Skip to main content

Tong Sampah

Entah mulai kapan aturan ini, tapi dalam sepakbola, membuka kaos setelah mencetak gol dapat dihukum kartu kuning. Juga dalam sepakbola, pemain tidak boleh lanjut menendang bola jika wasit meniup peluit tanda permainan mesti distop. Ingat kejadian heboh pada bulan Maret 2011 antara Arsenal lawan Barcelona? Robin van Persie menerima kartu kuning kedua karena tetap menyepak bola meski wasit telah meniup peluit tanda offside . Demikian halnya dalam basket, sebuah tim dapat dihukum technical foul jika protes berlebihan atau bereaksi lebay dengan misalnya membanting bola. Apa poinnya?  Kita tentu tidak ingin olahraga hanya sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kita sekaligus ingin melihat emosi di dalamnya. Kita, sebagai penonton, turut menikmati sorak kegembiraan saat pemain mencetak gol, juga sekaligus menikmati kesedihan orang yang gagal mengeksekusi penalti. Itu sebabnya kamera pada tayangan olahraga seperti sepakbola, basket, tenis, badminton, atau voli, beberapa dian

Repetisi Dinamis


Renungan tentang sejarah kelihatannya adalah hal yang paling intens saya lakukan. Memang saya pernah memikirkan sesuatu yang kurang lebih mirip seperti Hegel (walaupun tentu tidak serumit beliau), bahwa sejarah mengarah pada sesuatu yang "lebih baik", "lebih cerah", "lebih maju", sehingga implikasi dari pemikiran semacam itu adalah bahwa sekarang lebih baik dari dulu, masa datang lebih baik dari sekarang. Namun di sisi lain, bahwa ada benarnya, bahwa sejarah tidak ke mana-mana. Apa yang pernah terjadi saat ini, mungkin pernah terjadi juga pada seribu tahun lalu, dengan situasi yang kurang lebih mirip, tetapi cuma "latar"-nya saja yang berbeda. Buktinya, dengan membaca literatur dari masa lampau, kita mendapat semacam panduan untuk menghadapi situasi di masa sekarang. Argumentasi semacam itu juga yang dipegang oleh kaum pendidik dari aliran perenialisme: cukup mempelajari buku-buku babon, maka nilai-nilai di dalamnya dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dari berbagai masa. Di dalam ajaran tersebut terkandung suatu asumsi, bahwa tidak banyak hal-hal yang berubah dalam sejarah, jika tidak bisa dikatakan tetap. Pembacaan kita atas Robinson Crusoe, Oliver Twist, karya-karya Dostoevsky, atau teks kuno Yunani seperti Iliad dan Odyssey, dibayangkan dapat diterapkan bahkan di era digital seperti sekarang ini. 

Tentu saja kita sekaligus dapat mengatakan: bahwa ada yang berubah, ada juga yang tetap. Kegelisahan kita atas tegangan antara kuasa Tuhan dan kenyataan hidup kurang lebih dapat terjelaskan dalam The Brothers Karamazov-nya Dostoevsky, tentang pengawasan otoritas dalam segala lini kurang lebih telah diperkirakan oleh 1984-nya George Orwell, hal yang bisa dikatakan selalu relevan karena hubungannya dengan keimanan dan konsep negara sebagai pengawas. Sejarah mencatat bagaimana peperangan, pembantaian, rasisme, diskriminasi budaya selalu terjadi, dan kita tidak bisa katakan bahwa semuanya itu telah terhapuskan di masa sekarang. Semuanya kerap muncul di berbagai belahan dunia, meski dengan "ekspresi" yang berbeda-beda. Sebagaimanapun kita belajar dari sejarah supaya perang tidak terulang, misalnya, dengan menghadirkan film-film tentang kekejaman perang, toh perang tetap terjadi. Dengan kenyataan bahwa masalah yang sama terus berulang, maka cara mengatasinya pun diasumsikan sama. 

Namun di sisi lain, ada juga yang benar-benar berubah, berbeda sama sekali dari yang sudah-sudah. Sebagai contoh, kemunculan fenomena woke culture yang membuat banyak orang tersadarkan untuk rajin bersuara tentang masalah keadilan, kesetaraan, dan diskriminasi. Kita bisa membayangkan bahwa usaha-usaha semacam itu tentu selalu terjadi dari masa ke masa, tetapi rasanya baru di masa sekarang, gerakannya begitu masif, dan setidaknya bisa terlihat dari intensitas kemunculannya di media sosial. Jika dipandang dari kacamata Hegel, benar bahwa sejarah mengarah pada kebebasan, dan kebebasan tersebut kian tampak: kebebasan untuk menjadi setara, kebebasan untuk melawan beraneka bentuk diskriminasi, kebebasan untuk melawan segala sesuatu yang bertentangan dengan prinsip keadilan. Kondisi semacam ini tidak bisa dibayangkan terdapat kemunduran: apa yang sudah bebas, tidak bisa begitu saja dikekang; apa yang sudah terbuka, tidak bisa begitu saja ditutup. Dalam hal ini, rasanya kita tidak bisa mencari penjelasannya dari literatur, atau catatan sejarah yang sudah-sudah, karena ini merupakan fenomena yang baru terjadi di masa kontemporer. Hal yang kita bisa lakukan adalah mencari penjelasan dari tempat dan waktu kita sendiri. 

Jadi, bagaimana? Sejarah itu adalah pengulangan atau kerap mengarah pada kebaruan? Kita bisa mengatakan, bahwa sejarah tidak berada pada salah satu kutub secara ekstrem. Gerak sejarah kerap mengandaikan ada yang terulang, tapi ada juga yang benar-benar baru. Pertempuran ideologi kanan dan kiri pernah menjadi wacana besar abad ke-20, tetapi hari ini tidak bisa dikatakan masih berlangsung kecuali dalam spektrum dan varian yang kompleks dan tidak sedikotomis abad yang lalu. Hal demikian telah berubah, tetapi ada yang tetap: perdebatan tentang keadilan, sifat mendasar manusia terkait kepentingan diri, hakikat masyarakat, dan sebagainya. Cara pandang manusia tentang ruang dan waktu turut berubah seiring dengan maraknya teknologi internet dan digitalisasi, tetapi ada yang tetap: bahwa secara eksistensi, manusia senantiasa berada di dalam ruang dan waktu itu, menjalani penantiannya terhadap kematian sebagai akhir dari ruang dan waktu internalnya. 

Iya bahwa "anak-anak sekarang", katakanlah Gen-Z, menjalani hidup yang berbeda dengan generasi baby boomers. Makna kesuksesan, optimisme, menjadi sangat lain seturut dengan semangat zaman yang juga berbeda. Bagi baby boomers, perjuangan pasca perang kemerdekaan masih terasa, generasi mereka dituntut untuk lebih keras memasuki jalur akses yang masih terbatas. Saat ini, kehidupan Gen-Z sudah setengah abad lebih berlalu dari perang kemerdekaan. Aset-aset sudah dimiliki oleh baby boomers sehingga apa yang mereka bisa raih sebagai aset tetap menjadi berkurang. Perbedaannya, jalur akses mereka kelihatannya menjadi lebih luas salah satunya akibat kesempatan yang dibuka oleh teknologi internet dan digitalisasi. Baby boomers kelihatannya agak tertatih-tatih untuk mempelajari teknologi baru tersebut sehingga terjadilah jurang yang lumayan serius antar kedua generasi ini. Meski demikian, ada hal yang tidak berubah: kedua generasi yang berbeda ini sama-sama memperjuangkan kesempatan dan kepemilikan tertentu, meski dalam arena pertempuran yang berbeda. 

Dengan demikian, untuk sementara, saya lebih senang menyebut bahwa sejarah memang melakukan repetisi, tetapi pada setiap repetisi itu, ada yang sama dan ada yang berbeda. Kita katakan sesuatu itu sebagai repetisi, karena ada yang sama di dalamnya. Tetapi antara repetisi dan hal pertama yang diulanginya, tentu berbeda, setidaknya: yang satu adalah repetisi, yang satu lagi bukan. Namun dalam hal ini, diandaikan bahwa setiap repetisi tidaklah berlangsung secara identik, melainkan punya perbedaan dari yang sebelumnya. Perjuangan baby boomers direpetisi oleh Gen-Z, tetapi repetisi itu berlangsung dinamis, tidak identik. Sekali lagi, ada yang sama-nya, ada yang beda-nya. Kelihatannya Deleuze berkata hal yang kurang lebih sama. Ia menolak pola sejarah Hegelian yang terlalu yakin bahwa tesis dan antitesis akan melahirkan sintesis, dan seluruhnya bergerak dalam bentuk yang seolah-olah seperti garis lurus. Hegel berasumsi bahwa ujung sejarah adalah pencerahan paripurna. Saya agak skeptik dengan proyek pencerahan ini, meskipun "bukti" woke culture adalah salah satu yang bisa dipegang. Dalam pemikiran saya, woke culture tetap sudah ada dari sebelumnya, tetapi diamplifikasi oleh teknologi hari ini, sehingga terasa lebih masif dan "ribut". Perjuangannya direpetisi, tetapi cara menyebarkannya menjadi lebih dinamis. Begitulah.

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Gin

GIN Gingin Gumilang pernah menjadi mahasiswa di kelas waktu saya masih mengajar di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Saya lupa tahun berapa itu, mungkin sekitar tahun 2010 atau 2011. Gin, begitu dipanggilnya, duduk di pojokan, orangnya pendiam, tetapi saya tahu di kepalanya menyimpan banyak pemikiran. Suatu hari, saya mengumumkan di kelas bahwa akan ada konser gitar klasik di IFI Bandung dan tentu saja, saya hanya berbasa-basi saja, tidak berharap kalau mereka, yang umumnya kost di Jatinangor, akan datang ke Bandung hanya untuk menonton gitar klasik. Ternyata ada satu orang yang datang ke IFI, ya Gin itulah. Sejak itu saya terkesan. Rupanya wawasannya juga luas. Saya ingat ia tiba-tiba membicarakan Freud di kelas, di tengah mahasiswa-mahasiswa yang yah, duduk di sana hanya berharap bisa lulus saja, tanpa peduli ilmu apa yang didapat. Saya kemudian terpikir, rasanya tepat kalau Gin diajak bergaul lebih luas, keluar dari "sangkar" yang membuat

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me