Skip to main content

Lokasi Kebahagiaan

  Cari-cari film di Netflix, akhirnya jatuh pada Expedition Happiness . Dari posternya pun sudah agak-agak terbayang, bahwa film dokumenter ini kemungkinan mirip-mirip dengan Into the Wild (kisah petualangan menuju alam bebas, lepas dari rutinitas yang menjemukan). Ternyata meski punya kemiripan tema, Mogli dan Felix, pasangan yang melakukan perjalanan dalam Expedition Happiness , lebih santai dan masih mau bersosialisasi ketimbang Christopher McCandless dalam Into the Wild yang berupaya untuk jauh-jauh dari manusia. Expedition Happiness masih menunjukkan banyak sisi kemanusiaan dan juga kehewanan, sementara McCandless lebih menikmati hidup menyendiri.  Mogli dan Felix adalah pasangan asal Jerman. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Amerika Utara menuju Amerika Selatan, dimulai dari Kanada, Alaska, melewati beberapa negara di AS, Meksiko, dan rencananya hingga Argentina. Mereka berangkat bertiga bersama seekor anjing bernama Rudi menggunakan bis sekolah yang dimodifika

Rumah Masa Kecil

Beberapa hari yang lalu, saya pindahan dari apartemen ke rumah peninggalan orang tua. Keduanya telah wafat dan setelah melalui sejumlah perundingan, diputuskan bahwa istri dan saya meninggali rumah tersebut setidaknya hingga setahun ke depan. Setelah hampir lima tahun berpindah-pindah kostan dan apartemen, akhirnya kami tinggal di sebuah rumah, lengkap dengan pekarangan dan tetangga-tetangga. Tinggal di apartemen tentu ada tetangga, tapi tidak bisa dikatakan bahwa mereka itu benar-benar tetangga. Mereka hanya tinggal bersebelahan, itu saja. Sementara di rumah ini, ada banyak tetangga yang sudah mengenal keluarga kami sejak lama. Mau tidak mau, kami harus (belajar kembali untuk) menyapa, bersikap ramah, dan ngobrol ini itu tentang kehidupan sehari-hari. 

Sempat berbulan-bulan tidak ditinggali, saya kira rumah tersebut menjadi asing. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir memang saya hanya sesekali saja berkunjung. Ternyata tidak. Rumah tersebut langsung terasa akrab. Memori tinggal belasan tahun adalah kehangatan yang tak dapat dipungkiri. Bahkan setiap sudut rumah itu membangkitkan kenangan. Saya seperti melihat papap mondar mandir, menyirami tanaman di pekarangan, mengulik karya di garasi, dan duduk di meja makan. Saya seperti melihat mamah bersiap-siap pergi mengajar, menyiapkan makanan untuk papap, ikut sibuk mengurus acara di garasi, dan dimana-mana. Termasuk di mata para tetangga, hansip, dan pedagang yang lalu lalang. Mereka semua ingat mamah dan papap. Mengenangnya dengan cara yang baik. 

Rumah mungkin hanya sebongkah bangunan. Tembok-tembok pembatas dan atap. Namun di dalamnya ada orang yang pernah tinggal, beraktivitas, berelasi, menumpahkan emosi: marah dan cinta, serta membangun harapan. Saat orang yang pernah tinggal itu pergi, hal-hal semacam itu masih bertahan, terhubung dengan cara yang aneh. Yang bagi saya, kadang membuat keueung sekaligus menenangkan. Lebih mudah membayangkan mereka "hadir", menghantui setiap pojok ruangan, sehingga menetapi rumah itu menjadi punya nilai. Punya sentimen yang membuat galau sekaligus memberi kekuatan. 

Saya tinggal di sini sejak kalau tidak salah, kelas 4 atau 5 SD hingga menikah pertama kali tahun 2012. Entah berapa lama saya tinggal, mungkin kira-kira 17 atau 18 tahun. Di lantai atas ada perpustakaan yang dibangun papap. Di sana ada ratusan buku, mungkin sekitar lima ratus, dengan topik seputar seni, filsafat, dan agama. Sekarang buku-buku itu terbengkalai, terpikir untuk dibagi-bagikan, tetapi tunggu dulu, mungkin perpustakaan ini bisa dibuat agak serius, dibuka untuk publik suatu hari nanti. Garasi rumah, yang dulu sempat dinamai Garasi10 dan sempat ramai diadakan beraneka kegiatan selama lebih dari sepuluh tahun, juga bingung bagaimana caranya agar bisa diaktifkan kembali. 

Jebakan nostalgia mungkin membuat saya merasa harus untuk membangun kembali semua itu. Ada cita-cita papap dan mamah yang mesti dikawal, tapi di sisi lain, ada juga perasaan: kehidupan memang sudah berubah, apa yang pernah indah menghiasi kenangan, mungkin sebaiknya tetap tinggal dalam kenangan. Perpustakaan mungkin tak perlu dibangun kembali menjadi sesuatu, tetapi perpustakaan itu telah bertransformasi dalam diri saya menjadi semangat membaca yang terjaga hingga kini. Garasi10 dengan berat hati tak perlu dihidupkan lagi di rumah ini, tapi mungkin di tempat tinggal saya berikutnya. Disamping itu, Kelas Isolasi yang tengah saya bangun sekarang bersama kawan-kawan, adalah semacam "Garasi10 yang tengah dihidupkan", yang tak lagi terikat tempat, tapi tetap lestari dalam bentuk lain. 

Dalam perasaan sentimentil ini, saya tak pernah lupa kata-kata Pak Awal Uzhara, bahwa orang yang wafat tidak kemana-mana, mereka hidup dalam gelak tawa dan kesedihan kita. Juga bisa ditambahkan: mereka hidup dalam pikiran-pikiran dan cita-cita kita.

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1