Skip to main content

Tong Sampah

Entah mulai kapan aturan ini, tapi dalam sepakbola, membuka kaos setelah mencetak gol dapat dihukum kartu kuning. Juga dalam sepakbola, pemain tidak boleh lanjut menendang bola jika wasit meniup peluit tanda permainan mesti distop. Ingat kejadian heboh pada bulan Maret 2011 antara Arsenal lawan Barcelona? Robin van Persie menerima kartu kuning kedua karena tetap menyepak bola meski wasit telah meniup peluit tanda offside . Demikian halnya dalam basket, sebuah tim dapat dihukum technical foul jika protes berlebihan atau bereaksi lebay dengan misalnya membanting bola. Apa poinnya?  Kita tentu tidak ingin olahraga hanya sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kita sekaligus ingin melihat emosi di dalamnya. Kita, sebagai penonton, turut menikmati sorak kegembiraan saat pemain mencetak gol, juga sekaligus menikmati kesedihan orang yang gagal mengeksekusi penalti. Itu sebabnya kamera pada tayangan olahraga seperti sepakbola, basket, tenis, badminton, atau voli, beberapa dian

Pejalan (5)

 

Kemampuan berimajinasi membuat kita mampu membayangkan tempat manapun tanpa harus pernah benar-benar ke sana. Kita bisa membayangkan berada di puncak gunung, berpindah sejauh ribuan kilometer, hingga mengkonstruksi dalam pikiran: suatu tempat di masa lalu atau masa yang akan datang. Imajinasi membuat manusia bisa jauh mengembara melampaui dirinya. Meski usia seseorang katakanlah, hingga sampai tujuh puluhan tahun, imajinasi bisa membuat siapapun mampu merenungkan waktu-waktu yang lebih panjang dari masa hidupnya, bahkan bisa sampai jutaan kali lipat. Imajinasi bahkan bisa sampai pada merenungkan: keabadian. 

Pengetahuan adalah modal lain yang kita punya. Melalui pengetahuan, kita bisa menguasai suatu perkara dan mencari jalan keluar tentangnya. Mirip dengan imajinasi, pengetahuan juga bisa berupa sesuatu yang tak perlu kita alami langsung. Pengetahuan tentang hukum, misalnya, tidak mensyaratkan kita mesti menjalani proses hukum. Pengetahuan tentang suatu penyakit bukan artinya kita mesti menderita suatu penyakit juga. Pengetahuan berkenaan dengan geografi tidak mengharuskan kita untuk berkunjung ke banyak wilayah di muka bumi. Imajinasi dan pengetahuan keduanya membantu manusia melampaui dirinya, yang serba terbatas karena ketubuhannya. 

Saat menjadi pejalan, saya sadar imajinasi tak lagi seberapa penting. Saya tak mampu membayangkan apa yang bisa saya lakukan saat tiba di B2, P1, dan P2. Bahkan perjalanan ke sana pun tak sanggup saya pikirkan. Saya hanya menetapkan niat, mencoba bergerak dengan membayangkan tujuan secara samar-samar, lalu sisanya tiba-tiba saya sudah di titik ini, titik itu, dan titik-titik lain yang tak dipikirkan sama sekali sebelumnya. Tatkala tidur di ruangan musik saat di P1, saya tidak membayangkan sama sekali akan tidur di ruangan itu. Pun saat saya sedang tidur di ruangan itu, saya berusaha keras tidak melemparkan imajinasi saya ke tempat tidur lain. Semua itu tidak diperlukan. Sang pejalan tak perlu buru-buru melampaui apa yang sedang dialaminya. 

Saat berjumpa Guru di P2, saya ternyata juga tak memerlukan pengetahuan-pengetahuan yang telah saya pelajari. Kepasrahan dan ketaatan kadang tak mensyaratkan pengetahuan. Pengetahuan mungkin tetap dibawa-bawa, tapi disimpan saja di bagasi, tak perlu dikeluarkan, dipamerkan, apalagi digunakan. Pengetahuan bisa menjadi selubung yang menghalangi penghayatan si pejalan terhadap apa yang sedang dialaminya. Tidak segala sesuatu harus dipertanyakan, dibedah, atau dianalisis asal muasal, alasan-alasan, supaya dapat suatu justifikasi, pembenaran, sebelum diputuskan untuk dijalani. Begitulah lemahnya pengetahuan, seringkali kita punya kemampuan yang tampak jernih tentang suatu persoalan, baik dan buruknya, tetapi ujung-ujungnya tetap saja tidak diselami. Semua hanya berada dalam pikiran saja. 

Pengetahuan tentu penting, teori-teori itu bermanfaat juga, tetapi pijakan seorang pejalan mestinya lebih dari itu. Pejalan tunduk secara penuh pada apa yang sedang terjadi di hadapannya, dalam perjalanannya. Ia pasrah sepenuhnya karena pengetahuan tak lagi mampu dipercaya sebagai penerang paling utama. Mungkin saya punya segudang pengetahuan untuk menjelaskan mengapa saya bisa berada di kabupaten P2 meski saya hanya punya uang lima belas ribu pada mulanya. Namun penjelasan-penjelasan berbasis pengetahuan malah akan mengecilkan pengalaman itu sendiri. Pun tak ada pengetahuan yang memadai untuk menjelaskan mengapa saya tiba-tiba berada di kota B2 bersama orang-orang yang tak saya kenal. Saya tak perlu justifikasi pikiran, karena yang membuat saya pergi hanyalah karena saya tak tahu lagi harus berbuat apa, hidup tiba-tiba kehilangan segala rencana, dan yang saya niatkan hanyalah berjalan, tanpa menjejali kepala ini dengan segala bentuk prasangka. 

Pejalan kemudian memahami, bahwa yang dilakukan manusia seyogianya adalah terus berjalan. Boleh sesekali kita menoleh ke belakang, untuk mendapati bahwa satu per satu persoalan kita telah terlewati. Terlewati tanpa harus menggunakan perangkat bernama pengetahuan. Terlewati begitu saja, karena kita terus berjalan hingga melewatinya. Pejalan kemudian memahami, bahwa yang dilakukan manusia seyogianya adalah terus berjalan. Hingga sampai ke sebuah tempat yang bahkan sebelumnya tak sanggup kita bayangkan melalui imajinasi.

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Gin

GIN Gingin Gumilang pernah menjadi mahasiswa di kelas waktu saya masih mengajar di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Saya lupa tahun berapa itu, mungkin sekitar tahun 2010 atau 2011. Gin, begitu dipanggilnya, duduk di pojokan, orangnya pendiam, tetapi saya tahu di kepalanya menyimpan banyak pemikiran. Suatu hari, saya mengumumkan di kelas bahwa akan ada konser gitar klasik di IFI Bandung dan tentu saja, saya hanya berbasa-basi saja, tidak berharap kalau mereka, yang umumnya kost di Jatinangor, akan datang ke Bandung hanya untuk menonton gitar klasik. Ternyata ada satu orang yang datang ke IFI, ya Gin itulah. Sejak itu saya terkesan. Rupanya wawasannya juga luas. Saya ingat ia tiba-tiba membicarakan Freud di kelas, di tengah mahasiswa-mahasiswa yang yah, duduk di sana hanya berharap bisa lulus saja, tanpa peduli ilmu apa yang didapat. Saya kemudian terpikir, rasanya tepat kalau Gin diajak bergaul lebih luas, keluar dari "sangkar" yang membuat

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me