Pages

Egoisme dan Altruisme dalam Seni Rupa

(Hasil diskusi dengan Dwihandono Ahmad yang dituliskan sebagai suplemen kelas Egoisme dan Altruisme dalam Seni Rupa yang diselenggarakan oleh NuArt Sculpture Park bersama Rakarsa Foundation, Sabtu, 25 September 2021)

 

Egoisme dan Altruisme

Egoisme dan altruisme merupakan konsep yang sering dipertentangkan dalam koridor etika normatif. Sebelum masuk ke dalam pembahasan berkenaan dengan egoisme dan altruisme, penting kiranya untuk mengulas tentang apa itu etika normatif. Etika normatif ini adalah cabang pembahasan dari etika atau filsafat moral. Selain etika normatif, ada juga meta-etika dan etika terapan. Masing-masingnya dapat dijelaskan dalam uraian singkat berikut ini:

  1. Meta-etika adalah cabang kajian etika yang membahas terkait hakikat dari kata “baik”, “wajib”, dan sebagainya. Dapat dikatakan bahwa meta-etika membahas suatu struktur di balik pembahasan mengenai etika. Contoh dalam pernyataan sehari-hari: “Kita terus-terusan membahas apa yang baik, tetapi kata ‘baik’ itu sendiri sebenarnya punya makna atau tidak?” Cakupan pembahasan meta-etika juga meliputi dasar-dasar rasional suatu sistem etika dan logis tidaknya suatu proses penyimpulan moral.

  2. Etika normatif adalah cabang kajian etika yang menentukan apa yang dipandang sebagai norma yang wajib diikuti oleh manusia untuk bertindak secara benar atau untuk menjadi manusia yang berkelakuan baik.

  3. Etika terapan adalah cabang kajian etika yang membahas apa yang harus dilakukan dalam suatu kasus yang spesifik. Misalnya, membahas terkait moral yang mesti dipertimbangkan dalam manipulasi gen, euthanasia hingga kasus pengambilan data dalam instalasi aplikasi daring.

Egoisme dan altruisme sering digolongkan ke dalam kategori besar etika normatif yaitu konsekuensilisme atau teleologis. Konsekuensilisme adalah cabang etika normatif yang menganggap bahwa nilai suatu tindakan diukur dari hasil atau konsekuensinya. Konsekuensilisme ini kerap dipertentangkan dengan etika deontologi, yang beranggapan bahwa nilai suatu tindakan adalah bernilai dalam dirinya sendiri (karena suatu kewajiban moral) dan tidak ada hubungannya dengan hasil atau konsekuensi.

Egoisme secara sederhana diartikan sebagai tindakan yang bernilai baik jika mengutamakan diri sendiri di atas orang lain. Altruisme, sebaliknya, diartikan sebagai tindakan yang bernilai baik jika mengutamakan orang lain di atas diri sendiri. Keduanya digolongkan kepada etika konsekuensilisme karena baik egoisme ataupun altruisme, keduanya sangat mempertimbangkan hasil akhir, entah itu kaitannya dengan diri sendiri ataupun orang lain.

Dalam pembahasan kali ini, egoisme akan dibagi ke dalam dua macam yaitu egoisme psikologis dan egoisme etis. Jabarannya adalah sebagai berikut: 

Egoisme psikologis

Egoisme psikologis pada pokoknya berpendapat bahwa kodrat manusia dalam kenyataannya secara psikologis cenderung memilih tindakan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri. Menurut paham ini, apa yang disebut sebagai sikap altruis hanyalah mitos belaka. Kalau dalam praktik kehidupan sehari-hari tampaknya terjadi, hal itu memang hanya tampaknya saja demikian. Sebab apabila orang mau meneliti apa motivasi sesungguhnya yang mendorong tindakan itu, jelas bahwa tindakan altruis itu tidak lain hanyalah bentuk terselubung dari cinta diri (Sudarminta, 2013: 95).

Egoisme etis

Egoisme etis adalah paham etika normatif yang menyatakan bahwa setiap orang wajib memilih tindakan yang paling menguntungkan dirinya sendiri. Dengan kata lain, menurut paham ini, tindakan yang baik dan dengan demikian wajib diambil adalah tindakan yang menguntungkan diri sendiri. Paham ini juga tidak bermaksud menganjurkan untuk mencari nikmat pribadi sepuas-puasnya, seperti hedonisme. Dalam banyak hal egoisme etis justru melarang pencarian nikmat pribadi karena hal itu dalam jangka panjang justru tidak menguntungkan. Hal yang dianjurkan dalam egoisme etis adalah setiap orang melakukan apa yang sesungguhnya dalam jangka panjang akan menguntungkan bagi dirinya (Sudarminta, 2013: 101).

Egoisme etis tidak setuju dengan altruisme karena etika altruis memandang hidup masing-masing individu sebagai suatu yang bila perlu mesti direlakan untuk dikorbankan bagi orang lain. Maka itu, etika altruis justru tidak mengganggap serius nilai hidup masing-masing individu manusia (Sudarminta, 2013: 101).

Sementara itu, altruisme, seperti sudah disinggung di atas, adalah paham yang mengedepankan kepentingan orang lain di atas diri sendiri. Meski agak sulit untuk mencari siapa yang pertama kali mengangkat istilah ini, tetapi banyak yang menyepakati bahwa altruisme adalah istilah yang dipopulerkan oleh pemikir Prancis, August Comte. Altruisme berasal dari kata dalam bahasa Itali yaitu “altrui” yang artinya “orang lain”.

Meski contohnya bisa diambil dari kehidupan sehari-hari, tetapi altruisme seringkali mengambil contoh ideal dari ajaran atau tokoh dalam agama-agama. Misalnya, sosok Yesus Kristus dianggap sebagai altruis sejati karena mengorbankan dirinya di tiang salib untuk menebus dosa umat manusia. Selain itu, dalam Islam juga terdapat konsep itsar yang dasarnya adalah ayat dalam Al-Qur’an berikut ini:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Altruisme umumnya terbagi ke dalam beberapa jenis misalnya altruisme genetis atau mengorbankan diri sendiri demi kepentingan orang-orang yang sedarah seperti keluarga atau saudara; altruisme resiprokal atau mengorbankan diri sendiri agar suatu saat dapat mendapat pertolongan entah secara langsung maupun tidak langsung; altruisme kelompok atau mengorbankan diri demi suatu kelompok tertentu yang dirinya sendiri itu menjadi bagiannya dan altruisme murni yang contoh-contohnya bisa diambil salah satunya dari agama-agama. Perlu diakui bahwa dalam beberapa contoh altruisme tersebut, memang ada yang sangat bernuansa egoisme seperti contohnya altruisme resiprokal. 

Egoisme dan Altruisme dalam Seni Rupa 

Sikap egoisme dan altruisme tentu mendasari tindak tanduk setiap orang dan seringkali sukar untuk mengategorikan apakah sebuah tindakan itu sepenuhnya egois atau sepenuhnya altruis. Hal ini dapat dibaca juga dalam fenomena seni rupa, baik itu dari sisi seniman ataupun saat sudah mewujud menjadi karya. Pertanyaannya, apakah seniman mementingkan dirinya sendiri atau mementingkan orang lain saat menghasilkan sebuah karya? Atau, dalam bahasa yang lebih preskriptif: bagaimana seharusnya seniman dalam berkarya, apakah mementingkan diri sendiri atau mementingkan orang lain?

Dalam perspektif seni rupa modern, sikap individual seniman dianggap sebagai hal yang krusial dalam berkesenian. Seniman adalah sosok yang unik dan otentik, yang berimplikasi pada karya yang “satu-satunya”. Seni rupa modern sedikit banyak menolak anonimitas dan fabrikasi dalam berkarya, karena gelagat demikian lebih seperti budaya pop, yang menunjukkan identitas “seni rendah” yang dinikmati secara massal tanpa harus menimbulkan suatu refleksi atau pengalaman estetis yang mendalam. Seni rupa modern, berangkat dari prinsip “seni untuk seni” dan estetika yang tidak berkepentingan (disinterestedness), menganggap bahwa seni tidak seharusnya punya implikasi moral ataupun politis, melainkan dibuat hanya untuk kepentingan estetika itu sendiri.

Dalam arti tertentu, seni rupa modern ini lebih mengedepankan egoisme karena meski dampak dari karya itu sendiri cukup luas, tetapi dapat dibayangkan bahwa seniman ini saat berkarya, tidak terlalu memikirkan hal lain di luar karyanya. Seniman itu hanya memikirkan apakah ia akan menghasilkan karya yang indah atau tidak, terlepas dari karya tersebut berguna atau tidak bagi orang-orang di luarnya. Artinya, seniman, dalam hal ini, tampak murni bersikap estetis dan bisa jadi tidak punya pertimbangan etis. 

Dalam perkembangannya, sikap seni rupa modern, yang dianggap jatuh pada elitisme (karena hanya mementingkan diri sendiri atau kelompoknya) ini ditentang oleh sejumlah aliran. Misalnya, seni rupa beraliran realisme sosialis dari Uni Soviet (yang meski dalam kategori tertentu, tetap masuk ke dalam kelompok seni rupa modern) melihat bahwa jika seni tidak mempunyai tujuan politis dan tidak mempunyai guna, terutama dalam perjuangan dan revolusi, lalu untuk apa seni itu? Bukankah jadinya hanya untuk kesenangan orang-orang elit (baca: borjuis) saja? 

Menanggapi seni rupa modern yang berorientasi hanya pada estetika, realisme sosialis kemudian merumuskan manifesto yang kira-kira isinya menyebutkan bahwa seni harus bisa dimengerti oleh orang banyak, seni harus mempunyai posisi politik dan seni harus melayani tujuan-tujuan dari ideologi. Pada istilah “orang banyak” ini, seni seolah mengarah pada altruisme dibanding egoisme. 

Namun sikap realisme sosialis ini tidak bisa dikatakan sebuah sikap altruis. Bahkan di sisi lain malah bisa dikatakan mengandung unsur egoisme yang tidak sedikit karena ujung-ujungnya seni selalu diarahkan untuk kepentingan penguasa. Rakyat, pada titik tertentu, hanya dijadikan sarana saja. Pada akhirnya, timbul pertanyaan: apakah seni ini, agar mempunyai dampak serius pada orang lain, harus terjun ke masyarakat dan membuat perubahan konkret?

Nicolas Bourriaud kemudian menawarkan estetika relasional yang intinya mengritik gagasan seni yang mengisolasi diri di ruang mandiri atau privat. Bagi Bourriaud, seni mesti berangkat dari totalitas relasi manusia dan konteks sosial. Apakah tawaran Bourriaud ini semacam dorongan preskriptif bahwa seni harus bersikap altruis? Praktik estetika relasional, yang salah satunya mewujud dalam estetika partisipatoris, menempatkan seniman tidak lagi di posisi kreator saja melainkan juga sebagai fasilitator. Dapat dikatakan, ia memfasilitasi karya seni yang dikreasi oleh warga dan hasilnya tersebut harus mempunyai fungsi memecahkan masalah yang ada di sekitar warga itu sendiri. Pada titik ini, ego sang seniman mestinya ditempatkan di bawah, karena ia hanya menjadi katalisator bagi proses kesenian yang dari warga dan untuk warga. Boleh kita katakan bahwa pada konteks estetika partisipatoris, seniman bersikap altruis ketimbang egois.

Namun apakah benar-benar kita berhenti sampai di sana, setelah “berhasil” menempatkan ego sang seniman di bawah kesadarannya untuk lebih mementingkan orang lain? Sebaliknya, bagaimana dengan seniman yang masih memikirkan ego pribadinya di atas kepentingan orang lain, apakah ia benar-benar tidak memberikan dampak serius bagi masyarakat? Ini adalah tegangan yang tidak terlalu mudah untuk diurai. Pertama, belum tentu seniman yang menjalankan praktik estetika partisipatoris dengan sendirinya melakukan sikap altruis karena bisa jadi ia juga terjatuh ke dalam tindakan mengobjektivitasi warga, meski tidak sevulgar realisme sosialis. Kedua, belum tentu juga seniman yang hanya memikirkan estetika saja dalam ruang yang disebut Bourriaud sebagai mandiri dan privat, itu benar-benar tidak berguna bagi masyarakat.

Terkait poin kedua, seniman yang berorientasi estetik semata, karya-karyanya mungkin tampak terisolasi, tetapi belum tentu dalam dirinya sendiri, sebagai seorang individu, ia tidak mempunyai sikap etis. Bisa jadi malah bagi dirinya, tidak penting lagi memisah-misahkan sikap estetis dan sikap etis, serta karya seni estetis dan karya seni etis. Tentu saja ini bukan semacam pembelaan bagi kredo “seni untuk seni”, tetapi untuk lebih adil melihat seniman yang hanya fokus pada kekaryaan tanpa langsung memvonisnya sebagai “hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain apalagi isu sosial”. 

Seniman semacam itu mungkin peduli pada isu sosial, tetapi ia tidak melakukan bergerak layaknya seorang aktivis sosial. Ia berjuang dengan setia pada dimensi estetika, seperti ibu yang fokus mengurusi keluarganya, tidak peduli pada urusan di luar sana, tetapi pada si ibu tersebut kita bisa membayangkan suatu maksim universal: seandainya semua ibu adalah seperti si ibu tersebut, mengurusi keluarganya masing-masing dengan penuh cinta, tentu kehidupan akan lebih baik. Ilustrasi yang bernuansa etika Kantian tersebut bisa diterapkan pada “tugas” seorang seniman: jika setiap seniman menjalankan tanggung jawabnya pada urusan estetika (dan aktivis sosial menjalankan tanggung jawabnya pada urusan perubahan sosial) maka mungkin saja kehidupan akan lebih baik (dengan perannya masing-masing).

Artinya, sikap “egoistik” seniman menjadi penting karena pada akhirnya ia hanya fokus pada apa yang seharusnya ia lakukan sebagai usaha menghayati perannya dalam masyarakat. Sikap altruis mungkin saja malah membuat posisinya tumpang tindih dengan aktivisme sosial, yang jatuhnya malah tidak punya pertimbangan estetik sama sekali (jadi, apa artinya menjadi seniman?).

Namun ada masalah lainnya, yaitu pengandaian bahwa adanya peran-peran tersendiri tersebut, menunjukkan bahwa seniman adalah semacam profesi atau pekerjaan. Bagaimana jika kita melihat konsep “seniman”dalam spektrum lebih luas seperti halnya seorang “filsuf”? Tidakkah baik seniman maupun filsuf menjadi bukan sebentuk pekerjaan, melainkan lebih jauh daripada itu, bertanggung jawab menangkap ekspresi zaman dan sebisa-bisanya mengejawantahkan dalam bentuk “bahasa” (bisa berupa bahasa visual, bahasa bunyi, ataupun bahasa dalam arti proposisi)? 

Artinya, ada prasyarat untuk merumuskan sejauh mana definisi seniman itu sendiri, apakah didefinisikan dalam lingkup profesional atau sebuah posisi etis. Berangkat dari sana, barulah ruang lingkup tindakan egoisme ataupun altruisme menjadi lebih mudah untuk dibaca, atau, untuk apa dibaca?

Syarif Maulana

No comments:

Post a Comment

Instagram