Skip to main content

Bertemu Euro Lagi

Ini adalah pertemuan saya dengan Piala Eropa kesekian setelah pertama kali menontonnya tahun 1996. Sejak Euro '96 di Inggris hingga Euro edisi kali ini di Jerman, saya tak pernah putus mendukung Itali. Seperti halnya keputusan siapapun dalam memilih tim sepakbola kesayangannya (di luar tim dari kota kelahiran atau tempat tinggal), alasannya seringkali tidak rasional, nyaris seperti jatuh cinta untuk pertama kali. Saya suka Itali karena suka saja. Padahal di Euro '96 itu, Itali gagal lolos dari fase grup setelah mendapat hasil imbang dengan Jerman. Saya menonton langsung di televisi momen Gianfranco Zola gagal mengeksekusi penalti. Padahal penalti tersebut, jika gol, bisa saja membuat Itali melenggang ke perempat final. Itali tersingkir, tetapi saya memilih untuk mendukung Itali. Padahal bisa saja saya mendukung Jerman, tim yang menjadi juara Euro '96 pada akhirnya. Tapi ternyata tidak, entah kenapa.  Banyak pemain yang saya tidak tahu di timnas Itali tahun ini. Selain meman

Bali is (Not) for Sale: Ramai-Ramai Mendirikan Villa di Tanah Dwi Sri

Bali is (Not) for Sale, Ramai-Ramai Mendirikan Villa di Tanah Dwi Sri

(Tulisan kuratorial untuk pameran fotografi virtual Barmen Simatupang) 

Pada kesempatan kali ini, kurator memulainya proses kurasi dengan mewawancarai fotografer. Alasannya, untuk lebih fokus dan detail terhadap apa yang menjadi latar belakang dan keinginan fotografer itu sendiri terkait pameran ini. Berikut adalah petikan wawancaranya: 

Kurator (K):    Boleh diceritakan sedikit terkait latar belakang Bung Barmen ada di Bali untuk melakukan kegiatan foto ini? Apakah inisiatif pribadi atau ada hal lainnya? 

Fotografer (F):  Itu adalah foto-foto tahun 2015 dan saya berada di sana dalam kaitannya dengan lokakarya foto jurnalistik di Ubud. Penyelenggaranya adalah Foundry Photojournalism. Lokakarya dilakukan selama tujuh hari, tetapi sebelum Lokakarya dimulai saya sudah tiba di Bali dua minggu sebelumnya. Saya menggunakan waktu yang ada untuk mengumpulkan informasi, mencari narasumber, memperhatikan lokasi untuk mengembangkan frame-frame yang mau saya buat, dan tentunya juga membuat daftar foto yang mau saya kerjakan. Mungkin kurang lebih efektif memotret itu sekitar dua mingguan lah, termasuk saat lokakarya berlangsung hingga selesai. Instruktur yang mendampingi saya waktu itu adalah seorang fotografer dari National Geographic, John Stanmeyer. 

K: Bagaimana ceritanya lalu bisa memilih untuk memotret objek-objek ini? Apakah memang lokakaryanya diarahkan ke sana? 

F: Untuk tema sebenarnya apa saja, selama masih dalam ruang lingkup photojournalism. Kemudian saya memilih tema yang berkaitan dengan masyarakat adat di Bali. Hal yang menarik perhatian adalah tentang peralihan lahan sawah menjadi Hotel, Villa, Rumah Makan, atau Pertokoan. 

K: Apa tanggapan Stanmeyer dengan ide Bung Barmen? 

F: Awalnya dia kaget dan mempertanyakan, “Apa yang menarik dengan tema ini?” Lalu saya jelaskan bahwa hal ini akan menjadi masalah serius suatu saat nanti, ketika masyarakat mulai enggan meneruskan usaha taninya, banyak di antara mereka mulai punya kecenderungan untuk menyewakan sawahnya pada investor. Para investor ini kemudian akan mengalihfungsikan sawah menjadi berbagai bisnis seperti villa atau restoran. Bagi saya keadaan yang sedang berlangsung ini penting untuk diketahui banyak orang, dan penting juga untuk melihat respons dari masyarakat, baik dari masyarakat Bali itu sendiri atau di luar Bali. Saya rasa hal ini yang melatari proyek foto yang saya kerjakan waktu itu. 

K: Maksudnya disewakan bagaimana? 

F: Ya, mulai bermunculan investor yang berminat menyewa sawah-sawah ini selama tiga puluh tahun dengan harga sekitar dua miliar rupiah. Para pemilik sawah mulai tergiur dengan tawaran ini, terlebih lagi generasi sekarang sudah mulai kurang tertarik untuk mengelola sawah dan lebih memilih untuk menyerahkan garapannya pada petani lain yang dipekerjakan. Sehingga, menyewakannya menjadi pilihan cukup logis. K : Oke, lalu judul “Bali is not for Sale” untuk pameran ini berarti menunjukkan ketegasan posisi Bung Barmen ya bahwa jual menjual, atau sewa menyewa ini, kelihatannya berbahaya jika diteruskan? F : Kira-kira begitu. Di sana saya bertemu seorang seniman-aktivis bernama Gde Sayur yang sangat gencar menyuarakan isu ini. Sebagai anggota keluarga pengelola sawah, ia mempunyai dua petak sawah dengan luas tiga ribu meter persegi dan Gde Sayur sudah menegaskan: tidak akan pernah dijual. Apalagi di sebelah sawahnya Gde Sayur, sudah dibangun restoran dan villa, yang tentu saja lambat laun akan merusak ekosistem. Saking kesalnya akan tawaran yang terus berdatangan, ia sampai mendirikan suatu instalasi dari bambu setinggi delapan meter bertuliskan “Not for Sale”. Foto-foto dan juga pameran ini adalah sekaligus penghargaan atas aktivisme Gde Sayur. 

K: Tentu aktivisme Gde Sayur ini membuat investor kurang nyaman ya. Namun adakah penolakan dari internal masyarakat tani itu sendiri? 

F: Ada, tentu ada. Beberapa dari mereka menganggap Gde Sayur terlalu berlebihan, kurang kompromistik, dan sebaliknya, malah ada anggapan bahwa Gde Sayur membuat aktifitas yang agak mengganggu ketenangan dengan beberapa kali membuat konser musik di atas sawah serta mengundang sejumlah artis. 

K: Jadi, bagaimana sebenarnya pengaruh gerakan Gde Sayur ini? 

F: Ya, memang tidak bisa dikatakan telah menjadi suatu gerakan yang masif, terlebih lagi isunya pernah ditelan oleh reklamasi. Namun saya tetap menghargai apa yang dilakukan Gde Sayur ini sebagai langkah penting dalam menjaga tradisi masyarakat adat di Bali. Bagaimanapun, Sawah ini bukan sekadar lahan hijau yang fungsional saja, tetapi lebih daripada itu, punya nilai ritual yang tinggi. 

K: Lalu, mereka-mereka yang sudah memutuskan untuk menyewakan sawahnya, apa yang terjadi selanjutnya? 

F: Ya, selain transaksi material tentunya, ada semacam ritual yang mesti dilewati. Mereka yang memutuskan menyewakan sawahnya, mesti melakukan permohonan maaf terhadap Dewi Sri dengan mengembalikan “Perwujudan Dewi Sri” yang mereka simpan di dalam lumbung padi mereka ke Pura Air atau Subak. Lalu kepala Subak akan mengadakan ritual permohonan maaf bagi orang tersebut. Biasanya akan dipersembahkan kurban sembelihan seperti seekor ayam dalam ritual ini. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mereka tidak bisa mengelola lahan sesuai yang diamanatkan. 

K: Apa yang membuat Bung Barmen merasa tersentuh dengan keadaan ini? 

F: Ya, uang dua miliar rupiah itu kelihatannya besar ya, karena didapat dalam waktu singkat. Namun para investor tersebut bisa mendapatkan keuntungan berlipat-lipat. Saat sawah ini dikembalikan tiga puluh tahun kemudian, meski beserta asetnya, apakah kondisinya masih sama atau sudah jauh mengalami penurunan? Bagaimana dengan ekosistem lingkungan dan sistem pengairannya? Tidakkah memerlukan dana tidak sedikit untuk memulihkannya nanti? Belum lagi urusan immaterial seperti rusaknya nilai-nilai tradisi. 

Dari total 85 foto, kurator kemudian memilih 51 foto yang acuan utamanya adalah wawancara dengan fotografer. Kurator melihat pentingnya aspek sekuensial dalam menyusun urutan foto. Artinya, “pembabakan” menjadi penting dari mulai penggambaran suasana masyarakat adat di Ubud, kondisi tanah dan sawah di sana, bermunculannya villa dan restoran milik investor yang “ditabrakkan” dengan suasana sakral dari berbagai upacara, diakhiri dengan instalasi Gde Sayur bertuliskan “Not for Sale”. 

 

Comments

Popular posts from this blog

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip