Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Kucing dan Zen

 

 


Kata Eckhart Tolle, dia pernah tinggal dengan sejumlah guru Zen, semuanya adalah kucing. Terdengar berlebihan, tapi ternyata saya merasakan kebenaran kata-kata Tolle tersebut belakangan ini. Saya memang suka kucing dari dulu, tetapi pikiran saya tentang kucing waktu itu seringkali berbau antroposentris dan cenderung motivasional. Saya menganggap hidup mereka membosankan, kekurangan tantangan dan pencapaian. Mereka hanya makan, tidur, sesekali kawin dan lebih banyak berantem. Lebih buruknya, berbeda dengan anjing, yang setia mendampingi dan membantu manusia dalam banyak hal, kucing kerap dituding sebagai "bos yang pemalas". Mereka tak bisa diatur, tak bisa benar-benar dimiliki, dan mencoba sekuat tenaga supaya keinginan mereka terpenuhi. 

Di hari-hari belakangan, ketika hidup saya mengalami banyak perubahan, saya menjadi lebih sering mengamati kucing saya, Niko. Saya menjadi hampir seritme dengannya: setiap hari hanya makan, tiduran, bengong. Bedanya, saya masih ada kegiatan seperti menulis dan bepergian agak jauh. Pada saat kegiatan-kegiatan tersebut sedang tidak ada, saya banyak belajar dari Niko, tentang bagaimana menghidupi masa sekarang, menikmati apa yang tersaji di hadapan. Saat sedang tidur, tidurlah sepenuh hati, tanpa perlu memikirkan beban pikiran, apa yang terjadi di masa yang akan datang, atau apa yang telah berlalu. Saat sedang makan, makan saja, tak banyak merenungkan hal-hal lain, apalagi filsafat. 

Niko bisa hanya duduk, memandangi jalanan nyaris seharian, sambil sesekali menjilat bagian tubuhnya atau merespons suara di sekitar dengan hanya menengok sesaat. Hanya itu yang dilakukannya, berulang-ulang, tanpa mungkin terpikirkan, "Mau jadi kucing apa saya nantinya jika terus bermalas-malasan?" Tapi pertanyaan semacam itu hanya ada dalam semesta manusia. Konsep "malas" hanya mungkin jika dikaitkan dengan produktivitas. Sama halnya dengan kucing yang kerap berbaring sembarangan di dalam rumah (seperti di dalam lemari atau menghalangi jalan), konsep "sembarangan" ada karena dikaitkan dengan konsep ketertiban dalam kepala manusia. 

Dalam semesta seekor kucing, mungkin konsep produktivitas dan ketertiban itu tak benar-benar eksis. Semuanya fana, melebur. Sama halnya dengan nama mereka sendiri, Niko, misalnya, yang saya sematkan, tapi dia sendiri tak melekat dengan nama itu. Nama begitu penting bagi manusia, karena termasuk di dalamnya: segala kediriannya, termasuk narasi hidupnya. Niko mungkin tak sadar dirinya adalah Niko. Dia tahu dirinya kucing, tapi apakah dia itu Niko atau Mengski, baginya tak penting. Tak ada yang melekat pada nama-nama itu. Dengan demikian, apa yang biasa melekat pada nama-nama, seperti memori atau identitas, bisa jadi tak berlaku bagi kucing.

Rasanya itulah yang dihayati melalui Zen. Konsep dosa, misalnya, melekat pada identitas (bayangkan saat kita dihisab di akhirat [jika percaya], yang dipanggil adalah nama kita, tempat segala dosa dan pahala akan dihitung). Alih-alih memikirkan cara menghapus dosa, lebih baik fokus pada penghancuran identitas. Alih-alih fokus pada cara membersihkan debu, lebih baik hilangkan kaca atau lemari-lemari, tempat debu itu menempel. Aku bukanlah namaku, karena nama hanyalah konstruksi semiotik. Niko adalah konstruksi semiotik. Kucing itu bukan Niko, melainkan kucing yang dalam semestanya tak dijejali banyak konsep, kecuali kehadiran penuh atas apa yang sedang terjadi di hadapan. Itulah Zen.

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip