Skip to main content

Psychologismus-Streit dan Asal-Usul Perpecahan Aliran Kontinental dan Analitik dalam Filsafat

  Di akhir abad ke-19, diawali dari usaha pemisahan psikologi dari filsafat, muncul istilah Psychologismus-Streit atau "perselisihan psikologisme". Apa itu psikologisme? Psikologisme adalah pandangan bahwa segala konsep/ gagasan dalam filsafat (batasan pengetahuan, sistem logika, dan lain-lain) dapat ditarik penjelasannya pada pengalaman mental atau proses psikologis (Vrahimis, 2013: 9). Posisi psikologi yang kian mantap dengan penelitian empiriknya membuat filsafat mesti mendefinisikan kembali tugas dan posisinya: jika segala problem filsafat bisa direduksi pada aspek mental, masih adakah sesuatu yang disebut sebagai filsafat "murni"?  Menariknya, perselisihan ini tidak hanya di ranah perdebatan intelektual, tapi juga terbawa-bawa hingga ke ranah politik. Pada tahun 1913, 107 filsuf, beberapa diantaranya adalah Edmund Husserl, Paul Natorp, Heinrich Rickert, Wilhelm Windelband, Alois Riehl, dan Rudolf Eucken menandatangani petisi yang menuntut menteri kebudayaan Jer

Lokasi Kebahagiaan

 

Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness. Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness, lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri. 

Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga memiliki toilet, dapur, dan tempat tidur. Expedition Happiness secara umum berisi tentang lika-liku perjalanan ketiganya, mulai dari mencari kendaraan yang tepat, upaya memodifikasinya supaya nyaman, masalah izin masuk di perbatasan, masalah di kendaraan, pertemuan demi pertemuan dengan warga lokal, hingga tentu saja, pemandangan indah dari setiap tempat-tempat yang dikunjungi. 

Mereka memaknai bahwa hidup dari momen ke momen ini adalah kebahagiaan seperti yang dikatakan oleh Felix:

"We don't have a routine ... No appointments, just living the life, living the moment. This is a happiness for sure.

Tema-tema semacam ini, yang secara umum berisi tentang kebahagiaan yang dicari melalui eskapisme dari kehidupan sehari-hari, memang memancing saya untuk nyinyir. Dulunya saya pikir keren, orang-orang seperti Christopher McCandless ini, yang mengekspresikan kebebasan secara ekstrem dengan cara soliter di alam liar. Namun sejak membaca Walden-nya Thoreau (yang menjadi inspirasi juga bagi McCandless), saya merasa kegiatan semacam itu justru elitis: pergi dari masalah sehari-hari, dengan perbekalan yang memadai, untuk kemudian mengutuki kehidupan masyarakat sebagai bukan kebahagiaan sejati. Hal yang dimaksud sebagai kebahagiaan justru adalah kebahagiaan semata-mata miliknya sendiri, yang dicapai dengan cara kabur dari masalah "sebenarnya". Mereka bukannya berupaya mengubah "dunia", melainkan memilih cabut dari "dunia". Crates, seorang sinis, menyatakan bahwa mereka yang memandang dunia dengan begitu hina, lupa bahwa dirinya juga adalah bagian dari dunia itu. 

Demikian halnya saat saya menonton perjalanan Mogli, Felix, dan Rudi. Mereka sebenarnya hanya mengadopsi kenyamanan hidup bermukim untuk kemudian diterapkan pada perjalanan jauhnya: toilet, dapur, kasur yang nyaman, listrik, air bersih, dan sebagainya. Kepedulian pasangan tersebut pada kesehatan Rudi yang menurun sepanjang perjalanan memang menyentuh, tapi kita bisa juga nyinyir pada hal ini: punya cukup uang dan waktu luang untuk memberikan perhatian besar pada hewan peliharaan adalah sesuatu yang mewah. Singkatnya, seperti halnya Thoreau, mereka hanyalah orang kaya yang sedang menciptakan kesulitan sendiri ... 

Namun saya akhirnya menyadari bahwa saya nyinyir pada mereka juga dari balik kenyamanan duduk depan laptop sambil berlangganan Netflix. Saya menjadikan nyinyir semacam itu sebagai sumber kebahagiaan saya sendiri juga. Bahkan diam-diam saya mengambil ponsel lalu WA istri yang sedang di luar, "Kalau punya banyak uang, kita keliling dunia yuk, road trip gitu." Istri saya cuma merespons iya-iya saja, sambil tahu bahwa saya pasti tidak kuat, mikirin bagaimana nanti pup nya, mikirin bagaimana nanti kalau susah makan, atau stres jika bertemu hewan liar. Iya benar, saya tidak benar-benar mau bepergian semacam itu, kecuali jika naik pesawat yang oke, tidur di hotel yang oke, dengan makanan terjamin dan tuan rumah yang siap sedia untuk direpotkan. 

Mungkin saya kurang avonturir, atau mungkin saya sudah puas dengan lokasi kebahagiaan tempat saya bermukim sekarang: nyinyir kehidupan orang lain yang ada pada layar di hadapan ...

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1