Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

COVID-19 dan Antroposentrisme

 


Kira-kira sejak minggu ketiga Juni, istri dan saya dinyatakan positif terkena virus SARS-CoV-2 atau lebih dikenal dengan COVID-19. Awal-awal badan mulai terasa kurang sehat, saya tidak langsung was-was bahwa ini adalah gejala yang berhubungan dengan COVID-19. Sekitar tiga hari sejak masa-masa kurang enak badan itu, saya sadar indera perasa hilang saat minum kopi. Besoknya, saya tidak bisa mencium bau kayu putih sama sekali dan akhirnya memutuskan untuk tes PCR. Hasilnya sudah bisa kami duga, bahwa kami terkena virus yang sedang marak tersebut. Bagi saya yang memiliki komorbid, dampak virus ini cukup serius. Setiap harinya, ada saja hal yang tidak mengenakkan mulai dari pegal-pegal, demam tinggi, batuk-batuk hampir sepanjang hari, kehilangan indra pengecap dan penciuman sehingga kurang berselera untuk makan, hingga saturasi yang naik turun (meski tidak sampai terlalu rendah). 

Akhirnya masa-masa sulit itu dilewati selama kurang lebih dua minggu dan kami sekarang sudah berkegiatan normal kembali. Pandemi gelombang kedua ini memang terasa lebih serius, mengingat selain kami sendiri yang dinyatakan positif, teman-teman dan saudara dekat juga mengalami infeksi. Kepanikan orang-orang dalam mencari oksigen, toa masjid yang sehari hingga beberapa kali mengumumkan inna lillahi, hingga pengetatan kegiatan di mana-mana, kian menambah suasana mencekam. Sebelumnya, meski sadar akan bahaya pandemi, tetapi rasanya agak jauh dan ada sebersit pikiran bahwa virus ini tidak mungkin benar-benar menghinggapi kami. 

Tentu ada hal yang patut direnungkan dari seluruh kejadian pandemi yang punya pengaruh sangat besar ini. Banyak orang mengeluh dan menyalahkan virus ini sebagai biang keladi lumpuhnya beraneka kegiatan dan wafatnya sejumlah orang dekat. Sikap semacam itu tentu wajar-wajar saja, tetapi tidak mengubah keadaan dan malah membuat runyam inti persoalannya. Menyalahkan virus justru menunjukkan bahwa manusia sama sekali tidak memandang seluruh persoalan dalam kerangka yang lebih luas. Virus ini bukanlah penyebab, tetapi bisa dilihat sebagai akibat. Akibat dari apa? Antroposentrisme yang kebablasan, yang merusak alam, sehingga virus ini bisa kita bayangkan hadir sebagai usaha alam dalam bertahan lebih lama dari eksploitasi manusia. 

Hal tersebut ibarat orang-orang menyalahkan Adolf Hitler atas terjadinya Perang Dunia II. Padahal jika dilihat lebih luas, pokok persoalannya bukan pada sosok si Hitler itu. Hitler bukanlah sebab, melainkan akibat dari kebencian rasial yang panjang. Kalaupun bukan Hitler, mungkin ada sosok lain yang menggantikannya, yang mungkin saja, lebih brutal. Dalam arti kata lain, jika bukan melalui COVID-19, mungkin alam akan melakukan cara lain dalam merespons sikap manusia yang serakah. 

Demikian, saya bukannya tidak berempati atas siapapun yang wafat di antara kita. Namun dalam kacamata keabadian, segalanya terjadi atas hukum alam yang tidak dapat ditolak. Saat segalanya berlangsung terlalu berat sebelah, akan ada usaha-usaha dari alam untuk menyeimbangkan dirinya, dengan cara apapun. Albert Camus mengatakan, "Apa itu wabah? Wabah adalah hidup, itu saja," ia seratus persen benar soal itu. Virus ini bukanlah suatu benda asing dari luar sana, melainkan bagian dari diri kita, yang berasal dari kita, dan kembali ke kita. Segala umpatan terhadap situasi pandemi, pada dasarnya adalah umpatan terhadap diri sendiri. 

Sekarang mungkin istri dan saya sudah pulih, tetapi dosa-dosa industrial tetap melekat pada kami, yang dengan sembuhnya ini, mungkin akan kembali menjadikan alam sebagai objek untuk dieksploitasi.

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip