Skip to main content

Tong Sampah

Entah mulai kapan aturan ini, tapi dalam sepakbola, membuka kaos setelah mencetak gol dapat dihukum kartu kuning. Juga dalam sepakbola, pemain tidak boleh lanjut menendang bola jika wasit meniup peluit tanda permainan mesti distop. Ingat kejadian heboh pada bulan Maret 2011 antara Arsenal lawan Barcelona? Robin van Persie menerima kartu kuning kedua karena tetap menyepak bola meski wasit telah meniup peluit tanda offside . Demikian halnya dalam basket, sebuah tim dapat dihukum technical foul jika protes berlebihan atau bereaksi lebay dengan misalnya membanting bola. Apa poinnya?  Kita tentu tidak ingin olahraga hanya sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kita sekaligus ingin melihat emosi di dalamnya. Kita, sebagai penonton, turut menikmati sorak kegembiraan saat pemain mencetak gol, juga sekaligus menikmati kesedihan orang yang gagal mengeksekusi penalti. Itu sebabnya kamera pada tayangan olahraga seperti sepakbola, basket, tenis, badminton, atau voli, beberapa dian

Mbah Maridjan

"Guru, apakah yang pertama kau lakukan jika memerintah sebuah negara?"

"Satu-satunya hal yang dilakukan adalah pembetulan nama-nama. Hendaknya seorang penguasa bersikap sebagai penguasa, seorang menteri bersikap sebagai seorang menteri, seorang bapak bersikap sebagai seorang bapak dan seorang anak bersikap sebagai seorang anak."
(Konfusius dari Analek 13:3)


Dihadapkan pada situasi posmodern sekarang ini, kalimat agung Konfusius di atas jelas saja dipertanyakan. Posmodern paling gemar rekonstruksi, dekonstruksi, serta menghancurkan sebuah bangunan konseptual, tanpa membangun apa-apa di atas puingnya. Sasaran gugatan tentu saja: Apa itu "sikap penguasa"? Apa itu "sikap seorang menteri"? Dan seterusnya. Tidakkah segala-galanya tak bisa didefinisikan sesaklek itu? demikian koar posmo.

Tapi Konfusius tak berpikir serumit itu. Bisa jadi ia dianggap kuno, bodoh, karena standar pemikiran Barat: Bahwa sesuatu yang masuk akal, adalah yang terjelaskan dengan kata-kata, explainable. Konfusius hanya menjelaskan banyak pemikirannya dengan takaran moral yang disebut jen (kata yang kemudian mati-matian ditafsirkan oleh banyak pemikir karena Konfusius sendiri tak pernah menjelaskan artinya). Dalam suatu situs, jen diartikan sebagai: human heartedness; goodness; benevolence, man-to-man-ness; what makes man distinctively human (that which gives human beings their humanity). Maka itu, jika ditanya, apakah yang dinamakan "sikap penguasa"? Konfusius kira-kira akan menjawab, ya mereka yang sesuai dengan jen.

Konfusius tidak asal bicara. Di masanya ia hidup, sekitar 500 tahun Sebelum Masehi. Situasinya kurang lebih sama dengan negara kita sekarang, carut marutnya. Ia kemudian merumuskan, bahwa keseluruhan penyebab kekacauan negara ini semua, adalah tidak betulnya nama-nama. Seorang menteri tidak bersikap seperti seorang menteri lagi. Karena nama, bagi Konfusius, menggambarkan identitas. Dalam nama, ada batasan bersikap dan jua tanggungjawab. Ketika sebagian besar individu tak lagi melakukan tindak-tanduk sesuai nama yang disematkannya, tunggu waktunya kehancuran terjadi.

Jauh, ribuan tahun pasca wafatnya Konfusius. Ada seorang sepuh bernama Mbah Maridjan. Jabatannya bukan guru besar seperti Konfusius dengan muridnya yang berlimpah serta ajaran yang diikuti sekaligus ditakuti penguasa. Mbah Maridjan posisinya juru kunci, yakni semacam penjaga tempat-tempat keramat. Tempat yang ia jaga adalah Gunung Merapi, sebuah gunung vulkanik aktif di kawasan Yogyakarta. Orangnya bersahaja, sederhana, dan taat pada apa-apa yang dititahkan Sultannya. Pengabdiannya tak main-main, ia menjabat juru kunci sejak tahun 1982, atau 28 tahun lamanya. Dan dalam masa tugasnya yang alamak itu, ia sering dipuji Sultan sebagai abdinya yang setia, dapat dipercaya, dan menunaikan tugas dengan baik. Satu-satunya "dosa" Mbah Maridjan barangkali ketika membintangi iklan extra joss beberapa tahun lalu. Toh, uang hasil iklan itu tetap ia gunakan untuk membangun masjid di desanya di lereng Gunung Merapi.

Sisanya, ia tetap harum dalam statusnya sebagai juru kunci Merapi. Ia tak melakukan tugas itu dengan merasa diri teralienasi. Beda dengan penduduk perkotaan yang kerja kantor tiga bulan saja kadang kesadarannya telah tertimbun rutinitas. Meski situasi Mbah Maridjan jauh lebih robotic, ia tak mengeluh. Ia gembira, besar hati, dan bertanggungjawab. Hal itu juga yang ia tunjukkan kala tempat keramat yang ia jaga, ternyata membebaskan dirinya dari tugas itu selama-lamanya. 27 Oktober 2010, Mbah Maridjan wafat, di tengah situasi genting letusan Gunung Merapi. Ia tidak turun gunung, bebal seperti biasanya: tak mau turun kecuali dipaksa tim SAR. Mbah tidak mencari heroisme buta, tidak mencari pengikut. Toh ia tetap meminta warga mengevakuasi diri, ikut pemerintah. Mbah sendiri tetap teguh, besar hati, dan tinggal. Jika memang dia juru kunci, tidakkah sesungguhnya ia tahu pertanda letusan itu jauh lebih awal? Entah lewat wangsit atau tanda-tanda alam. Tidakkah, jika ia mau, ia bisa saja mengungsi duluan, bahkan sebelum BMKG mencium sinyal bahaya?

Mbah bisa, tapi kenyataannya ia enggan. Sultan telah memintanya turun, demi keselamatan nyawa, sejenak meninggalkan tugas suci juru kuncinya, dan berlebur bersama manusia umumnya. Mbah bisa, tapi ia tak mau. Ia mengemban amanat, ia mengemban nama, baginya tak ada yang lebih mulia dari itu. Tak ada yang lebih mulia dari meninggal dalam keadaan pengabdian loyal, pada apapun yang ia percaya. Predikat mati konyol bukanlah kata miring yang akan masuk dalam telinganya. Mbah Maridjan merumuskan kematiannya adalah gembira: hanya jika ia secara hakiki melaksanakan tugas sesuai dengan nama yang disematkannya.

Meninggalnya Mbah adalah bukti simbolisme keheroikan "pembetulan nama-nama" Konfusianis. Hanya saja, satu Mbah Maridjan saja tak cukup untuk negeri ini. Tidak cuma juru kunci yang betul namanya, tapi juga presiden, anggota DPR, gubernur, walikota dan banyak lainnya. Ketika keseluruhannya telah melaksanakan tugas sesuai dengan nama yang disematkannya, maka selamatlah bangsa ini dalam versi Konfusius. Anggota DPR, terutama yang sedang pelesir ke Yunani, pastilah bertanya balik dengan angkuhnya, jika disodori buah pikir Konfusius ini, "Lah, saya sedang menjalankan tugas saya sebagai anggota dewan kok!"

Mereka barangkali betul, tapi mari kembalikan pada konsep jen: Adakah ia berperikemanusiaan? Adakah ia bersikap heartedness? Adakah ia dengan tegas mau membedakan dirinya dengan binatang lewat sikap-sikap manusiawinya?

Saya tak mau menjawabnya. Lebih baik marilah kita sama-sama mengangkat derajat heroisme Mbah. Mendoakan agar ia mendapatkan maqam yang baik di sisi Allah SWT. Sebaik-baiknya manusia adalah Muhammad SAW. Dan ciri derajat luhur Muhammad adalah dia tak pernah secuilpun melenceng dari amanah yang diembankan baginya. Muhammad adalah sebetul-sebetulnya nama yang disematkan baginya. Semoga kelak Mbah dapat diperjumpakan dengan Al-Mustafa.



Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Gin

GIN Gingin Gumilang pernah menjadi mahasiswa di kelas waktu saya masih mengajar di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Saya lupa tahun berapa itu, mungkin sekitar tahun 2010 atau 2011. Gin, begitu dipanggilnya, duduk di pojokan, orangnya pendiam, tetapi saya tahu di kepalanya menyimpan banyak pemikiran. Suatu hari, saya mengumumkan di kelas bahwa akan ada konser gitar klasik di IFI Bandung dan tentu saja, saya hanya berbasa-basi saja, tidak berharap kalau mereka, yang umumnya kost di Jatinangor, akan datang ke Bandung hanya untuk menonton gitar klasik. Ternyata ada satu orang yang datang ke IFI, ya Gin itulah. Sejak itu saya terkesan. Rupanya wawasannya juga luas. Saya ingat ia tiba-tiba membicarakan Freud di kelas, di tengah mahasiswa-mahasiswa yang yah, duduk di sana hanya berharap bisa lulus saja, tanpa peduli ilmu apa yang didapat. Saya kemudian terpikir, rasanya tepat kalau Gin diajak bergaul lebih luas, keluar dari "sangkar" yang membuat

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me