Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2022

Kekalahan

Sedang ramai play-off NBA. Tim-tim saling menyingkirkan. Kekalahan tentu sesuatu yang tidak diinginkan oleh tim manapun, tetapi kita bisa bayangkan: kekalahan adalah sekaligus bentuk kelegaan. Para pemain dari tim yang kalah bisa pulang ke rumah lebih cepat dan menonton sisa musim sambil bersantai bersama keluarga. Mereka tak perlu lagi datang setiap hari ke tempat latihan dengan suasana tegang menghadapi pertandingan demi pertandingan. Para pemain bisa rileks dan bahkan bisa makan sesuka hati karena tak ada lagi pertandingan untuk dua sampai empat bulan mendatang.  Kekalahan adalah istilah yang mengacu pada permainan tertentu yang disepakati. Sebuah tim kalah main basket jika skornya berada di bawah tim lawan. Seseorang kalah dalam konteks sekolahan jika tidak lulus ujian atau menempati ranking terbawah. Partai manapun disebut kalah dalam kontestasi politik jika tidak meraih suara yang cukup untuk mengirimkan wakilnya ke parlemen. Kekalahan berlaku untuk suatu permainan, tetapi belum

Olahraga

Olahraga bukan suatu kegiatan yang akrab dengan hidup saya. Meski demikian, ada masa-masa saya menyukai praktik olahraga, tepatnya sepakbola, hingga masa-masa kuliah S1 sebelum akhirnya mesti "pensiun" karena mengalami cedera serius pada lutut. Belakangan, terutama dalam dua tahun terakhir, saya mulai kembali rutin berolahraga meski kecil-kecilan lewat aerobik via instruktur di YouTube. Dulu, berolahraga punya tujuan yang ambisius, yakni ingin menjadi pemain sepakbola profesional. Sekarang, berolahraga bertujuan supaya sehat saja, memperbesar peluang untuk tetap hidup, meski belum tentu juga. Setidaknya dengan berolahraga, badan menjadi lebih segar.  Olahraga yang saya lakukan sekarang, tentu memerlukan waktu luang. Saya bisa berolahraga karena ada waktu santai, meski kadang memaksakan diri juga di tengah kesibukan. Namun saya memikirkan suatu masalah keadilan: apakah mereka yang tidak punya waktu luang, kemudian menjadi tidak punya waktu berolahraga, dan maka itu menjadi sam

Pseudosains

Mungkin tampak jelas bagi sebagian dari kita untuk membedakan mana yang sains dan mana yang bukan. Pawang hujan jelas bukan sains karena seorang pawang bisa bicara tentang "kekuatan pikiran" dan "alat pengendali langit" untuk mengatur turunnya hujan tanpa bisa ditunjukkan apakah fakta bahwa hujan turun atau tidak benar-benar tergantung dari "metode" yang ia praktikkan atau bukan. Katakanlah seorang pawang hujan sudah melakukan ritual ini itu dan ternyata hujan tidak terjadi, maka dengan demikian "metode"-nya tersebut bisa dianggap sahih. Namun di sisi lain, bisa juga kejadian: pawang hujan sudah melakukan ritual ini itu tapi hujan tetaplah terjadi. Jika ditanya, pawang hujan tersebut biasanya menjawab, "Awan sudah kepenuhan dan harus dikurangi bebannya, maka itu dia tidak bisa tidak menurunkan hujan." Apapun yang ia katakan, semuanya tidak bisa dibuktikan. Bahkan meskipun ia menceritakan metodenya secara rinci, toh tidak semua orang bi

Tentang Membaca Pemikiran Latour

Untuk kepentingan sebuah forum, saya diharuskan membahas pemikiran Bruno Latour yang sebelumnya hanya saya terima tipis-tipis dari diskusi antar teman dan kuliah Bu Karlina Supelli. Saya menerima tantangan tersebut dengan hanya mempunyai waktu dua minggu. Iya, dua minggu untuk mengkaji pemikiran dari seorang filsuf yang saya tidak pernah akrabi sebelumnya. Mengapa saya bersedia? Mungkin karena forumnya tidak filsafat-filsafat amat, dan juga Latour adalah pemikir kontemporer yang baru meninggal bulan lalu, sehingga tentu mudah untuk mengakses video-video kuliahnya. Memang tidak sukar menemukan videonya yang cukup banyak itu, baik saat ia memberikan ceramah maupun menjawab wawancara, tetapi ternyata gagasannya tidak mudah juga untuk dicerna. Bahkan dalam beberapa hari pertama saya mulai menggeluti pemikiran filsuf Prancis itu, saya nyaris putus asa.  Setelah menyerah dengan buku primer, saya mengalihkan bacaan ke buku sekunder yang ditulis oleh Gerard de Vries. Pengantar yang diberikanny

Varian

Meski minum kopi setiap hari, saya tidak terlalu paham dengan varian kopi yang banyak itu. Mungkin saya tahu sedikit tentang vietnam drip, V60, karena keduanya begitu mencolok dari tampilannya. Atau saya juga tahu ciri khas espresso yang kuat dan bisa diminum sekali teguk itu. Namun sisanya saya tidak terlalu tahu bedanya dan bahkan tidak terlalu tertarik untuk mengetahuinya. Hal yang lebih penting bagi saya adalah kopi itu jangan manis karena masalah gula darah saya yang tinggi. Jadi pesan kopi apapun saya cuma menambahkan pesan, "Jangan manis ya." Jangan tanya perbedaan cappuccino dan caffe latte, saya paling bingung, meski sudah dijelaskan berkali-kali oleh Si Barista.  Justru saya jadi bertanya-tanya, mengapa segala sesuatu mesti memiliki varian? Kopi ya kopi, mengapa harus ada detail yang membedakan antar jenis kopi? Supaya apa? Tidak hanya pada kopi, tapi juga pada es krim, rokok, steak, bahkan teh. Mengapa kita tidak kembali saja pada fungsi esensial dari masing-masing