Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2023

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Tiga Tesis tentang Orang-Orang Menyebalkan

Tulisan suplemen untuk acara Pesta Pinggiran di Taman Ismail Marzuki, 25 November 2023    Tesis pertama: Filsafat Melahirkan Orang-Orang Menyebalkan  Dalam Apology , disebutkan bahwa tugas filsafat adalah “menyengat kuda besar yang pemalas”. Sengatan Sokrates itulah yang membuat dirinya dibenci oleh sebagian warga Athena. Alasan Sokrates dihukum mati memang karena “menyebarkan pengaruh buruk bagi generasi muda”, tetapi mengacu pada perilakunya yang sering kepo pada orang-orang, sangat mungkin Sokrates dilaporkan karena “menyebalkan”. Cara Sokrates mengajukan pertanyaan memang di satu sisi, kelihatan berpura-pura tidak tahu, tetapi di sisi lain, ada unsur jebakan: membuat lawan bicaranya terpojok pada maksud yang diinginkan oleh Sokrates.  Masih dari skena Yunani Kuno, nama Aristoteles tentu sangat familiar. Terdapat pernyataan terkenal Aristoteles yang diparafrasekan dari Nichomachean Ethics yang bunyinya seperti ini: Amicus Plato, sed magis amica veritas (Plato adalah temanku, tetap

Tentang Penyuntingan

Sejak beberapa bulan terakhir, saya mendapatkan pekerjaan untuk mengedit naskah teman kuliah yang mengangkat tema tentang mental health . Ini bukan pekerjaan menyunting saya yang pertama, tetapi pekerjaan ini cukup berkesan karena saya merasa benar-benar menjalankan tugas sebagai editor. Maksudnya, saya tidak hanya melakukan editing secara teknis, melainkan juga bisa menjadi rekan diskusi bagi gagasan di dalamnya. Bagaimanapun, penyunting adalah "pembaca pertama". Dengan demikian, penyunting harus mampu memposisikan diri sebagai penulis (untuk mencoba memahami gagasan keseluruhannya) dan memposisikan diri sebagai pembaca (yang ingin "dimanja" dengan keterbacaan yang enak dan alur yang mudah dipahami).  Dalam beberapa bagian, saya bahkan bisa mengungkapkan keberatan terhadap gagasan-gagasan di dalamnya, sehingga kami kemudian berdiskusi untuk mencari jalan keluar. Dalam hal ini, saya berusaha untuk berpendapat tidak atas dasar ideologi pribadi, tetapi kemungkinan per

Tangan Kosong

Sebagai orang yang tidak belajar filsafat secara formal di kampus, saya sempat tidak sepenuhnya menganut pandangan bahwa filsafat mesti dipahami secara tekstual. Persentuhan saya awal-awal dengan filsafat berasal dari kuliah Extension Course Filsafat UNPAR yang memang ditujukan untuk publik non filsafat dan diskusi-diskusi, utamanya di komunitas Madrasah Falsafah. Berdasarkan pembelajaran filsafat dari tempat-tempat tersebut, saya tahunya filsafat itu ya berpikir kritis dan reflektif secara bebas. Mencomot pemikiran tentu sering, tetapi tidak perlu ketat mengacu pada teks, apalagi teks primer.  Saya kemudian mendaftar S3 di STF Driyarkara, salah satu kampus filsafat terbaik di Indonesia, dengan bekal surat rekomendasi dari Bambang Sugiharto, guru besar filsafat UNPAR. Dalam surat rekomendasi tersebut, Pak Bambang menuliskan pernyataan yang isinya kurang lebih menunjukkan bahwa syarif memang kurang tekun dalam membaca. Di STF Driyarkara akhirnya saya tahu bahwa mempelajari filsafat adal

Agensi

Bahkan hingga setahunan yang lalu, tidak terbayang bahwa pencapaian AI akan sejauh ini. Keberadaan Chat GPT mengubah banyak hal. Chat GPT kelihatannya mampu melewati tes Turing, yakni tes yang membuat kita tidak bisa menemukan perbedaan antara percakapan teks yang dihasilkan oleh manusia dan percakapan teks yang dihasilkan oleh mesin. Kemajuan tersebut memunculkan kembali wacana tentang AI sebagai agensi atau diartikan secara sederhana sebagai individu yang otonom dan memiliki kehendak bebas. Wacana AI sebagai agensi mungkin pernah tenggelam setelah melihat kenyataan bahwa AI ternyata hanya mampu menjadi weak AI yang cuma mampu mereplikasi kerja pikiran secara partikular.  Ide tentang strong AI atau AI yang mampu mereplikasi sepenuhnya kerja pikiran manusia salah satunya ditolak John Searle lewat chinese room argument . Menurut Searle, AI hanya mampu melakukan manipulasi simbol tetapi tidak mengerti mengapa harus melakukannya. AI tidak paham makna dari tindak tanduknya. Saat disodori