Skip to main content

Tong Sampah

Entah mulai kapan aturan ini, tapi dalam sepakbola, membuka kaos setelah mencetak gol dapat dihukum kartu kuning. Juga dalam sepakbola, pemain tidak boleh lanjut menendang bola jika wasit meniup peluit tanda permainan mesti distop. Ingat kejadian heboh pada bulan Maret 2011 antara Arsenal lawan Barcelona? Robin van Persie menerima kartu kuning kedua karena tetap menyepak bola meski wasit telah meniup peluit tanda offside . Demikian halnya dalam basket, sebuah tim dapat dihukum technical foul jika protes berlebihan atau bereaksi lebay dengan misalnya membanting bola. Apa poinnya?  Kita tentu tidak ingin olahraga hanya sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kita sekaligus ingin melihat emosi di dalamnya. Kita, sebagai penonton, turut menikmati sorak kegembiraan saat pemain mencetak gol, juga sekaligus menikmati kesedihan orang yang gagal mengeksekusi penalti. Itu sebabnya kamera pada tayangan olahraga seperti sepakbola, basket, tenis, badminton, atau voli, beberapa dian

Selamat Datang di Klub 27

Selamat datang di Klub 27. Perkumpulan dimana bintang rock dan blues meninggal dunia di usia 27. Brian Jones, Janis Joplin, Jimi Hendrix, Jim Morrison dan Kurt Cobain adalah lima diantaranya. Selamat datang di Klub 27. Perkumpulan dimana manusia manapun memasuki usianya yang terang. Terang karena sukses melewati dengan baik krisis seperempat abad-nya, atau terang karena sebentar lagi jelang kepala tiga, dan para wanita tengah berkesadaran utuh. Berkesadaran bahwa dirinya punya keseksian lahir dan batin. Haha.

Selamat datang di Klub 27. Janganlah engkau ikut-ikutan mati bersama Morrison atau Cobain. Tapi hiduplah selamanya. Karena sesungguhnya pria jika bersama wanita adalah biasa adanya. Tapi jika wanita pergi, pria menjadi gila dibuatnya.

Jadilah terang. Jadilah seksi. Bukan seksi bentukan citra industri. Bukan seksi bentukan aerobik atau tai-chi. Tapi seksi yang cuma dikenali oleh hati. Seksi yang membuat nalar, ruh, nafsu, dan angkara tunduk kala ia disuguhkan berlenggak-lenggok di mata batinmu.

Selamat ulang tahun, kekasihku. Tetaplah haus akan ilmu, karena kehausan adalah ilmu itu sendiri. Tetaplah rindu pada Ilahi, karena kerinduan adalah Tuhan itu sendiri. Tetaplah menjaga dahaga akan kebenaran, karena dahaga sesungguhnya, merupakan kebenaran itu sendiri. Tetaplah cinta pada keluarga dan teman-teman, karena cinta adalah satu-satunya obat kesunyian. Dan di tengah pijakan kakimu yang kokoh, jangan pernah luput melihat ke bawah. Seburuk-buruknya tanah yang kotor dan berdebu, sesungguhnya tanpa ia kau tak mampu berdiri di atas apa-apa.

Joyeux Anniversaire!


Comments

  1. Hiks... Terima kasih.
    Amin, Insya Allah; segala kehausan, kerinduan dahaga dan cinta akan saya pertahankan. Insya Allah. ^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Gin

GIN Gingin Gumilang pernah menjadi mahasiswa di kelas waktu saya masih mengajar di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Saya lupa tahun berapa itu, mungkin sekitar tahun 2010 atau 2011. Gin, begitu dipanggilnya, duduk di pojokan, orangnya pendiam, tetapi saya tahu di kepalanya menyimpan banyak pemikiran. Suatu hari, saya mengumumkan di kelas bahwa akan ada konser gitar klasik di IFI Bandung dan tentu saja, saya hanya berbasa-basi saja, tidak berharap kalau mereka, yang umumnya kost di Jatinangor, akan datang ke Bandung hanya untuk menonton gitar klasik. Ternyata ada satu orang yang datang ke IFI, ya Gin itulah. Sejak itu saya terkesan. Rupanya wawasannya juga luas. Saya ingat ia tiba-tiba membicarakan Freud di kelas, di tengah mahasiswa-mahasiswa yang yah, duduk di sana hanya berharap bisa lulus saja, tanpa peduli ilmu apa yang didapat. Saya kemudian terpikir, rasanya tepat kalau Gin diajak bergaul lebih luas, keluar dari "sangkar" yang membuat

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me