Skip to main content

Psychologismus-Streit dan Asal-Usul Perpecahan Aliran Kontinental dan Analitik dalam Filsafat

  Di akhir abad ke-19, diawali dari usaha pemisahan psikologi dari filsafat, muncul istilah Psychologismus-Streit atau "perselisihan psikologisme". Apa itu psikologisme? Psikologisme adalah pandangan bahwa segala konsep/ gagasan dalam filsafat (batasan pengetahuan, sistem logika, dan lain-lain) dapat ditarik penjelasannya pada pengalaman mental atau proses psikologis (Vrahimis, 2013: 9). Posisi psikologi yang kian mantap dengan penelitian empiriknya membuat filsafat mesti mendefinisikan kembali tugas dan posisinya: jika segala problem filsafat bisa direduksi pada aspek mental, masih adakah sesuatu yang disebut sebagai filsafat "murni"?  Menariknya, perselisihan ini tidak hanya di ranah perdebatan intelektual, tapi juga terbawa-bawa hingga ke ranah politik. Pada tahun 1913, 107 filsuf, beberapa diantaranya adalah Edmund Husserl, Paul Natorp, Heinrich Rickert, Wilhelm Windelband, Alois Riehl, dan Rudolf Eucken menandatangani petisi yang menuntut menteri kebudayaan Jer

Tentang Mindfulness



Bagaimana menerjemahkan "mindfulness"? Saya tidak menemukan persisnya. "Perhatian" adalah kata yang muncul jika kita memasukannya di Google Translate, tapi saya yakin kata tersebut tidak memadai, meski perhatian menjadi salah satu unsur penting di dalam konsep mindfulness. Akhirnya, setelah membaca buku berjudul Mindfulness for Dummies (2010), sepertinya terjemahan 'pemusatan pikiran' lumayan cocok, meski sebelumnya sempat terpikir 'kepenuhan pikiran'. Namun soal translasi ini mungkin tidak perlu menjadi soal, karena lebih penting kita masuki gagasan pokok dari mindfulness itu sendiri (eh, saya ternyata lebih nyaman untuk tidak menerjemahkannya). Oh ya, di sini, selain berusaha menjabarkan secara sekilas (sangat sekilas) tentang apa itu mindfulness, yang akan saya lakukan justru berusaha mengritiknya. 

Dalam buku Mindfulness for Dummies tersebut, terdapat beberapa unsur penting yang membentuk gagasan tersebut yaitu kesadaran (awareness), perhatian (attention) dan mengingat (remembering). Kemudian unsur-unsur tersebut dipecah lagi ke dalam beberapa sub-unsur yaitu menyimak (paying attention), momen kesekarangan (present moment), non-reaktif (non-reactively), tidak-menilai (non-judgementally) dan hati-terbuka (open-heartedly). Menariknya, mindfulness bukan perkara pola pikir, tapi juga dicapai melalui latihan yang biasa disebut meditasi. Saya bukan pelaku meditasi, tapi berulang kali memperhatikan, bahwa meditasi adalah perkara "menyadari napas", yang dari sana kita juga bisa menyadari hal-hal lain seperti waktu dan bahkan eksistensi. 

Menarik? Tentu saja! Apa yang lebih menggiurkan dari harmonisasi ketenangan pikiran, hati dan batin, yang berdampak pada produktivitas kerja, kemampuan mengatasi alienasi dan dinamika relasi sosial khas perkotaan yang "homo homini lupus". Mungkin saya tidak sepenuhnya mampu melakukan kritik internal dari konsep mindfulness itu sendiri karena kenyataannya, gagasan tersebut sangat keren. Secara kognitif mungkin saya pernah tergila-gila pada konsep demikian, sebagaimana halnya saya pernah menjadi pembaca serius filosofi Timur dan juga sufisme. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa konsep mindfulness diturunkan dari beberapa gagasan dalam filosofi Timur, sufisme, plus juga bisa jadi stoisisme, dengan tambahan bumbu-bumbu relevansinya dalam kehidupan urban. Gagasan mindfulness dewasa ini sudah tidak lagi eksklusif bagi para sufi atau pertapa, tetapi menjadi semacam gaya hidup urban yang populer. Terutama karena metodenya, pada tahap tertentu, "mudah" diikuti. Namun selama konsep tersebut adalah "bikinan manusia", tidak ada yang kebal dari kritik. Segala kepenuhan, holistis-isme dari ke-mindfulness-an, adalah sesuatu yang bisa cukup problematik.

Pertama, adalah perkara bahasa. Agak sukar untuk memastikan apa yang dimaksud "kesadaran", "perhatian", "hati-terbuka" dan lain-lain karena bisa jadi berlainan maksudnya bagi satu sama lain. Bukan artinya juga perlu dibatasi berlebihan untuk mendapatkan definisi yang ketat, tetapi ini perkara pemahaman: "kesadaran" menurut seorang guru Zen mungkin berbeda dengan "kesadaran" versi karyawan bank, "perhatian" dalam arti mikroskopis pada hal-hal remeh, mungkin berbeda dengan "perhatian" pada hal-hal yang transaksional dan menguntungkan. Perbedaan makna semantik ini bisa sangat problematis untuk memahami mindfulness dalam arti yang penuh dan utuh. Implikasinya menjadi masuk pada persoalan eksplanasi: menjelaskan mindfulness seolah-olah mudah dan terang benderang, padahal dalam konteks filosofi Timur, memerlukan beraneka anekdot yang kadang bersifat paradoksal (seperti dalam koan-nya Buddhisme Zen) untuk "menjelaskan" soal mindfulness ini.

Kedua, adalah perkara kelas. Bagian ini memang masalah yang muncul saat mindfulness sudah menjadi populer dalam masyarakat urban, yang aksesnya menjadi milik golongan tertentu, terutama kelas menengah ke atas. Mengapa? Entah, mungkin karena kaitannya dengan waktu luang, yang salah satu syaratnya adalah kelapangan dalam hal ekonomi. Seolah-olah menjadi hal yang mudah bagi orang-orang dari kelas tertentu, untuk "hidup tenang" dan "memusatkan pikiran", sementara dari kelas lainnya, yang lebih tertekan secara struktural, hal-hal demikian tidak semudah kelihatannya untuk dipraktikkan. Celakanya, konsep mindfulness yang dianut kelas tertentu ini menjadi lebih bersifat personal - individual, ketimbang menyelesaikan problem secara struktural dan kolektif. Padahal, tidak mudah untuk menunjuk masalah ketenangan batin sesederhana soal kemauan: mungkin semua orang mau mencapainya, tetapi bagaimana bisa, jika pikiran-pikiran selalu disibukkan oleh kebutuhan sehari-hari?

Ketiga, adalah perkara reduksinya pada sekadar instrumen. Masih dari buku Mindfulness for Dummies, disebutkan bahwa salah satu manfaat dari mindfulness adalah untuk meningkatkan produktivitas kerja. Tidak ada masalah, tetapi apakah bertentangan dengan prinsip "kesekarangan" atau bahkan "kepenuhan hidup" itu sendiri? Jika mindfulness adalah perkara produktivitas kerja, artinya mindfulness direduksi menjadi sarana, alat, instrumen, "batu loncatan", untuk kepentingan pribadi. Tentu, tidak ada salahnya menjadi mindfulness sebagai instrumen untuk mencapai kebahagiaan (bukankah itu tujuannya?), tetapi perkara kebahagiaan ini juga bukan sesuatu yang sederhana, apalagi jika disempitkan pada sesuatu yang konsumeristik. 

Tentu saja, kritik ini muncul dalam rangka menjernihkan kembali gagasan mindfulness yang sudah dikomodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi semacam panasea atau "obat bagi segala", dapat dilakukan oleh siapa saja dan sifatnya praktis (siap-pakai). Tentu tidak masalah jika kita bisa menyebarkan suatu gagasan yang tadinya bersifat eksklusif untuk kemudian menjadi inklusif, tetapi harus ditekankan bahwa ada disiplin dan intensitas tertentu yang tidak bisa diabaikan. Kita akan sukar menyaingi mindfulness-nya seorang bhiksu jika sehari-hari berkutat dengan kesibukan yang tidak memberi waktu untuk bernapas. 

Terakhir, berdasarkan masukan dari Saras Dewi untuk tulisan ini, tidak ada yang salah dengan gagasan mindfulness, terutama sebagai suatu cara pikir "ke dalam" dan "menyeluruh" terhadap hidup dan dunia. Persoalannya hanya ketika segalanya dikomodifikasi, menjadi bahan jualan, menjadi sarana untuk "mengelabui orang lain" dengan modus kesuksesan dalam defiisi yang sempit. Mindfulness menjadi penting, saat menjadi etik: saat membuat kita merenungkan kembali tujuan hidup, makna hidup, relasi dengan manusia dan makhluk hidup lainnya, serta apa arti konsep "diri". Untuk mencapai renungan semacam itu, memang mesti mundur sejenak dari hiruk pikuk, dari "daging", seperti Nabi yang berkhalwat di Gua Hira, atau Siddharta yang merenung di bawah pohon Boddhi. Tetapi mindfulness juga tidak mesti berarti mengasingkan diri. Pada akhirnya, segalanya tentang peleburan kembali dengan kehidupan sebagaimana adanya, tentang "menerima bumi". Tugas pertama adalah menyadari sepenuhnya bahwa tiada rumus pasti untuk menjadi bahagia, kecuali dengan mempertanyakannya terus menerus. Mindfulness, adalah tentang stamina pencarian yang panjang.

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1