliti dalam mengecek landasan pemikiran dan penarikan kesimpulan. Dengan demikian, berfilsafat menjadi tidak seleluasa "boleh memikirkan dan mengatakan apapun" karena para filsuf analitik memberlakukan kriteria yang ketat dalam berpikir dan menyatakan gagasan. Berangkat dari situ, Banin dan teman-temannya terasa seperti "polisi di media sosial" yang siap menggugat siapapun yang tidak ketat dalam menuliskan proposisi. Mereka juga memang kelihatannya senang sekali berdebat dan cukup punya energi untuk melayani beraneka pertentangan dengan prinsip "menolak jalan tengah" (jangan kompromis, pokoknya hasilnya harus benar atau salah, "kalah" atau "menang"). 

Setidaknya itulah citra yang saya tangkap tentang Banin dan teman-temannya. Namun di sisi lain saya juga bersyukur dengan kehadiran kelompok ini, karena dengan begitu saya menjadi sangat berhati-hati sebelum melontarkan pernyataan di ruang publik virtual. Selain itu, pembahasan yang mereka lakukan di komunitasnya pun sangat berbeda dengan materi-materi filsafat yang biasa saya terima. Pernah beberapa kali saya ikut kajian Ze-No dan merasa kebingungan sampai-sampai bertanya dalam diri: "Mereka ini sebenarnya membicarakan apa?" Hal demikian memaksa saya belajar lagi: ternyata ada dunia filsafat yang masih asing, begitu tidak saya kenali karena selama ini jujur saja, belajar filsafat ya belajar filsafat saja, tidak ada pemisahan antara analitik dan kontinental. Betul bahwa saya pernah bersentuhan dengan teksnya Kant dan Wittgenstein, misalnya, dan saya baru tahu bahwa topik-topik mereka dapat digolongkan sebagai analitik. Namun apa yang saya pelajari tersebut tidak bisa dikatakan mendalam dibandingkan dengan yang teman-teman ini lakukan: mereka menunjukkan ketekunan luar biasa terhadap hal yang kita sebut saja sebagai sesuatu yang bersifat "metafilsafat", yang kajian tentangnya biasanya dianggap sebagai hal mengerikan, kurang praktis dan maka itu dibahas hanya sepintas saja. 

Dalam perjalanannya, saya semakin mengenal teman-teman ini dengan baik dan meski "menakutkan" dari segi pemikiran, mereka ini secara personal sangat ramah dan menyenangkan. Itulah mengapa saya rela untuk menemui Banin meski harus menempuh perjalanan empat jam dari Bandung supaya bisa mengantarkannya beberapa jam sebelum terbang ke Amerika. Oh ya, Banin sukses mendapat beasiswa untuk berkuliah di program master filsafat di Universitas Kansas. Berdasarkan pembacaan saya terhadap komentar teman-temannya di Twitter, Banin berjuang keras untuk bisa bersekolah di luar dan menantikannya cukup lama. Saya yakin, tidak akan sia-sia bertemu orang yang begitu mendedikasikan hidupnya pada filsafat. 

Kami bertemu sekitar pukul setengah delapan malam atau sekitar sebelas jam sebelum Banin terbang menempuh perjalanan 23 jam. Ia datang bersama kekasihnya, Inna, dan kami ngobrol hingga tiga jam. Harusnya kami ngobrol lebih panjang, tapi apa daya saya dibatasi oleh jadwal Damri terakhir yang berangkat pukul sebelas malam. Kami membicarakan filsafat, tentu saja, tetapi tidak dalam artian ketat seperti sedang berdebat di Twitter atau presentasi di Zoom. Kami mengobrol dalam suasana yang hangat sekali dan sepertinya kami hampir selalu tertawa dalam merespons setiap kalimat. Lalu muncul pengakuan itu, pengakuan bahwa Banin mulai memikirkan bahwa filsafat tidak perlu benar - salah, "kalah" - "menang", tetapi pada titik tertentu, "kompromistis" itu bisa saja (meski ia hati-hati sekali mengatakannya). Saya mengerti: "kompromistis" bukanlah kata yang menyenangkan karena filsafat punya tendensi mencari pendasaran yang kokoh. "Kompromistis" di sini mungkin bukan diartikan sebagai sesuatu yang lembek dan mengalah, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai dampak dari bacaan yang kian luas dan realitas yang kian dialami plus didalami: ternyata segala sesuatu tidak seketat yang dipikirkan. Hubungan personal semacam ini, yang kami manifestasikan lewat tiga jam kebersamaan, menempatkan filsafat hanya sebagai "topik pembicaraan" yang tampak jenaka dan sia-sia. Dapat dikatakan dengan lebih tegas, bahwa filsafat hanya sebagai "topik untuk menertawakan diri sendiri". Filsafat yang ketat bisa jadi hanya ada dalam pikiran dan tidak sungguh-sungguh berfungsi dalam obrolan antar "sahabat lama" (padahal baru berjumpa). 

Hal tersebut membawa kami merenungkan hubungan antara filsafat dan hubungan pribadi. Filsafat menjadi "mudah" dipandang sebagai sesuatu yang rijid jika kita tidak berhubungan baik dengan orang lain yang memikirkannya. Namun saat kita punya hubungan personal, filsafat ternyata menimbulkan banyak pertimbangan: apakah gagasan saya akan melukainya? Apakah pemikiran saya akan membuat relasi saya dengan orang lain menjadi berantakan? 

Filsafat analitik bagi saya, tetap tidak bisa diturunkan dari singgasananya sebagai "filsafat yang dingin", yang memang posisinya harus tegas dan tanpa kompromi, tetapi pertemuan dengan Banin membuat saya lebih hangat dalam melihat aliran filsafat tersebut. Ketika saya bertemu gagasan filsafat analitik, tidak serta merta saya mengingat wajah Frege, Russell, Quine atau Kripke yang angker-angker itu, tetapi juga teringat wajah Banin dan teman-temannya, yang menempuh jalan sunyi filsafat sambil menghadapi kenyataan hidup di Indonesia yang dipenuhi persoalan. 

Saya membayangkan apa yang dibayangkan Banin sepanjang 23 jam perjalanan: ia tidak lagi hanya memikirkan bagaimana menyelesaikan problem filsafat kontemporer, melainkan juga problem kehidupan pada umumnya. Obrolan demi obrolan yang "getir" itu, adalah kehidupan.

Syarif Maulana

No comments:

Post a Comment

Instagram