Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Belajar dari Mengajar

 
Sampai hari ini, ketertarikan terbesar saya masih pada bidang filsafat. Filsafat adalah hal yang tidak saya pelajari secara resmi -jika definisi resmi adalah jurusan di masa kuliah-. Akibat tidak belajar di universitas mengenai hal tersebut secara spesifik, terang saja butuh tenaga lebih untuk comot ilmu sana-sini demi meredakan dahaga yang tidak pernah habis-habis. 

Sumber pertama, saya mencomot ilmu filsafat dari buku-buku filsafat, tentu saja. Dengan tertatih-tatih, saya mencoba mencerna buku-buku semacam Dunia Sophie karya Jostein Gaarder dan Petualangan Filsafat: Dari Sokrates ke Sartre karya T.Z. Lavine. Kedua, saya ikut kursus filsafat di Unpar dengan nama Extension Course Filsafat (ECF). Di sana, saya mengalami banyak pencerahan terutama dari paparan orang-orang yang mempunyai ethos tinggi seperti Bambang Sugiharto, Franz Magnis Suseno, dan Goenawan Mohamad. 

Ketiga, ini juga tidak kalah penting, adalah berbincang dengan bapak saya. Ia sepertinya senang dengan kegiatan filsafat yang saya lakoni sehingga mau meluangkan waktu berbincang panjang lebar segera setelah saya mulai mengungkapkan apa-apa yang baru diterima dari buku maupun kursus. Bapak berfungsi untuk menetralisir sehingga cara berpikir saya tidak menjadi terlalu ekstrim dan senantiasa berada di jalur tengah. Keempat, adalah aktivitas saya di Tobucil bersama Madrasah Falsafah Sophia dan Klab Filsafat Tobucil. Komunitas tersebut membuat saya mendapatkan perspektif baru karena filsafat ternyata menjadi hal yang lain sekali ketika didiskusikan secara melingkar. Ada dorongan untuk tidak lagi berkutat pada filsafat sebagai sebuah idealisme rasio, melainkan menjadikannya sebagai falsafah atau panduan menuju hidup yang baik dan benar. 

Tanpa meremehkan keempat sumber belajar saya yang lain, saya akan menceritakan lebih tentang sumber nomor lima. Sumber ini berasal dari pertemuan dengan Rosihan Fahmi di suatu malam. Menurutnya, ia ingin mengajak saya untuk membuka kelas filsafat untuk umum -berbeda dengan Madrasah Falsafah Sophia dan Klab Filsafat Tobucil yang berbentuk melingkar, kelas filsafat berarti ada pemisahan antara guru dan murid yang tegas-. Tidak lupa ia mengatakan bahwa ada nama Bambang Q-Anees (nama yang sering saya dengar) juga turut serta dalam kelas ini. Saya mengiyakan saja karena sepertinya saya hanya menjadi guru cadangan (tentu saja nomor tiga setelah Kang B-Q dan Kang Ami -demikian saya memanggilnya-) sehingga beban akan lebih banyak diserahkan pada dua orang tersebut. 

Namun ketika kelas berjalan, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Pada delapan pertemuan yang bertemakan tentang filsafat Yunani, baik Kang B-Q maupun Kang Ami, keduanya hanya hadir di pertemuan pertama dan terakhir. Enam pertemuan di tengahnya, mereka tak pernah menunjukkan batang hidung, bahkan tidak bisa dikontak sama sekali. Walhasil, saya mengajar sendiri sambil gelisah dan cemas, takut tidak mampu menaklukkan diri sendiri dan juga tidak mampu menaklukkan peserta -yang jumlahnya, kalau tidak salah, empat orang-. Entah bagaimana hasilnya, namun akhirnya saya mampu melewatinya. Kang B-Q dan Kang Ami datang di akhir kelas dengan mata seolah berkata, "Rasain kau!"

Di akhir pertemuan tersebut, saya bertanya dengan penasaran mengapa Kang B-Q tidak pernah hadir? Ia menjawab dengan cara yang aneh sekali, yaitu lewat cerita semacam ini: Suatu hari, ada seorang pemuda yang memasuki hutan sangat gelap. Di tengah hutan tersebut, ia berpapasan dengan dua orang yaitu kakek tua dan bocah cilik saling bergandengan. Pemuda tersebut membiarkan keduanya berlalu sambil bertanya pada Tuhan, "Ya Tuhan, mengapa Engkau biarkan kedua orang tersebut saling bergandengan di tengah hutan yang berbahaya ini?" Tuhan lalu segera menyahut dengan keras, "Kan ada kamu!"

Jawaban sufistik semacam itu tentu saja tidak memuaskan saya pada mulanya. Namun lama kelamaan, saya merasa bahwa cara mereka menjerumuskan itulah yang membuat saya hingga sekarang tetap jatuh cinta secara konsisten pada filsafat. Tidak hanya itu, saya juga punya keberanian untuk berbagi tentang apa yang saya pikirkan pada orang lain baik dalam forum resmi maupun tidak resmi. Itu semua diawali dengan belajar dari mengajar. Tidak sekadar mengajar yang dipersiapkan, saya ternyata diajari tentang bagaimana mengajar yang tidak dipersiapkan. Atas semua itu, saya mengucap terima kasih pada Kang B-Q dan Kang Ami. 


Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip