Skip to main content

Kekalahan

Sedang ramai play-off NBA. Tim-tim saling menyingkirkan. Kekalahan tentu sesuatu yang tidak diinginkan oleh tim manapun, tetapi kita bisa bayangkan: kekalahan adalah sekaligus bentuk kelegaan. Para pemain dari tim yang kalah bisa pulang ke rumah lebih cepat dan menonton sisa musim sambil bersantai bersama keluarga. Mereka tak perlu lagi datang setiap hari ke tempat latihan dengan suasana tegang menghadapi pertandingan demi pertandingan. Para pemain bisa rileks dan bahkan bisa makan sesuka hati karena tak ada lagi pertandingan untuk dua sampai empat bulan mendatang.  Kekalahan adalah istilah yang mengacu pada permainan tertentu yang disepakati. Sebuah tim kalah main basket jika skornya berada di bawah tim lawan. Seseorang kalah dalam konteks sekolahan jika tidak lulus ujian atau menempati ranking terbawah. Partai manapun disebut kalah dalam kontestasi politik jika tidak meraih suara yang cukup untuk mengirimkan wakilnya ke parlemen. Kekalahan berlaku untuk suatu permainan, tetapi belum

Kesendirian

Meski aku sering kemana-mana sendiri, konsep kesendirian bukanlah hal yang akrab denganku. Maksudnya, dalam kesendirian, aku selalu terdistraksi, untuk nge-scroll Twitter, cari teman ngobrol di Whatsapp, atau apa sajalah yang penting jangan sampai jatuh pada kesunyian, jangan sampai sendiri banget. Tentu saja, seorang pengkaji filsafat harus punya waktu-waktu sendiri, untuk membaca teks secara intens, untuk berefleksi, aku butuh itu, tetapi sekali lagi, konsepnya bukan dalam kesendirian, tetapi lebih tepatnya: dalam sebuah lingkungan yang aku nyaman di dalamnya. Aku mesti membangun sekelilingku dulu, enjoy dengan itu, baru aku bisa menulis dan membaca dengan khidmat. 
 
Apa bedanya konsep semacam itu dengan kesendirian? Beda. Kesendirian adalah kenyamanan akan diri, dalam diri, tanpa perlu sibuk menyiapkan lingkungan eksternal. Kesendirian adalah buah dari pergulatan batin yang sibuk, untuk kemudian tak lagi menganggap lingkungan eksternal sebagai sesuatu yang krusial, karena kita, pada akhirnya, hanya punya diri kita, untuk dirangkul, untuk diajak bicara. Kesendirian bukan perkara ada teman atau tidak, kesendirian adalah perkara diri yang sunyi di tengah keriuhan, atau malah: diri yang riuh di tengah kesunyian. Yang pasti, kesendirian bukanlah apa yang selama ini kulakukan: kemana-mana sendiri, tapi tak pernah merasa nyaman, sehingga senantiasa memerlukan distraksi. 
 
Sebagai contoh, aku suka membaca berlama-lama, tapi pertama, tak pernah terus-terusan fokus pada bacaan tersebut, pasti perlu "gangguan" sebentar-sebentar. Kedua, aku baru sadar, tak sepenuhnya aku membaca demi kenikmatan membaca itu sendiri. Membaca palingan karena diundang jadi pembicara, atau perlu untuk menulis sesuatu, atau dipamerkan lewat Twitter/ X. Aku tak bisa menghayati membaca sebagai dialog sunyi dengan diri sendiri. Aku tidak tahu kenapa seperti itu, dan hal ini baru aku sadari belakangan-belakangan ini, kala hidup benar-benar sendiri, yang tak ada jalan lain kecuali menikmatinya. Menikmatinya ini bukan dengan cara mencari-cari hiburan atau kesibukan yang dibuat-buat, melainkan dengan cara menghayatinya, membuat diri menjadi nyaman. 
 
Selama ini, aku selalu takut akan kesendirian. Padahal kesendirian adalah fondasi eksistensi kita: lahir sendiri, mati sendiri. Bahkan sepanjang hidup pun, pada hakikatnya, kita sendirian. Meski di sekeliling ada banyak teman, keluarga, mahasiswa, atau pengikut media sosial, mereka tak akan benar-benar menyelamatkan kita jika kita tertimpa kesulitan. Iya mereka bisa saja membantu kita, tapi mereka akan memikirkan keselamatan dirinya dulu, mereka pun ada diri sendiri yang mesti dijaga, baru setelah itu, mereka akan mulai memikirkan orang lain (itupun sembari memikirkan apa untungnya orang lain tersebut bagi diri mereka). Jika memang hal demikian begitu alamiah dianut oleh setiap orang, kenapa kita tidak mendahulukan diri kita sendiri juga? 
 
Kesendirian juga adalah semacam momen-momen berbincang dengan apalah itu namanya Tuhan. Aku baru sadari, dalam kesendirian, kita lebih dekat dengan "hati", dan konon dalam "hati" itulah bersemayam sang ilahi. Tapi Tuhan sekaligus tahu, manusia takut sendiri, maka dibuatlah suruhan untuk berkumpul dalam sebuah jemaah, mengarahkan sesembahan pada sesuatu yang "di luar", supaya mudah bagi manusia, yang enggan menenggelamkan diri pada yang sunyi. Begitu baiknya Tuhan, sampai-sampai mengizinkan manusia untuk mencari Dia dalam keriuhan, padahal Dia juga ada dalam kesunyian. Dalam kesendirian, doa senantiasa kupanjatkan: Tuhan yang sunyi, tak perlu sering berkata-kata. Berilah aku pengertian. Berilah aku pengertian.

Comments

Popular posts from this blog

Metafisika

Entah benar atau tidak, tapi boleh kita percaya agar pembahasan ini menjadi menyenangkan: Istilah metafisika terjadi oleh sebab sesuatu yang tidak sengaja. Ketika Aristoteles sedang menyusun buku-bukunya di rak, asistennya meletakkan buku yang berisi tentang segala sesuatu yang di luar kenyataan seperti prinsip pertama dan pengertian tentang ada (being qua being) setelah buku bertitel 'Fisika'. Atas ketidaksengajaan itulah, buku tersebut dinamai 'Metafisika'. 'Metafisika' berarti sesudah 'Fisika', yang memang secara harfiah betul-betul buku yang ditempatkan setelah buku 'Fisika' di rak Aristoteles. Istilah tersebut jadi terus menerus dipakai untuk menyebut segala sesuatu tentang yang di luar atau di belakang dunia fisik. Agak sulit untuk menjelaskan secara presisi tentang apa itu metafisika (tentu saja metafisika dalam arti istilah yang berkembang melampaui rak buku Aristoteles), maka itu alangkah baiknya kita simak beberapa contoh upaya untuk me

Kelas Logika: Kerancuan Berpikir (Informal)

 Dalam keseharian kita, sering didapati sejumlah pernyataan yang seolah-olah benar, padahal rancu dan sesat. Kerancuan dan kesesatan tersebut disebabkan oleh macam-macam faktor, misalnya: penarikan kesimpulan yang terburu-buru, penggunaan kata yang bermakna ganda, penekanan kalimat yang tidak pada tempatnya, pengaruh orang banyak yang menyepakati sebuah pernyataan sebagai benar, dan lain sebagainya.    Dalam ranah ilmu logika, kerancuan dan kesesatan diistilahkan dengan fallacy (jamak: fallacies ). Fallacy ini amat banyak ragamnya, dan di tulisan ini akan disebutkan fallacy yang sifatnya informal. Formal fallacies adalah kerancuan yang dihasilkan dari kesalahan dalam aturan silogisme, penalaran, dan pengambilan keputusan. Sedangkan informal fallacies (atau disebut juga material fallacies ) adalah kerancuan yang dihasilkan dari kekeliruan memahami konsep-konsep yang lebih mendasar seperti terma, definisi, dan pembentukan premis itu sendiri.  1. Kerancuan dalam Berbahasa  1

Tentang Live Instagram Dua Belas Jam

  Hari Minggu, 24 Juli kemarin, saya live Instagram hampir dua belas jam. Untuk apa? Pertama, mengumpulkan donasi untuk Kelas Isolasi yang kelihatannya tidak bisa lagi menggunakan cara-cara yang biasa-biasa (karena hasilnya selalu kurang memadai). Kedua, iseng saja: ingin tahu, selama ini saya belajar dan mengajar filsafat itu sudah “sampai mana” jika diukur dengan menggunakan jam. Putusan untuk mengudara dua belas jam tersebut tidak melalui persiapan matang, melainkan muncul begitu saja dari dua hari sebelumnya. Oh iya, materi yang saya bawakan adalah berkenaan dengan sejarah filsafat Barat. Keputusan tersebut membuat saya agak menyesal karena mesti menghabiskan hari Jumat dan Sabtu untuk baca-baca secara intens. Seperti yang sudah saya duga, belajar filsafat memang aneh: semakin dibaca, semakin menganga lubang-lubangnya. Awalnya, saya berniat untuk khusus membaca bagian Abad Pertengahan saja karena merasa pengetahuan saya paling lemah di bagian itu. Setelah lumayan membaca tipis-tip