Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Selisih



Pada setiap kita berada di suatu peristiwa, kita ada di suatu peristiwa tersebut. Maksudnya, kita ada di sana, menjadi bagiannya, melebur dalam ruang dan waktunya. Namun saat ruang dan waktu itu sudah berbeda, kita kemudian punya kemampuan untuk menceritakannya ulang, dalam lisan maupun tulisan. Namun apapun itu yang direpresentasikan oleh lisan ataupun tulisan, bukanlah persisnya peristiwa "itu". Ia telah memiliki "selisih" antara yang berada di ruang dan waktu sejatinya, dan ruang dan waktu yang telah diceritakan ulang. 

Misalnya, terdapat periode yang kelihatannya rumit pada kehidupan Lacan antara tahun 1953 hingga 1962 terkait posisinya dalam beberapa asosiasi psikoanalisis. Sembilan tahun bukanlah periode yang bisa dikatakan singkat dalam kehidupan manusia. Namun kita membacanya bisa jadi sangat ringan, bahwa 1953 Lacan mengalami hal ini, lalu mengalami hal itu, begitu seterusnya hingga tahun 1962. Apakah aslinya demikian "ringan"-nya? Saya membayangkan tidak sama sekali: mungkin Lacan mengalami stres berat, menelpon temannya satu per satu, meminta pertolongan, galau berkepanjangan, memasuki ruangan dengan penuh curiga pada banyak kolega, dan sebagainya. Namun di hadapan sebuah kronologi kehidupan seseorang, kejadian demi kejadian rumit tersebut tampak berlalu begitu saja. 

Namun tulisan ini bukan hendak mempermasalahkan ketidakmungkinan representasi itu (bahwa peristiwa sejati adalah selalu peristiwa sejati yang tidak bisa diwakili oleh lisan atau tulisan yang terpisah ruang dan waktu). Justru selisih itulah yang penting dalam perjalanan umat manusia, bahwa dalam selisih, orang menafsirkan lebih jauh apa yang ada di antaranya: sebuah ruang dan waktu antara peristiwa dan non-peristiwa. Selisih itu diselami di antaranya lewat film, novel, riset-riset lebih jauh, atau sekadar berada di imajinasi orang-orang yang memikirkannya.

Problem selisih ini juga adalah salah satu keresahan yang dipikirkan filsafat berabad-abad. Karena segala sesuatu berselisih, maka segala sesuatu sekaligus takajeg sehingga perlu dirajut oleh fondasi metafisis yang kokoh. Pada segala selisih yang terjadi, filsafat menyatukannya dalam macam-macam klaim, mulai dari akal budi yang mengetahui segala, rasio murni hingga dialektika sejarah. Kita mencoba "menyatukan" selisih lewat pikiran-pikiran, menjadikannya sesuatu yang sebenarnya satu rangkaian, satu gerbong, dengan lokomotif bernama metafisika. Usaha mengatasi selisih, adalah hal terbesar yang dilakukan rasio

Namun selisih adalah sekaligus ketertutupan, sesuatu yang hanya mampu dikunjungi oleh memori seseorang atau suatu kelompok ke masa-masa terjadinya peristiwa "itu". Selisih tidak bisa ditampik kebenarannya, meski bisa disikapi berbeda-beda atas kebenaran tersebut. Pada seseorang yang baru saja patah hati, ia mengalami selisih itu, duduk di antara kehancuran cinta dan berseminya cinta, ia berada dalam tegangan antara hidup yang kehilangan jalannya dan hidup yang pernah begitu bertujuan. 

Pada akhirnya yang kita kenang sekaligus rayakan, adalah selisih itu, bukan tentang masa lalunya, bukan tentang perasaan di masa kini, tetapi hal-hal yang berada di antaranya, yang terpisah oleh ruang dan waktu, tetapi kita kerap meregang bersamanya, menghidupi tegangannya. Antara narasi tentang Lacan dan peristiwa yang sebenarnya dihadapi Lacan, pada rongga-rongga itu kita menikmati imaji-imaji tentangnya.

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip