Pages

Catatan Gerilya Filsafat 2020 Edisi Pantura

Entah ide datang dari mana, tapi saya pikir menarik jika bisa pergi ke tempat-tempat tertentu di Indonesia, untuk kemudian diskusi filsafat dengan komunitas setempat. Niatnya, saya ingin punya semacam catatan tentang komunitas-komunitas apa saja yang ada di seluruh Indonesia dan apa fokus kajian yang mereka bahas. Tapi saya tidak ingin hanya berupa biodata-biodata saja, melainkan ingin juga untuk terlibat, merasakan langsung suasana diskusinya, sehingga hasil observasinya lebih lengkap. Walaupun, tentu, ini juga menjadi semacam justifikasi bagi saya yang ingin sekadar jalan-jalan. 

Poster diskusi Gerilya Filsafat di Malang.


Sebenarnya upaya ini sudah dilakukan tahun 2019 lalu, saat saya berkunjung ke Medan. Dengan modal sendiri, saya berdiskusi dengan empat komunitas di sana dan rupanya saya merasa bahwa kegiatan ini "benar", dalam artian: Dengan berkunjung dan berdiskusi langsung, kita bisa melihat betapa beragamnya kondisi, orang-orang, metode, kultur, dan fokus kajian dari masing-masing komunitas. Dengan demikian, berfilsafat tidak cuma tentang kegiatan berpikir saja, melainkan juga perkara bersosialisasi dan memahami kebudayaan. Berfilsafat tidak lagi tentang pengembaraan ide, melainkan juga pengembaraan tubuh dan bagaimana penempatannya dalam konteks historis - kultural. Oia, di Medan waktu itu, saya bercengkerama dengan kawan-kawan dari Komunitas Mikir, Degil House, Literacy Coffee, dan satu lagi, adalah para mahasiswa UNIMED, tapi diskusinya tidak di kampus, melainkan di sebuah mal yang menyewakan co-working space. Menarik!

Poster Gerilya Filsafat di Medan, tahun 2019.

Di akhir tahun 2020, tepatnya pasca Philofest ID, dalam kondisi masih euforia, saya dan istri, terdorong juga untuk jalan-jalan ke Malang, memutuskan untuk melanjutkan program yang bernama Gerilya Filsafat tersebut. Berhari-hari kami memikirkan dengan jalur apa kami akan mencapai Malang dan akhirnya diputuskan untuk menggunakan mobil saja. Karena menurut sejumlah saran, untuk mencapai Malang, hanya perlu melintasi satu jalan tol (Trans Jawa) melintasi Pantura. Kami berencana untuk mampir ke Cirebon dan Semarang sebelum mencapai Malang dan melalui beberapa kenalan, kami sepakat untuk berdiskusi dengan komunitas setempat yaitu Tjirebon Book Club di Rumah Rengganis, Cirebon (saat jalur pulang) dan LSF Verstehen di Semarang. Sementara di Malang sendiri, kami sudah berkoordinasi dengan LSF Discourse untuk menyelenggarakan diskusi tentang pemikiran Friedrich Engels terkait keluarga monogami.

Perjalanan yang dimulai tanggal 27 Desember tersebut ternyata lebih berat dari yang kami bayangkan. Perjalanan via tol ini terlalu lancar dan lengang sehingga sering membuat saya mengantuk. Kami sering sekali berhenti di rest area untuk sekadar istirahat dan minum kopi untuk mengusir kantuk. Dalam waktu-waktu tertentu, hujan turun cukup deras sehingga menghalangi jarak pandang. Syukurlah kami berhasil mencapai titik perhentian pertama kami yaitu Semarang. Di Semarang, kami istirahat sekitar dua jam sebelum melanjutkan aktivitas bersama LSF Verstehen di sebuah tempat yang ternyata sangat sejuk bernama Kedai Kang Putu. Untuk mencapai kedai tersebut, kami harus menempuh perjalanan ke semacam "hutan", mungkin seperti wilayah Dago Pakar jika di Bandung. Diskusi sendiri berjalan hampir tiga jam dengan pembahasan seputar filsafat modern dan posmodern. Sadar bahwa topik tersebut terlalu padat jika dibahas dalam satu kali pertemuan, akhirnya kami membahas hal-hal lain juga seperti misalnya bagaimana membangun komunitas filsafat dan bagaimana bersikap kritis di kampus. Diskusi malam itu begitu hangat dan menyenangkan, menghapus segala lelah hasil menyetir selama sekitar tujuh jam (iya, saya menyetir dengan kecepatan agak lambat). Sebagai catatan, LSF Verstehen ini sebagian besar diisi oleh kawan-kawan dari UNNES. Kemunculan komunitas filsafat di Semarang, bagi Martin Suryajaya, yang merupakan orang asli Semarang, terasa mengejutkan. "Seumur-umur, aku baru nemu ada orang-orang suka filsafat di Semarang," demikian komentarnya.

Bersama kawan-kawan dari LSF Verstehen.

Esok siangnya, setelah berkunjung ke rumah Prof. Tjetjep Rohendi Rohidi (kawannya bapak), kami melanjutkan perjalanan ke Malang. Perjalanan ini ternyata malah lebih melelahkan karena hujan yang tidak kunjung berhenti dari sejak kami di Salatiga. Berangkat pukul satu siang, kami akhirnya mencapai Malang pada sekitar pukul setengah sebelas malam dan langsung mampir ke sekretariat LSF Discourse di Merjosari. Kami disambut dengan makanan seperti lontong kari, tapi saya lupa persis namanya apa. Di LSF Discourse, kami berjumpa dengan kawan-kawan yang sudah akrab selama Philofest seperti Dika Sri Pandanari, Firmansyah Sundana, dan R.H. Authonul Muther. Karena sudah terlampau lelah, kami hanya berbincang sebentar saja sebelum akhirnya check in di Tlogomas Guest House.

29 Desember, saya kembali ke sekretariat LSF Discourse untuk berdiskusi tentang pemikiran Friedrich Engels. Diskusi tersebut dibuka untuk umum, baik lewat daring maupun luring dan berlangsung kurang lebih dua jam. Secara luring, orang yang hadir ada sekitar lima belas dan itu tergolong lumayan di masa pandemi. Oia, rekaman diskusinya dapat dilihat di sini ya! Pasca diskusi, kami tinggal di Malang untuk beberapa hari - meski saat itu hampir tidak mungkin mengunjungi tempat umum yang serba ditutup - untuk mengunjungi Dialectic Gallery milik Bambang A.W., pesantren milik Gus Dhofir (Achmad Dhofir Zuhry) dan kediaman Pak Djuli Djati di Batu. 

Diskusi "Keluarga dan Kapitalisme" di sekretariat LSF Discourse.

Tentang LSF Discourse, mungkin catatan saya adalah ini: Mereka adalah kelompok pengkaji filsafat yang serius dengan jadwal belajar bersama yang rutin. Mereka juga dengan ketat membedah teks-teks primer dan mendiskusikannya. LSF Discourse memiliki sejumlah departemen seperti sejarah, logika, politik, dan estetika agar pembahasan bisa lebih fokus. Namun pembawaan orang-orangnya ternyata jauh sekali dari serius! Mereka benar-benar jenaka dan saya bisa semalam suntuk tertawa oleh kawan-kawan ini. 

Tanggal 2 Januari 2021, kami kembali ke Bandung dengan rute yang sama. Kami kembali menginap di Semarang satu malam, tapi kali ini tanpa diskusi filsafat. Esok harinya, kami melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu mampir di Cirebon karena akan berdiskusi dengan kawan-kawan dari Tjirebon Book Club di Rumah Rengganis. Topik yang didiskusikan adalah demotivasi dan audiens yang hadir kurang lebih juga lima belas orang (ada yang datang dari Indramayu juga!). Diskusi berlangsung lancar, meski akhirnya harus diakhiri karena hujan deras disertai angin kencang. Tidak banyak catatan mengenai Tjirebon Book Club dan Rumah Rengganis selain kenyataan bahwa komunitas sejenis ini tergolong jarang di Cirebon. Rupanya mereka cukup militan dalam menjalankan program-program khususnya terkait sastra. Sayang sekali, pandemi kelihatannya membuat aktivitas mereka sedikit turun, meski terus diupayakan untuk bangkit. Kesan khusus tentang Rumah Rengganis: Ini adalah rumah milik Nissa Rengganis yang sebagian areanya diperuntukkan untuk tempat jualan buku dan tempat ngopi. Menariknya, lokasinya benar-benar persis di samping hamparan sawah. Duduk ngopi di sana, dalam bayangan saya, akan sangat tenang dan inspiratif untuk menggali ide-ide (sayangnya, kemarin saya hanya singgah sebentar saja).

Pasca diskusi bersama Tjirebon Book Club di Rumah Rengganis

Perjalanan dari Cirebon ke Bandung, yang harusnya cuma tiga jam lewat tol Cipali, ternyata lebih rumit dari yang dibayangkan. Hujan sangat deras dan banyak mobil yang slip, sehingga kami memutuskan berhenti terlebih dahulu di rest area selama hampir dua jam. Jam sebelas malam, kami melanjutkan perjalanan dan karena kondisi tidak juga membaik, kami akhirnya keluar tol Subang dan memutuskan melalui jalur biasa. Kami akhirnya tiba di apartemen pukul empat subuh, tanggal empat Januari. Berakhir sudah program Gerilya Filsafat dan betapa kami, sekali lagi, melewati tahun 2020 dengan tidak hanya selamat, tapi juga kaya, secara batiniah. 

Syarif Maulana

No comments:

Post a Comment

Instagram