Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2022

Tong Sampah

Entah mulai kapan aturan ini, tapi dalam sepakbola, membuka kaos setelah mencetak gol dapat dihukum kartu kuning. Juga dalam sepakbola, pemain tidak boleh lanjut menendang bola jika wasit meniup peluit tanda permainan mesti distop. Ingat kejadian heboh pada bulan Maret 2011 antara Arsenal lawan Barcelona? Robin van Persie menerima kartu kuning kedua karena tetap menyepak bola meski wasit telah meniup peluit tanda offside . Demikian halnya dalam basket, sebuah tim dapat dihukum technical foul jika protes berlebihan atau bereaksi lebay dengan misalnya membanting bola. Apa poinnya?  Kita tentu tidak ingin olahraga hanya sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kita sekaligus ingin melihat emosi di dalamnya. Kita, sebagai penonton, turut menikmati sorak kegembiraan saat pemain mencetak gol, juga sekaligus menikmati kesedihan orang yang gagal mengeksekusi penalti. Itu sebabnya kamera pada tayangan olahraga seperti sepakbola, basket, tenis, badminton, atau voli, beberapa dian

Tentang Sistem

Entah berapa tahun silam, saya pernah ngobrol dengan teman saya, lulusan psikologi, yang memutuskan untuk bekerja sebagai Satpol PP. Tanpa saya menanyakan, ia langsung merasa harus menjelaskan pilihannya tersebut, "Saya melamar pada pekerjaan ini supaya jatah orang yang tadinya kurang kompeten, diberikan pada saya, lulusan S1 yang mungkin lebih kompeten." Maklum, imej Satpol PP selama ini, sependek yang saya tahu, lekat dengan penertiban yang tidak jarang berujung pada kekerasan. Wajah Satpol PP adalah wajah yang ditakuti oleh para pedagang dan pencari nafkah yang melapak di tempat yang katanya tidak boleh. Satpol PP akan mengejar mereka yang nakal, mengangkut gerobak dagangannya, dan memastikan lokasi itu tetap steril. Cita-cita teman saya ini mungkin mulia, supaya Satpol PP lebih baik, lebih lunak, lebih "beradab", lewat pengaruh ilmu psikologi dari seorang lulusan yang rajin.  Saya tidak punya penelitian atau pengamatan serius tentang Satpol PP. Saya juga tidak b

Roger

Beberapa hari yang lalu, Roger Federer memutuskan untuk pensiun. Saya tidak perlu menceritakan siapa Roger dan apa saja pencapaiannya karena segala informasi tersebut beredar luas di internet. Namun apa yang akan dituliskan di sini lebih pada kesan saya menonton Roger dan "hidup bersamanya". Roger tentu saja istimewa bagi banyak orang. Ia tidak hanya meraih banyak gelar Grand Slam, tetapi gaya permainannya juga memikat. Orang boleh mengatakan Nole hebat, Nadal hebat, tetapi kehebatan tidak selalu tentang keindahan. Kehebatan bisa diraih dengan cara-cara yang tidak indah, kehebatan tidak harus diraih "dengan gaya". Kehebatan juga bisa diraih dengan hanya kekuatan, dengan hanya kemenangan demi kemenangan tanpa perlu dipikirkan cara-caranya.  Bahkan keindahan, jika terlalu dipikirkan, bisa jadi merupakan semacam "kejahatan", suatu proses yang bertele-tele untuk meraih hati penonton tanpa harus mencapai tujuan "sebenarnya", yaitu kemenangan. Tim sepa

Perihal Kelas Luring

Kegiatan kuliah di tempat saya mengajar, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, kembali diselenggarakan secara luring pada semester ini. Dosen tetap dapat mengadakan kuliah daring, tetapi dijatah beberapa kali saja dan utamanya tetap harus berlangsung secara offline . Tentunya banyak hal yang membuat saya mesti beradaptasi setelah menjalani serangkaian kuliah daring, baik pada acara kampus maupun non-kampus, di masa pandemi. Misalnya, hal sederhana saja: saya belum terbiasa mengukur waktu untuk bersiap dan melakukan perjalanan menuju kampus. Pada masa kuliah daring, untuk kuliah yang diadakan pukul delapan pagi, saya bisa saja bangun pukul tujuh, leyeh-leyeh , cuci muka pukul 7.45 sebelum mulai menyalakan Zoom dan memasukkan mereka satu per satu ke ruangan. Namun di masa luring, ternyata saya harus bangun pukul enam, siap-siap yang serius (mandi dan mengenakan pakaian yang sopan), dan pergi paling lambat pukul 7.15 supaya tidak terlambat. Dalam hal persiapan ini, tentu kuli

Repetisi Dinamis

Renungan tentang sejarah kelihatannya adalah hal yang paling intens saya lakukan. Memang saya pernah memikirkan sesuatu yang kurang lebih mirip seperti Hegel (walaupun tentu tidak serumit beliau), bahwa sejarah mengarah pada sesuatu yang "lebih baik", "lebih cerah", "lebih maju", sehingga implikasi dari pemikiran semacam itu adalah bahwa sekarang lebih baik dari dulu, masa datang lebih baik dari sekarang. Namun di sisi lain, bahwa ada benarnya, bahwa sejarah tidak ke mana-mana. Apa yang pernah terjadi saat ini, mungkin pernah terjadi juga pada seribu tahun lalu, dengan situasi yang kurang lebih mirip, tetapi cuma "latar"-nya saja yang berbeda. Buktinya, dengan membaca literatur dari masa lampau, kita mendapat semacam panduan untuk menghadapi situasi di masa sekarang. Argumentasi semacam itu juga yang dipegang oleh kaum pendidik dari aliran perenialisme: cukup mempelajari buku-buku babon, maka nilai-nilai di dalamnya dapat digunakan untuk menghada

Jakarta

Sembilan bulan sudah kami tinggal di Jakarta. Sepanjang hidup, memang sudah cukup sering saya pergi ke Jakarta, tapi tidak untuk tinggal dalam waktu yang lumayan lama. Ini adalah kali pertama saya tinggal agak lama di luar kota kelahiran dan tempat saya bertumbuh, Bandung. Saya memilih untuk mengiyakan pindah ke Jakarta karena istri diterima kerja di sana. Oke lah, kenapa enggak untuk nyoba tinggal di luar Bandung? Di Jakarta, saya lebih banyak berdiam di apartemen atau nongkrong di kafe untuk menulis. Sepanjang itu, saya memang ingin lebih fokus menulis sembari mengajar atau mengisi forum di beberapa kesempatan (umumnya masih online ). Karena tidak punya kegiatan yang dikatakan rutin (meski menulis itu ya termasuk rutin), saya punya cukup waktu luang untuk bertemu beberapa kawan.  Apa yang bisa dikatakan tentang Jakarta? Dibandingkan dengan umumnya orang-orang yang saya temui di Bandung, orang-orang di sekitaran apartemen tempat kami tinggal bukanlah orang yang terlalu senang beramah