Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2022

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Tentang Keramahan

Bagaimana menerjemahkan hospitality ? Keramahan mungkin bisa, meski tidak persis menggambarkannya, tapi kita anggap saja kata "keramahan" yang dimaksud dalam tulisan ini, merupakan terjemahan dari hospitality . Filsuf Prancis, Jacques Derrida, pernah menulis gagasannya tentang keramahan dalam buku berjudul Of Hospitality yang isinya terdiri dari dua tulisan yang diambil dari kuliahnya, yang satu berjudul Foreigner Question dan lainnya bertajuk Step of Hospitality/ No Hospitality . Dalam tulisannya tersebut, Derrida berangkat dari pernyataan Kant tentang " universal hospitality " yang diartikan sebagai: “(…) the right of a stranger not to be treated as an enemy when he arrives in the land of another. One may refuse to receive him when this can be done without causing his destruction; but, so long as he peacefully occupies his place. one may not treat him with hostility .” Derrida mengritik pandangan Kant dalam Perpetual Peace tersebut sebagai "keramahan bersy

Birokrasi

Di waktu yang lampau, saya lupa persisnya, tapi mungkin lebih dari sepuluh tahun yang lalu, saya pernah diminta tampil di acara makan malam di sebuah kafe di Hotel Papandayan. Saya lupa nama kafenya, tapi mungkin juga tidak terlalu penting untuk mengingat namanya. Hal yang lebih penting adalah saat itu yang menjadi salah satu tamu adalah Jusuf Kalla, yang entah tengah menjabat sebagai wakil presiden atau belum, yang pasti, dia dikategorikan orang penting di negeri ini. Hal yang saya ingat lainnya adalah saya tampil bersama pemain biola bernama Yulius Racaly atau biasa dipanggil Kwang Kwang. Kami bermain berdua saja.  Makan malam itu kelihatannya mewah, setidaknya jika dilihat dari bagaimana makanan disajikan secara bertahap, beberapa kali, dan memang harga menunya mahal-mahal. Tapi ya, fakta tersebut tidak ekuivalen dengan honor kami selaku pemusik, bahkan kami tidak diberi makanan yang sama dengan menu-menu mahal tersebut. Namun sudahlah, itu bukan hal yang hendak dibahas dalam tulisa

Hubungan Cinta dan Benci dengan Ilmu Komunikasi

Ilmu komunikasi bukan ilmu favorit saya. Bahkan agak menjadi perdebatan untuk mengatakannya sebagai sebuah ilmu. Maksudnya, pertama, kegiatan komunikasi secara inheren ada pada segala tindakan kita. Bahkan, berbicara dengan diri sendiri pun dapat dikatakan sebagai kegiatan berkomunikasi (sering disebut sebagai komunikasi intrapersonal). Artinya, komunikasi tidak perlu dipelajari secara khusus, atau, kalaupun iya, lebih dekat ke praktik ketimbang teori. Dalam hal tertentu, orang bisa berkomunikasi dengan baik bukan karena memahami teorinya, melainkan karena sering mempraktikannya. Kedua, kalaupun ada yang dinamakan ilmu komunikasi, lebih tepat jika digunakan untuk mengkaji media dan karakteristiknya, sehingga menjadi jelas objek kajiannya, tidak kawin sana-sini, seolah punya justifikasi bahwa "ilmu komunikasi bisa membahas segala hal" seperti komunikasi pemasaran, komunikasi visual, komunikasi kesehatan, dan sebagainya. Padahal, tanpa kata "komunikasi" di depannya, s

Bergelut dengan Logika Sensasi

Sebenarnya sudah sejak bulan April 2019, saya ditawari oleh Pak Hendro Wiyanto untuk menerjemahkan tulisan Gilles Deleuze yang berjudul Francis Bacon: The Logic of Sensation , yang aslinya ditulis dalam bahasa Prancis dan terbit tahun 1981. Buku yang saya terjemahkan adalah versi Inggris (2003) yang sudah dialihbahasakan oleh Daniel W. Smith.  Saat saya membaca-baca teks ini, sungguh isinya sukar sekali dipahami. Bahkan banyak bagian yang saya bingung: "Deleuze sebenarnya mau membicarakan apa?" Hal yang lebih menyulitkan, Deleuze banyak membicarakan lukisan karya Francis Bacon (Bacon pelukis ya, bukan Bacon filsafat ilmu), tapi lukisan itu sendiri tidak dicantumkan di dalam buku. Artinya, untuk bisa memahami konteks tulisan Deleuze, mesti sering-sering sambil membuka internet dan mencari lukisan yang dimaksud. Bisa dimaklumi, di bagian pengantar penerjemah, disebutkan bahwa jika gambar reproduksi lukisan disertakan, maka bukunya menjadi tebal sekali dan sebaiknya berwarna. Da