Skip to main content

Kepemilikan (2)

    Agak rumit juga ternyata menyatakan hal apa yang benar-benar menjadi milik kita. Locke di abad ke-17 menyatakan bahwa sesuatu dinyatakan sebagai milik pribadi dengan mengacu pada hasil kerja. Saya bekerja mendapatkan uang, uang tersebut saya belikan laptop, maka laptop itu menjadi milik saya. Selain itu, sesuatu menjadi dikatakan milik saya jika laptop tersebut dibeli atas hasil kerja orang lain, lalu diberikan pada saya secara sah (bukan hasil mencuri).  Problemnya tidak selesai sampai di situ. Jika memang hasil kerja menjadi acuan kepemilikan, bukankah yang mengerjakan laptop tersebut juga adalah sekaligus para buruh? Jika buruh yang mengerjakannya, mengapa bukan mereka saja yang memiliki laptop tersebut? Ironisnya, buruh-buruh yang mengerjakan laptop tersebut bisa jadi malah tidak mampu membelinya.  Meski menyisakan masalah hingga berabad-abad, sumbangsih Locke tetap penting untuk menemukan justifikasi kepemilikan pribadi. Tadinya, konsep tersebut tidak jelas karena segala kepem

Lebaran

Lebaran adalah momen menghitung. Menghitung uang untuk jadi perbekalan, menghitung jumlah makanan, menghitung sanak saudara yang harus dikunjungi, menghitung durasi perjalanan mudik, serta menghitung siapa yang masih tinggal dan siapa yang telah pergi. Lebaran punya nilai religius, tentu saja, sebagai suatu ujung dari perjuangan sebulan penuh dalam menahan hawa nafsu di bulan Ramadhan. Meskipun soal hawa nafsu ini kadang dikekang sementara saja, semacam formalitas, yang membenarkan kita untuk melakukan "kompensasi" dalam bentuk konsumerisme gila-gilaan. Kapitalisme "memberi jalan" bagi orang-orang yang kesulitan untuk mengartikan konsep fitrah, agar diwujudkan dalam bentuk-bentuk barang atau momen yang merepresentasikan hal itu, yang membuat konsep fitrah menjadi "tampak", misalnya: baju baru, hidangan yang berbeda dari hari-hari biasanya, atau halal bi halal dengan menyewa ruang pertemuan atau restoran. Lagi-lagi, lebaran adalah soal menghitung. 

Bagi toko-toko atau pedagang, lebaran juga adalah kesempatan untuk mengkalkulasikan: apakah akan tetap buka, atau ikut arus mainstream untuk tutup toko/ dagangan dan bahkan ikut mudik. Toko atau pedagang yang tetap beroperasi memiliki suatu perhitungan tersendiri, bahwa lebaran tak sepenuhnya membuat kota menjadi mati. Ada kumpul-kumpul keluarga, yang kadang bosan dengan hidangan ketupat dan opor, untuk mencari variasi dalam pecel lele atau masakan padang. Kumpul-kumpul keluarga juga perlu snack, perlu air mineral, gelas plastik, garpu plastik, yang semuanya lebih dimungkinkan jika Indo atau Alfa tetap buka. Dengan demikian, lebaran juga adalah momen mencari kesempatan dalam persaingan yang sedang "lengah" akibat dorongan religius dan kultural yang menyebabkan sebagian besar orang kemudian memutuskan untuk rehat dari berbisnis. 

Ngomong-ngomong rehat, lebaran adalah sekaligus momen perhentian, tempat kita dengan sejenak merenungkan siapa yang masih tinggal dan siapa yang telah pergi. Lebaran dulu masih ada si ini si itu, lebaran sekarang bareng si ini si itu, dan kita semua mengenali: ada saudara "baru", ada yang telah tiada, atau ada yang sekadar alpa. Kita mengidentifikasi siapa yang masih berada dalam lingkaran dan siapa yang telah keluar darinya. Mengacu pada ikatan sosial yang serba dinamis ini, lebaran sekaligus momen penerimaan, bahwa oke si ini masih ada, si itu sudah tiada, semacam pengesahan atas dinamika tersebut. Maka itu pasca lebaran, mungkin ada yang dinamakan fitrah itu: kembali pada kesadaran tentang siapa yang masih bersama kita. Di hari-hari biasa, perasaan tersebut dikaburkan oleh rutinitas, kesibukan, dan godaan untuk menekannya lewat pelbagai kesenangan. Dalam lebaran, kita terpaksa menyadarinya secara penuh, karena segala kesibukan sementara ditinggalkan, bahwa memang yang telah tiada telah tiada, dan yang datang adalah datang. Fitrah adalah penerimaan tentang yang tak abadi. Yang datang dan pergi.

Comments

Popular posts from this blog

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip