Skip to main content

Posts

Showing posts from 2024

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifika

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifika

Uang

Cita-cita punya banyak uang bukanlah hal yang aneh dan bahkan sudah menjadi motif tertinggi dalam hidup. Orang yang tidak ingin banyak uang kemudian dianggap aneh. Di sisi lain, ada juga ajaran asketik yang melihat uang sebagai sumber segala persoalan. Penolakan terhadap uang menjadi ekstrem dan bahkan kepemilikannya secara berlebihan dipandang sebagai dosa atau malapetaka. Menariknya, Georg Simmel, penulis Philosophy of Money melihat bahwa asketisisme soal uang lahir dari fenomena keberadaan uang itu sendiri. Artinya, tanpa adanya uang, tidak akan ada orang yang begitu serius mempertahankan diri dari godaan uang. Lalu, kenapa uang begitu dikejar sekaligus ditolak? Apa yang sebenarnya dikejar atau ditolak dari sekadar kertas bergambar atau kepingan logam? Bayangkan kita membawa uang kertas satu milyar dalam sebuah kantong lalu terdampar di pulau terpencil yang kita tidak tahu negara mana yang berdaulat atas pulau tersebut. Terdapat ratusan penghuni asli pulau tetapi mereka hanya men

Kenyataannya, Hidup Kita Memerlukan Spoiler

Belakangan tengah marak status, cuitan, ataupun meme tentang hujatan bagi mereka yang melakukan spoiler. Apa itu spoiler ? Spoiler adalah kegiatan menceritakan atau membocorkan sesuatu dalam cerita atau tontonan, sehingga orang yang belum melihatnya menjadi mengetahui sebuah plot atau alur.  Kegiatan spoiler dianggap menyebalkan karena bagi mereka yang belum menyaksikannya, spoiler merusak imajinasi dan hasrat untuk menyaksikan keseluruhan pertunjukkan beserta elemen-elemen kejutannya. Rasa tidak tahu dan kemudian menemukan sendiri adalah gairah yang mungkin diidam-idamkan bagi mereka penyaksi tontonan sejati.  Bertepatan dengan rilis film baru tahun 2019, Avengers: End Game , hukuman sosial terhadap para pelaku spoiler ini kian diangkat, terutama di kalangan warganet. Hukuman tersebut tidak hanya dalam bentuk celaan singkat, tapi juga ada argumentasi yang panjang dan serius, tentang betapa para pelaku spoiler telah menyia-nyiakan uang, waktu, dan tenaga yang disisihkan oleh publik

Hidup yang (Tidak) Dilindungi

Setiap hari kita bertemu macam-macam orang tak dikenal. Kita tidak tahu apakah orang-orang tersebut baik atau jahat. Mereka bisa saja tiba-tiba memukul atau bahkan saling menusuk satu sama lain. Kita tidak pernah tahu. Bahkan pada orang yang dikenal pun, kita tidak pernah tahu kalau ternyata tetangga kita, misalnya, sudah merencanakan sejak lama untuk menggarong rumah kita (padahal sehari-harinya tetangga tersebut tampak sangat ramah). Manusia kemudian berandai-andai, bahwa terdapat semacam aturan yang membuat orang tidak bisa serta merta berbuat semaunya terhadap sesama. Misalnya, aturan persaudaraan (dia itu adikku, masa tiba-tiba memukul?), aturan yang diberlakukan oleh agama (menjadi berdosa jika seseorang menyakiti orang lain), atau aturan masyarakat (memukul orang yang tidak bersalah itu tidak baik). Aturan lainnya adalah hukum dan tadinya saya tidak pernah benar-benar memikirkan faktor ikatan semacam ini.   Mengapa saya tiba-tiba memikirkan perkara aturan hukum ini? Sering kit

Pemilu

Apa pilihan kalian untuk pemilu yang akan berlangsung kurang dari dua minggu lagi? Saya sudah memutuskan untuk memberikan suara bagi Partai Buruh pada pemilihan umum legislatif (pileg), sementara untuk pemilihan umum presiden (pilpres) saya belum punya pilihan atau bisa saja tidak memilih. Tidakkah menarik andaikata saya tidak memilih siapapun atau ternyata pilihan saya kalah, saya mesti dipimpin oleh pemimpin hasil pilihan orang lain? Sebaliknya, jika pemimpin yang menang adalah hasil pilihan saya, tidakkah ada orang lain yang mesti rela dipimpin oleh orang yang tidak dipilihnya? Padahal bukankah mandat seorang pemimpin dari sebuah sistem bernama demokrasi mestilah berasal dari rakyatnya? Inilah hal yang unik dari demokrasi agregatif sebagaimana diterapkan oleh pemilu kita, dan juga pada banyak pemilu di negara-negara lain. Demokrasi agregatif mendasarkan pengambilan keputusan pada aspek kuantitatif. Dalam konteks pemilihan umum, suatu kontestan dikatakan menang jika mendapatkan suara

Rumah Masa Kecil

Beberapa hari yang lalu, saya pindahan dari apartemen ke rumah peninggalan orang tua. Keduanya telah wafat dan setelah melalui sejumlah perundingan, diputuskan bahwa istri dan saya meninggali rumah tersebut setidaknya hingga setahun ke depan. Setelah hampir lima tahun berpindah-pindah kostan dan apartemen, akhirnya kami tinggal di sebuah rumah, lengkap dengan pekarangan dan tetangga-tetangga. Tinggal di apartemen tentu ada tetangga, tapi tidak bisa dikatakan bahwa mereka itu benar-benar tetangga. Mereka hanya tinggal bersebelahan, itu saja. Sementara di rumah ini, ada banyak tetangga yang sudah mengenal keluarga kami sejak lama. Mau tidak mau, kami harus (belajar kembali untuk) menyapa, bersikap ramah, dan ngobrol ini itu tentang kehidupan sehari-hari.  Sempat berbulan-bulan tidak ditinggali, saya kira rumah tersebut menjadi asing. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir memang saya hanya sesekali saja berkunjung. Ternyata tidak. Rumah tersebut langsung terasa akrab. Memori tinggal bel

Euthanasia

Beberapa hari belakangan baca-baca tentang euthanasia untuk kepentingan menulis artikel Jurnal Etika Terapan, ternyata banyak hal baru yang saya dapat (selain perasaan yang sangat gloomy ). Jika membaca beberapa artikel (berbahasa Indonesia) hasil googling, pengertian euthanasia seringkali langsung pada "suntik mati". Pengertian ini kurang akurat, karena "suntik mati" hanyalah salah satu metode dalam euthanasia aktif. Setelah membaca beberapa sumber seperti Euthanasia: A Reference Handbook (McDougall & Gorman, 2008), Assisted Suicide and Euthanasia: A Natural Law Ethics Approach (Paterson, 2008), dan The End of Life: Euthanasia and Morality (Rachels, 1986), pandangan saya menjadi lebih luas perkara euthanasia. Euthanasia sendiri terdiri dari beberapa jenis. Euthanasia aktif artinya penghilangan nyawa pasien dilakukan secara langsung melalui tindakan yang disengaja dan mengarah langsung pada kematian orang yang dituju.  Sementara itu, euthanasia pasif adalah t

Debat dan Intelektualisme

Masyarakat kita sedang disuguhi tontonan debat demi debat dari capres dan cawapres untuk Pemilu 2024. Debat tersebut sekurang-kurangnya memberikan petunjuk bagi para calon pemilih tentang siapa yang lebih cakap, komunikatif, pandai beretorika, dan di sisi lain, tentang siapa yang lebih jelek dalam bersilat lidah. Dalam salah satu acara debat, kita lihat bagaimana capres nomor urut 01 (Anies Baswedan) dan capres nomor urut 03 (Ganjar Pranowo) tampak lebih fasih dalam bermain kata ketimbang capres nomor urut 02 (Prabowo Subianto) yang kelihatan emosional sepanjang forum. Intinya, dalam penilaian sebagian masyarakat, capres nomor urut 02 bisa dibilang "kalah" perkara debat ini.  Pertanyaannya, apakah arena debat adalah barometer penting dalam menentukan kriteria pemimpin yang baik? Bisa jadi, jika debat berhubungan langsung dengan kemampuan berpikir. Sangat wajar jika kita menginginkan pemimpin yang pandai menggunakan akalnya sehingga terbayanglah imaji akan masyarakat yang diat

Festival dan Penyelenggara yang Halu

Entah kenapa film dokumenter berjudul Fyre menarik perhatian saya di Netflix. Rupanya film tersebut menceritakan tentang festival musik besar-besaran yang semestinya diadakan bulan April - Mei 2017 tetapi gagal total karena mismanajemen dan pengelolaan keuangan yang buruk. Fyre Festival, yang digelar dalam rangka mempromosikan Fyre, aplikasi untuk memudahkan booking artis musik, rencananya diadakan di Kepulauan Bahama dengan gembar-gembor promosi oleh para influencer berstatus super model. Dalam promosi tersebut, Fyre Festival digambarkan sebagai festival musik yang menyuguhkan pengalaman tak terlupakan: diadakan di pulau terpencil yang dijangkau dengan pesawat baling-baling, para pengunjung akan menginap di vila mewah, disuguhi kuliner dari chef-chef ternama serta tentu saja, pertunjukkan musik dari band-band terkenal.    Rick McFarland dan Ja Rule, inisiator Fyre Festival, terlihat sangat yakin rencana ini tidak hanya akan berjalan lancar, tapi juga menjadi festival bersejarah.