Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2022

Psychologismus-Streit dan Asal-Usul Perpecahan Aliran Kontinental dan Analitik dalam Filsafat

  Di akhir abad ke-19, diawali dari usaha pemisahan psikologi dari filsafat, muncul istilah Psychologismus-Streit atau "perselisihan psikologisme". Apa itu psikologisme? Psikologisme adalah pandangan bahwa segala konsep/ gagasan dalam filsafat (batasan pengetahuan, sistem logika, dan lain-lain) dapat ditarik penjelasannya pada pengalaman mental atau proses psikologis (Vrahimis, 2013: 9). Posisi psikologi yang kian mantap dengan penelitian empiriknya membuat filsafat mesti mendefinisikan kembali tugas dan posisinya: jika segala problem filsafat bisa direduksi pada aspek mental, masih adakah sesuatu yang disebut sebagai filsafat "murni"?  Menariknya, perselisihan ini tidak hanya di ranah perdebatan intelektual, tapi juga terbawa-bawa hingga ke ranah politik. Pada tahun 1913, 107 filsuf, beberapa diantaranya adalah Edmund Husserl, Paul Natorp, Heinrich Rickert, Wilhelm Windelband, Alois Riehl, dan Rudolf Eucken menandatangani petisi yang menuntut menteri kebudayaan Jer

Tentang Mindfulness

Bagaimana menerjemahkan " mindfulness "? Saya tidak menemukan persisnya. "Perhatian" adalah kata yang muncul jika kita memasukannya di Google Translate, tapi saya yakin kata tersebut tidak memadai, meski perhatian menjadi salah satu unsur penting di dalam konsep mindfulness . Akhirnya, setelah membaca buku berjudul Mindfulness for Dummies (2010), sepertinya terjemahan 'pemusatan pikiran' lumayan cocok, meski sebelumnya sempat terpikir 'kepenuhan pikiran'. Namun soal translasi ini mungkin tidak perlu menjadi soal, karena lebih penting kita masuki gagasan pokok dari mindfulness itu sendiri (eh, saya ternyata lebih nyaman untuk tidak menerjemahkannya). Oh ya, di sini, selain berusaha menjabarkan secara sekilas (sangat sekilas) tentang apa itu mindfulness , yang akan saya lakukan justru berusaha mengritiknya.  Dalam buku Mindfulness for Dummies tersebut, terdapat beberapa unsur penting yang membentuk gagasan tersebut yaitu kesadaran ( awareness ), perh

Mendaki Bukit Usia dan Tulisan Pak Tuba yang Musikal

Jika kita mengetik kata kunci "Tuba bin Abdurahim" di Google, informasi mengenai nama tersebut sudah cukup ramai, sehingga kiranya tidak perlu lagi di dalam tulisan ini, untuk menceritakan kembali siapa gerangan Pak Tuba. Saya akan lebih menuliskan tentang kesan-kesan saat membaca tulisannya yang bagi saya, jenaka oleh entah apa. Tentu saya punya perbandingan, setidaknya berdasarkan biografi yang saya pernah tuliskan yaitu tentang Pak Awal dalam buku berjudul Nasib Manusia: Kisah Awal Uzhara , Eksil di Rusia (Ultimus, 2021) yang diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan buku Mendaki Bukit Usia (2022) yang merupakan memoar Pak Tuba ini. Keduanya menceritakan sosok pria yang sama-sama menjadi korban tragedi 1965. Bedanya, Pak Awal tidak bisa pulang selama hampir enam puluh tahun di Uni Soviet, sementara Pak Tuba dijadikan tahanan di Pulau Buru. Bedanya lagi, Pak Awal dapat dikatakan berkuliah hingga hampir S3 di Moskow - seorang yang katakanlah, terdidik secara formal -, semen

Trocoh dan Semesta Pengalaman yang Selalu Irelevan, tapi Pasti

Meski menerimanya di waktu hampir berjauhan, kebetulan saya membaca dua buku ini di waktu nyaris bersamaan: Seni sebagai Pembebasan -nya Syakieb Sungkar dan Trocoh -nya Budi Warsito. Walaupun sama-sama menyinggung soal seni, keduanya melakukan pendekatan yang sangat berbeda. Di sini justru saya menemukan jukstaposisi yang menarik: Apa yang dibahas oleh Pak Syakieb, yang berkenaan dengan estetika Theodor Adorno, justru dengan "jenaka", secara tidak langsung, dibatalkan oleh tulisan Mas Budi. Gagasan Adorno, sebagaimana dibahas oleh Pak Syakieb dan saya ulas di tulisan sebelum ini , secara umum menolak musik pop karena sifat fabrikasinya yang mengarah pada pembentukan masyarakat yang homogen - sebagaimana dicita-citakan oleh fasisme. Trocoh -nya Mas Budi justru hendak menunjukkan: musik pop tidak sefabrikatif itu. Sebaliknya, kesadaran-kesadaran kritis justru bisa muncul melalui budaya populer, sebagaimana diperlihatkan oleh Mas Budi, misalnya, dalam tulisan mengenai Senam Kese

Seni Sebagai Pembebasan: Menegasi Usaha Adorno dalam Menegasi

Kelihatannya memang belum ada buku yang membahas gagasan Theodor Adorno tentang seni dalam bahasa Indonesia, sampai akhirnya saya membaca karya berjudul Seni sebagai Pembebasan: Sebuah Telaah tentang Estetika Adorno (Circa, 2022) yang ditulis oleh Syakieb Sungkar ini. Tulisannya lugas dan mengalir (seperti yang disebutkan dalam kata pengantar yang ditulis oleh Simon Lili Tjahjadi), sehingga tidak perlu waktu panjang untuk menamatkan karya dengan tebal 200-an halaman tersebut. Meski demikian, perlu diakui bahwa untuk memahami tulisan Pak Syakieb ini, perlu sejumlah pengertian terkait gagasan dan istilah dari para pemikir sebelumnya, termasuk secara umum berkenaan dengan "gaya berpikir filsafat" itu sendiri. Misalnya, Pak Syakieb tidak banyak menerangkan gagasan Marx (padahal gagasan Adorno banyak dibangun oleh pemikiran Marx, termasuk soal alienasi, fetisisme komoditas dan kritiknya atas dialektika Roh Hegelian), sehingga pembaca diasumsikan sudah paham sejumlah kata kunci da