Skip to main content

Tong Sampah

Entah mulai kapan aturan ini, tapi dalam sepakbola, membuka kaos setelah mencetak gol dapat dihukum kartu kuning. Juga dalam sepakbola, pemain tidak boleh lanjut menendang bola jika wasit meniup peluit tanda permainan mesti distop. Ingat kejadian heboh pada bulan Maret 2011 antara Arsenal lawan Barcelona? Robin van Persie menerima kartu kuning kedua karena tetap menyepak bola meski wasit telah meniup peluit tanda offside . Demikian halnya dalam basket, sebuah tim dapat dihukum technical foul jika protes berlebihan atau bereaksi lebay dengan misalnya membanting bola. Apa poinnya?  Kita tentu tidak ingin olahraga hanya sekadar mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kita sekaligus ingin melihat emosi di dalamnya. Kita, sebagai penonton, turut menikmati sorak kegembiraan saat pemain mencetak gol, juga sekaligus menikmati kesedihan orang yang gagal mengeksekusi penalti. Itu sebabnya kamera pada tayangan olahraga seperti sepakbola, basket, tenis, badminton, atau voli, beberapa dian

Tentang Sistem


Entah berapa tahun silam, saya pernah ngobrol dengan teman saya, lulusan psikologi, yang memutuskan untuk bekerja sebagai Satpol PP. Tanpa saya menanyakan, ia langsung merasa harus menjelaskan pilihannya tersebut, "Saya melamar pada pekerjaan ini supaya jatah orang yang tadinya kurang kompeten, diberikan pada saya, lulusan S1 yang mungkin lebih kompeten." Maklum, imej Satpol PP selama ini, sependek yang saya tahu, lekat dengan penertiban yang tidak jarang berujung pada kekerasan. Wajah Satpol PP adalah wajah yang ditakuti oleh para pedagang dan pencari nafkah yang melapak di tempat yang katanya tidak boleh. Satpol PP akan mengejar mereka yang nakal, mengangkut gerobak dagangannya, dan memastikan lokasi itu tetap steril. Cita-cita teman saya ini mungkin mulia, supaya Satpol PP lebih baik, lebih lunak, lebih "beradab", lewat pengaruh ilmu psikologi dari seorang lulusan yang rajin. 

Saya tidak punya penelitian atau pengamatan serius tentang Satpol PP. Saya juga tidak bertanya kabar lagi dengan teman saya itu. Tapi katakanlah saya menyimpulkan seperti ini: bahwa tidak ada perubahan serius yang terjadi pada Satpol PP, meski teman saya berada di dalamnya. Teman saya itu memang, setahu saya, "bukan siapa-siapa" di institusi tersebut. Mungkin ia setingkat lebih tinggi dari staf biasa, tetapi tidak dapat juga dikatakan "atasan". Meski ia "mengambil jatah" dari orang yang katanya tidak kompeten, itu tidak berarti bahwa ia sendiri bisa merombak sistem dalam Satpol PP. Masalahnya adalah teman saya itu berada pada sebuah sistem, sistem yang dibuat sedemikian rupa supaya individu tidak sedemikian menonjol kecuali terkait kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan oleh sistem tersebut. 

Sebagai contoh, seseorang melamar menjadi pelayan di restoran. Ia sebenarnya bisa musik, suka sastra, dan jago sepakbola. Namun kemampuan-kemampuannya yang terakhir ini tidak akan dipandang karena yang diperlukan adalah kecekatannya sebagai pelayan, kemampuannya dalam beramah tamah, dan sebagainya. Mungkin kemampuan musiknya akan menopang ia dalam hal tertentu, misalnya, membuat dirinya lebih santai dalam melayani karena selalu sambil menikmati musik di sekitarnya. Selain itu, ia juga dapat memberi masukan terkait musik yang diputar. Sepakbolanya mungkin penting, tetapi lebih pada urusan menjaga fisiknya saat menjadi pelayan. Intinya, bakat dan kemampuan seseorang menjadi diperlukan selama ada hubungannya dengan sistem, supaya menunjang sistem. 

Teman saya itu punya keilmuan psikologi. Saya yakin ilmunya ini digunakan, tetapi untuk kepentingan sistem, untuk membenarkan sistem. Mungkin ia diajak rapat, diminta pertimbangan keilmuannya untuk misalnya, membuat orang-orang yang digusur ini langsung merasa terintimidasi dan pergi sendiri sebelum diusir oleh para petugas. Saya agak ragu jika ilmu psikologinya tersebut digunakan untuk misalnya, melunakkan hati atasannya sendiri supaya tindakan gusur menggusur tidak perlu dilakukan, dan yang lebih ditekankan adalah dialog untuk mencari solusi bersama. Mengapa? Sederhana saja: atasannya tersebut lebih berkuasa, dan ia adalah orang yang menggaji teman saya itu. Mungkin setiap teman saya hendak melontarkan kritik tajam atau berusaha melakukan perombakan, sistem selalu mengingatkan: dia di sini karena butuh uang, bukan untuk bertindak macam-macam mengubah apa yang telah mapan. 

Pada akhirnya, yang terjadi adalah "selemah-lemahnya iman": yang penting sudah berusaha, yang penting sudah sempat mengingatkan, yang penting tetap berkarya sebisa-bisa. Hal yang lebih bahaya, ia jatuh ke dalam ilusi bahwa ia benar-benar telah berkarya, benar-benar telah berguna, padahal apa yang telah dihasilkannya sudah direduksi untuk kebaikan sistem. Ini adalah gelembung yang mengkhawatirkan: ia yang berada di dalam sistem merasa sudah berbuat yang terbaik untuk orang luar (melalui sistem tersebut), tapi bisa jadi orang yang berada di luar, melihat ia tidak berbuat apa-apa (di dalam gelembung sistem tersebut). 

Namun saya juga tidak menampik bahwa orang-di-dalam-sistem tidak melulu tak berdaya. Ia bisa melakukan persuasi, memberikan usulan dengan hati-hati, atau bekerja keras supaya jadi atasan dan merombak semuanya. Dalam hal tertentu, perbaikan itu mungkin. Namun pasti akan sangat terjal jalannya karena suatu sistem, biasanya juga terhubung dengan sistem lain yang lebih besar. Usaha-usaha perombakan adalah usaha-usaha super heroik yang mengandalkan keimanan Kantian untuk taat pada prinsip yang dianggapnya benar (yang ia yakini juga benar secara universal). Orang-orang dengan mental semacam itu kemungkinan besar dijegal sejak awal. Jadi, apakah kita harus selalu berharap agar ada individu yang maha-Kantian untuk bisa mengubah sistem, atau bersikap selamanya membenci sistem, dan menganggap sistem adalah produk gagal umat manusia yang bertentangan dengan usaha mengawetkan keunikan individu?

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Gin

GIN Gingin Gumilang pernah menjadi mahasiswa di kelas waktu saya masih mengajar di Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Saya lupa tahun berapa itu, mungkin sekitar tahun 2010 atau 2011. Gin, begitu dipanggilnya, duduk di pojokan, orangnya pendiam, tetapi saya tahu di kepalanya menyimpan banyak pemikiran. Suatu hari, saya mengumumkan di kelas bahwa akan ada konser gitar klasik di IFI Bandung dan tentu saja, saya hanya berbasa-basi saja, tidak berharap kalau mereka, yang umumnya kost di Jatinangor, akan datang ke Bandung hanya untuk menonton gitar klasik. Ternyata ada satu orang yang datang ke IFI, ya Gin itulah. Sejak itu saya terkesan. Rupanya wawasannya juga luas. Saya ingat ia tiba-tiba membicarakan Freud di kelas, di tengah mahasiswa-mahasiswa yang yah, duduk di sana hanya berharap bisa lulus saja, tanpa peduli ilmu apa yang didapat. Saya kemudian terpikir, rasanya tepat kalau Gin diajak bergaul lebih luas, keluar dari "sangkar" yang membuat

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me