Skip to main content

Psychologismus-Streit dan Asal-Usul Perpecahan Aliran Kontinental dan Analitik dalam Filsafat

  Di akhir abad ke-19, diawali dari usaha pemisahan psikologi dari filsafat, muncul istilah Psychologismus-Streit atau "perselisihan psikologisme". Apa itu psikologisme? Psikologisme adalah pandangan bahwa segala konsep/ gagasan dalam filsafat (batasan pengetahuan, sistem logika, dan lain-lain) dapat ditarik penjelasannya pada pengalaman mental atau proses psikologis (Vrahimis, 2013: 9). Posisi psikologi yang kian mantap dengan penelitian empiriknya membuat filsafat mesti mendefinisikan kembali tugas dan posisinya: jika segala problem filsafat bisa direduksi pada aspek mental, masih adakah sesuatu yang disebut sebagai filsafat "murni"?  Menariknya, perselisihan ini tidak hanya di ranah perdebatan intelektual, tapi juga terbawa-bawa hingga ke ranah politik. Pada tahun 1913, 107 filsuf, beberapa diantaranya adalah Edmund Husserl, Paul Natorp, Heinrich Rickert, Wilhelm Windelband, Alois Riehl, dan Rudolf Eucken menandatangani petisi yang menuntut menteri kebudayaan Jer

Jalan Naluri Nan Sunyi Uly Siregar


Saya agak heran saat bisa menamatkan Nyanyi Sunyi (Cantrik Pustaka, 2023) karya Uly Siregar dalam sekali duduk. Cara berceritanya begitu mengalir, pemilihan katanya lincah, dan topik-topiknya menggoda. Jujur, tadinya saya tidak berharap banyak pada tulisan-tulisan berisi kisah pribadi. Dalam bayangan saya, itu kan catatan personal, mungkin berharga untuk si penulis sendiri, tapi mungkin kurang relevan bagi orang lain.

Namun pikiran tersebut terbantahkan oleh perjalanan menulis saya sendiri. Saya menerjemahkan biografi Jacques Derrida (Puruṣa, 2022). Pada teks yang ditulis oleh Benoît Peeters tersebut, apa yang dipikirkan Derrida tidaklah seberapa menjadi titik berat. Hal yang lebih ditekankan adalah pergulatannya dengan masalah mental, perjumpaan pertamanya dengan calon istri di masa depan, Marguerite Aucotourier; kegalauannya saat dipanggil untuk wajib militer, hingga perjalanannya ke Amerika Serikat dengan kapal laut. 

Poin berharga dari sebuah catatan personal justru bukan perkara kehebatan siapapun itu di mata orang-orang, tetapi kenyataan bahwa hidup manusia adalah selalu tentang pertarungan dengan dirinya sendiri. Kita semua punya kehidupan seksual, kisah perseteruan dengan keluarga, dan memori masa kecil yang terus menghantui. Iya, kita hidup bersama kesunyian masing-masing.

Dalam tulisannya, Uly tidak menyembunyikan kenyataan bahwa ia hidup dalam keluarga ber-privilege. Ayahnya adalah pebisnis properti sukses yang sanggup menyekolahkan anak-anaknya (yang berjumlah sepuluh) dengan baik, bahkan hingga ada yang ke luar negeri. Meski terdapat sisipan cerita getir tentang kondisi keluarga yang sempat susah, Uly tidak mengglorifikasi kisah-kisah tersebut seolah-olah ia adalah orang yang “lahir dari keluarga petani miskin”. 

Namun Nyanyi Sunyi bukan juga berisi kisah inspiratif – motivasional. Kisah-kisah inspiratif ditandai dengan kesuksesan sebagai ujung dari “kerja keras”. Sementara dalam tulisan Uly, kesuksesan menjadi titik awal. Apa yang terjadi sesudah kesuksesan, itulah problem yang lebih “mengerikan”. 

Dalam catatan Uly sendiri, kehidupan percintaan bukanlah sesuatu yang sulit. Ia tergolong mudah menggaet laki-laki, termasuk dari kalangan bule. Karirnya sebagai wartawan pun tergolong cemerlang. Saat menikah dengan pria pilihannya, ia pindah ke Arizona, menetap tiga belas tahun, sebelum pindah ke New York pada tahun 2019. Memiliki tiga anak, Uly digambarkan tinggal di “rumah yang asri dengan halaman belakang luas dan kolam renang di pinggiran kota yang menyenangkan”. Sekilas, terlihat seperti kehidupan ideal, idaman banyak orang. 

Namun di sini juga letak kesunyiannya. Kebahagiaan Uly bukan terletak pada pencapaian atas impian banyak orang. Kebahagiaan Uly, kenyataannya, tidak pernah berhenti diperjuangkan. Ia menuliskan suatu periode kehidupannya sebagai “Segala sesuatunya buruk. Hidupku buruk …”, “Aku hanya jenuh dan ingin berfantasi …” atau “Menangis sudah jadi santapan sehari-hari…”. 

Hal inilah yang seharusnya membukakan mata orang-orang yang mudah menghakimi pihak lain dengan “kurang bersyukur”, “kamu masih untung …”, atau “saya lebih parah …”. Tidak peduli kondisi eksternalnya seperti apa, problem eksistensi adalah selalu problem yang tidak mudah untuk masing-masing orang.

Bayangan kita tentang hidup di negeri Paman Sam mungkin terdengar indah jika acuannya adalah film-film Holywood yang menjual impian. Namun Uly seolah mengingatkan kita: terkadang keindahan hidup dalam impian, memang lebih baik tinggal dalam impian.  

Dalam Nyanyi Sunyi, Uly juga tidak menutup-nutupi kehidupan seksualnya yang cukup dinamis. Lahir dari keluarga konservatif, Uly kelihatannya enggan dikekang dalam urusan tubuh. Justru ketubuhannya itulah yang membuatnya mampu menikmati hidup dengan segala risikonya. 

Agaknya terjawab mengapa saya mudah sekali menamatkan buku ini, selain dari gaya bahasanya yang lincah dan mengalir. Nyanyi Sunyi adalah cerita tentang “naluri”, tentang “sensasi”, yang menjadi penuntun Uly dalam menjalani kehidupannya. Uly tidak sedang berkhotbah tentang moral dan akal sehat, justru ia tengah membicarakan apa yang dibenarkan Kahlil Gibran dalam Sang Nabi, bahwa “cinta bisa saja memahkotai dan menyalibmu, membelai ujung-ujung ranting sekaligus menggoyang akar-akarmu hingga tercabut dari bumi”. 

Dengan demikian, tulisan Uly adalah sekaligus ajakan untuk mengikuti insting, yang dalam ceritanya begitu diragukan oleh orang di sekitarnya (“Bagaimana jika hubunganmu gagal?”). Uly tahu bahwa feeling-nya bisa saja keliru. Bisa saja ia hanya termakan cinta buta atau nafsu sesaat. Namun justru di situlah poinnya, bahwa kalaupun jalan naluri ini konsekuensinya buruk, Uly rasa-rasanya akan tetap puas karena telah membiarkan dirinya "bersimbah darah oleh cinta". Hal demikian baginya, mungkin, lebih baik ketimbang membicarakan teori-teori tentang bagaimana berenang, tanpa pernah mencebur ke air.

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1