Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Public Relation


Waktu saya dikontak Pak Bambang Sugiharto untuk mengajar di Fakultas Filsafat UNPAR empat tahun lalu, saya tidak diberi mata kuliah yang katakanlah, "khas filsafat". Saya diminta untuk mengajar mata kuliah Public Relation, yang mungkin lebih sesuai dengan gelar S2 saya di bidang ilmu komunikasi. Keberadaan mata kuliah tersebut di FF memang agak aneh. Namun saya tidak banyak bertanya-tanya karena kira-kira tahu maksudnya, yakni supaya anak-anak filsafat lebih gaul, bisa berkomunikasi lebih luas, dan tidak terjebak dalam menara gading. 

Kaprodi FF, Pak Djunatan, ternyata juga tidak banyak memberi rambu-rambu atau arahan bagi materi kelas ini. Sepertinya dibebaskan saja, yang penting luarannya "jelas". Waktu itu murid di kelas hanya ada empat, yang mana salah satunya adalah Nino, yang kelak menjadi mitra pendiri Kelas Isolasi. Saya juga sebenarnya bingung apa yang harus diajarkan. Terkadang saya mengacu pada public relation sebagai sebuah profesi, terkadang saya membicarakan tentang bagaimana menghubungkan filsafat dan orang-orang awam, tapi pada pokoknya, mereka semua, murid-murid, harus presentasi di depan publik sebagai tugas akhir. 

Untungnya, waktu tugas akhir angkatan pertama kelas Public Relation, pandemi sudah melanda sehingga mereka bisa melakukan presentasi secara daring (jadinya tidak seberapa menakutkan karena tidak perlu menghadapi publik secara tatap muka). Kegiatan presentasi daring tersebut juga berlangsung hingga dua angkatan setelahnya. Baru di angkatan ini, anak-anak Public Relation melakukan presentasi luring, tepatnya di Ruang Dini. Mereka membawakan tema "filsuf-filsuf kurang terkenal". 

Tidak keliru jika mata kuliah Public Relation ini berjasa melahirkan Kelas Isolasi. Di kelas itu, saya dipertemukan dengan Nino, dan juga karena memerlukan semacam luaran untuk terhubung dengan publik, kami kemudian "terpaksa" membuat platform Kelas Isolasi ini. Namun dalam perjalanannya, Kelas Isolasi tidak bisa dikatakan berafiliasi dengan FF UNPAR, karena kami banyak menjalani kegiatan-kegiatan secara mandiri dan berhubungan dengan lebih banyak orang-orang non FF UNPAR. 

Selesai tahun keempat, kelas Public Relation kelihatan sebagai kelas yang "tidak jelas prosesnya, tapi jelas hasilnya". Saya kerap memodifikasi materi ajar tiap tahunnya. Namun yang pasti ada adalah anak-anak harus menganalisis berbagai jenis penampilan public speaking, mencoba menuliskan gagasan filsuf dengan sesederhana mungkin, dan mendiskusikan bagaimana seharusnya seorang pengkaji filsafat mempresentasikan materi filsafat di hadapan publik.

Namun pada akhirnya, bukan menjadi hal penting apakah yang dibawakannya tersebut, kelak, adalah materi filsafat atau bukan. Hal yang lebih pokok adalah apa yang dipresentasikan depan orang-orang itu adalah sesuatu yang menarik atau dibuat menarik. Dari mana asalnya kemenarikan, orang-orang komunikasi biasa menitikberatkan perkara retorika (ini juga mereka pelajari melalui teks-teks Aristoteles dan Cicero). 

Namun kemenarikan bukan melulu soal "jago bacot", tapi juga koherensi berpikir. Nah, soal yang terakhir ini yang semestinya menjadi salah satu keunggulan anak-anak filsafat. Itulah sebabnya, saya paling tidak setuju jika lulusan filsafat susah cari kerja. Justru mereka itu bisa bekerja sebagai apapun. Literally sebagai apapun. Kemampuannya dalam koherensi berpikir sudah semestinya dibutuhkan di banyak lapangan pekerjaan. Poin pentingnya tinggal bagaimana siapapun itu, dengan kebijaksanaannya, bisa berjejaring dengan manusia lain supaya bisa bertahan dan menghasilkan. Mata kuliah Public Relation, pada dasarnya, mengajarkan itu.

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip