Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2023

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Terhadap

Tadinya saya percaya bahwa gagasan tertentu adalah seperti apa kata Kant: mutlak, tidak bisa ditawar-tawar. Bagi Kant, kebaikan adalah kebaikan: tidak peduli apakah kebaikan tersebut akan berkonsekuensi baik atau jelek bagi yang melakukannya, seseorang tetap harus berbuat baik. Itu sebabnya, Kant menolak istilah "berbohong demi kebaikan". Berbohong adalah selalu perbuatan jahat, atas alasan apapun. Pada pokoknya, Kant berusaha meletakkan moral sebagai jangkar, tanpa terikat pada konsekuensi, tujuan, atau kepentingannya. Bagi Kant, jika moral bisa berubah-ubah tergantung hasilnya, lantas untuk apa ada moral?  Namun makin kemari, pikiran dan pengalaman saya menunjukkan bahwa sebuah gagasan tidak pernah bisa berdiri sendiri dan bersifat mutlak sebagaimana dibayangkan oleh Kant. Misalnya jika seseorang mengatakan: "Berbuatlah kebaikan", maka saya punya pertanyaan lanjutan, baik terhadap apa? Baik dalam konteks apa? Baik menurut argumen siapa? Saya akan berhati-hati untu

Membela Interpretivisme

Dalam acara Philofest pertengahan Desember lalu, saya berdebat dengan Taufiqurrahman perihal pendekatan dalam ilmu sosial. Saya membela interpretivisme, sementara Taufiq membela naturalisme. Yah, sejujurnya, bisa jadi gara-gara arena debat itulah, kami harus mengambil posisi berseberangan secara ekstrem. Padahal mungkin dalam keseharian, dua pendekatan tersebut kami gunakan secara bergantian. Tergantung kebutuhan.   Dalam debat tersebut, saya memulainya dengan menjabarkan optimisme filsuf Prancis abad ke-19, Auguste Comte, yang menyatakan bahwa penjelasan-penjelasan ilmu alam kelak akan bisa juga menjelaskan dunia manusia. Dunia manusia, menurut Comte, selama ini hanya didekati dengan cara-cara teologis - metafisis yang menurutnya tidak memadai. Lebih persisnya, Comte percaya bahwa dunia manusia kelak akan dapat dijelaskan lewat studi tentang sistem organisme. Bahkan hal demikian dapat menjelaskan tidak hanya manusia secara individual maupun sosial, tapi juga gerak peradaban manusia da

Apartemen

Sejak menikah dengan Puspa Agustus 2020, kami selalu tinggal di apartemen. Hingga sekarang, kami sudah lima kali berpindah unit, dua di antaranya di Jakarta. Pernah kami menyewa tahunan, tapi sekarang kami lebih nyaman menyewa bulanan. Mungkin karena kami sudah terbiasa hidup tidak pasti, sehingga membayar sewa jangka pendek lebih masuk akal untuk mengantisipasi berbagai perubahan rencana dalam hidup. Sebelum menikah dengan Puspa, saya terbiasa hidup rumahan. Apartemen adalah bentuk tempat tinggal yang asing bagi saya. Namun setelah dijalani, saya mulai kerasan hidup di apartemen dan bahkan belum terpikirkan untuk membeli rumah (selain karena juga belum ada uangnya).  Apartemen adalah tempat yang nyaman untuk orang yang malas bersosialisasi dengan tetangga-tetangga. Saat tinggal di rumah, biasanya kita diharuskan untuk bersosialisasi. Tetangga adalah semacam "keamanan organik". Kita dijejali semacam prinsip rukun warga yang kira-kira menyatakan, "Kalau bukan dengan tetan

2023

2022 adalah tahun yang aneh. Awal tahun, kami sekonyong-konyong berada di Jakarta untuk memulai hidup baru di sana. Hanya beberapa hari selesai pindahan, saya masuk rumah sakit karena sakit pencernaan serius. Ternyata kami hanya sembilan bulan berada di Jakarta. Bulan September, kami pindah kembali ke Bandung. Sekitar dua bulan berada di Bandung, pernikahan kami mendapat ujian serius sehingga tahun baru 2023 dilewati dengan perasaan getir. Meski demikian, kami terus berdialog secara intens untuk semacam evaluasi dan juga menyusun ulang masa depan. Saya kira momen-momen sulit dalam hubungan terkadang perlu ada, supaya relasi tidak menjadi teralienasi, dan merasakan kembali betapa pentingnya keberadaan satu sama lain. Walau saya mengatakan "perlu ada", tetapi momen ketika menjalani waktu-waktu sulit itu, jujur, bak neraka. Jadi kalau saya mengatakan "perlu ada", mungkin karena ketika saya menuliskan ini, masalahnya sudah agak mereda, sehingga biasanya mudah jika orang