Skip to main content

Tong Sampah

Entah mulai kapan aturan ini, tapi dalam sepakbola, membuka kaos setelah mencetak gol dapat dihukum kartu kuning. Juga dalam sepakbola, pemain tidak boleh lanjut menendang bola jika wasit meniup peluit tanda permainan mesti distop. Ingat kejadian heboh pada bulan Maret 2011 antara Arsenal lawan Barcelona? Robin van Persie menerima kartu kuning kedua karena tetap menyepak bola meski wasit telah meniup peluit tanda offside . Demikian halnya dalam basket, sebuah tim dapat dihukum technical foul jika protes berlebihan atau bereaksi lebay dengan misalnya membanting bola. Apa poinnya?  Kita tentu tidak ingin olahraga hanya sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kita sekaligus ingin melihat emosi di dalamnya. Kita, sebagai penonton, turut menikmati sorak kegembiraan saat pemain mencetak gol, juga sekaligus menikmati kesedihan orang yang gagal mengeksekusi penalti. Itu sebabnya kamera pada tayangan olahraga seperti sepakbola, basket, tenis, badminton, atau voli, beberapa dian

Dari Proksi ke Proksi

 

Ya, saya pernah menggunakan Tinder, tetapi tidak pernah lama dan tidak pernah tuntas. Saya hanya pakai sebentar, lihat-lihat, lalu ketika disuruh bayar saya biasanya malas melanjutkan. Pernah satu kali coba bayar, berkenalan dengan beberapa orang, tetapi tidak sampai ketemuan. Beberapa diantaranya malah mencurigakan. Misalnya, ada yang langsung ngajak nonton bioskop lalu minta saya membayarkan tiketnya ke rekening Dana miliknya. Tidak besar memang, cuma tiga puluh ribuan, tetapi tetap saja aneh. Lainnya, ada yang langsung minta dibelikan kuota atau ada juga yang langsung curhat mendalam tanpa ada basa basi sama sekali (seolah-olah berusaha membangkitkan belas kasih). Akhirnya saya uninstall aplikasi tersebut dan kelihatannya tak tertarik lagi untuk menggunakannya. 

Lalu saya baru saja selesai nonton The Tinder Swindler (2022) di Netflix, film dokumenter tentang penipuan berkedok kencan daring yang menjerat banyak korban hingga puluhan juta Dollar. Modus laki-laki bernama Simon Leviev ini adalah mengaku sebagai anak konglomerat, punya bisnis dimana-mana, dan merayu korban yang tertarik pada profilnya untuk kemudian dijadikan pasangan. Lama kelamaan, Simon menyatakan pada teman kencannya (yang sudah terpikat) bahwa bisnisnya begitu berbahaya sampai-sampai membuat dirinya diteror banyak musuh. Dari situlah Simon mulai melancarkan aksi dengan meminta uang berkali-kali dengan alasan dirinya tidak bisa bertransaksi demi alasan keamanan. Cewek-cewek yang kadung jatuh hati pada Simon ini tak perlu pikir panjang untuk mengirimkan uang. Simon terus memutar uang itu sehingga selalu tampak seperti orang yang kaya raya - padahal hanya menjalankan skema Ponzi. 

Apa yang bisa kita katakan tentang fenomena ini? Iya, walaupun nominal yang (hampir) saya keluarkan cuma tiga puluh ribu, tapi memang saya sempat sukar berpikir jernih. Dalam kepala ini berkecamuk pertanyaan: bagaimana jika orang ini nyata dan memang hanya ingin nonton bioskop? Bukankah menolak permintaannya berarti sekaligus membatalkan kencan yang bisa jadi bakal menyenangkan? Sambil memandangi fotonya yang pasti dibuat agar tampak menarik dengan profil sealamiah mungkin, saya sempat kebingungan sebelum memutuskan: menipu tidak menipu, agak aneh orang langsung minta uang di pertemuan pertama. Kalaupun dia adalah orang yang nyata, rasanya kurang sopan saja langsung minta traktir (tanpa berjumpa dulu). Akhirnya tak saya lanjutkan meski sempat beberapa saat kepikiran. 

Ada hal menarik tentang fenomena aplikasi kencan daring. Kehidupan urban adalah sekaligus kehidupan bersama orang-orang asing yang kita merasa selalu terancam. Rumah atau apartemen yang kita tinggali sebisa mungkin dijaga ketat, tak perlu banyak bergaul dengan tetangga, pun pergi keluar rumah rasanya seperti bertempur: menghadapi jalanan yang dipenuhi makhluk buas, kebisingan yang bikin stres, dan lingkungan kerja yang penuh intrik. 

Namun kehidupan urban juga sekaligus menciptakan ilusi komunalitas yang dibangun berdasarkan motif transaksional. Kita bisa berkawan, nongkrong-nongkrong, punya pasangan, dengan suatu pertimbangan yang bisa jadi tak disadari, bahwa setiap ikatan tersebut dilakukan dalam rangka merawat kepentingan diri sendiri, supaya tidak tersingkir dari serba kompetisi di luar sana. 

Maka itu aplikasi kencan daring menjadi semacam pelipur lara di tengah ketidakmungkinan kita untuk percaya pada individu-individu dalam kehidupan urban yang tampak berbahaya. Kita diyakinkan bahwa dalam hidup ini ada yang namanya "cinta", yang seolah mengatasi segala motif transaksional dalam hubungan sosial: aku dan kamu hadir satu sama lain, saling melengkapi, sebagai orang yang bisa saling percaya untuk sama-sama mengarungi kompetisi. 

Lantas, kenapa saluran daring ini menggoda untuk dijajaki? Bukankah usaha mencari cinta ini sudah lumrah dilakukan dan bisa dimaknai secara biasa-biasa saja? Interaksi daring menciptakan semacam tegangan, antara kita berhadapan dengan orang yang seratus persen asing, dengan kenyataan bahwa kita dapat menampilkan representasi yang dianggap menawan bagi publik. Kita tak perlu kenal satu sama lain, yang penting fitur-fitur yang dibuka di aplikasi cocok untuk dimangsa oleh pihak seberang. Itu sebabnya profil Simon dianggap menggoda bagi sebagian perempuan: kaya, ganteng, punya ambisi. Aslinya orangnya seperti apa, awalnya tak penting, karena pada akhirnya Simon pun hidup dalam representasi-representasi yang dibangunnya sendiri. 

Kehidupan daring adalah kehidupan yang memabukkan bagi masyarakat urban: kita dibuat aman oleh tampilan yang sudah kita saring sendiri, untuk bertemu orang yang mereka sendiri sudah menyaring kehidupannya. Jadi yang bertemu adalah antar proksi, yang oleh kerinduan akan otentisitas, lama-lama bisa menyibakkan diri atas nama "cinta". Perempuan-perempuan yang ditipu Simon awalnya juga menampilkan proksi, tapi karena pesona Simon, mereka rela membuka tampilannya pelan-pelan. Simon ternyata tidak melakukan hal serupa, dia hidup nikmat bersama proksi-proksinya, bergerak dari satu hati ke hati yang lain, tanpa harus menjadi otentik. Kita semua bisa hidup aman dalam masyarakat kontemporer jika berkiprah seperti Simon. Bedanya mungkin, kita tidak sampai hati menyedot rekening orang lain hingga jutaan Dollar. Atau, bisa saja, jika mampu?

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Gin

GIN Gingin Gumilang pernah menjadi mahasiswa di kelas waktu saya masih mengajar di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Saya lupa tahun berapa itu, mungkin sekitar tahun 2010 atau 2011. Gin, begitu dipanggilnya, duduk di pojokan, orangnya pendiam, tetapi saya tahu di kepalanya menyimpan banyak pemikiran. Suatu hari, saya mengumumkan di kelas bahwa akan ada konser gitar klasik di IFI Bandung dan tentu saja, saya hanya berbasa-basi saja, tidak berharap kalau mereka, yang umumnya kost di Jatinangor, akan datang ke Bandung hanya untuk menonton gitar klasik. Ternyata ada satu orang yang datang ke IFI, ya Gin itulah. Sejak itu saya terkesan. Rupanya wawasannya juga luas. Saya ingat ia tiba-tiba membicarakan Freud di kelas, di tengah mahasiswa-mahasiswa yang yah, duduk di sana hanya berharap bisa lulus saja, tanpa peduli ilmu apa yang didapat. Saya kemudian terpikir, rasanya tepat kalau Gin diajak bergaul lebih luas, keluar dari "sangkar" yang membuat

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me